Redlicious Campaign
Photobucket
Contact Me

Me, mine & My Family
Inside My world

blognya kakak iparnya Yaya


Inspirations


Hi there :)
Name :
Web URL :
Message :
Previously
Aksara mengeja maaf
Mengais kenangan
Antara aku, indent, Lebaran dan keluarga
Kalau emang harus mundur
Jangan ngalah sebelum berjuang
DREAM BIG
Menembus "bulan sulit"
They're not my downlines, but..
Finding your own Nemo
Belahan jiwa
Archivess
August 2004
September 2004
October 2004
November 2004
December 2004
January 2005
February 2005
March 2005
April 2005
May 2005
June 2005
July 2005
August 2005
September 2005
October 2005
November 2005
December 2005
January 2006
February 2006
March 2006
April 2006
May 2006
June 2006
July 2006
August 2006
September 2006
October 2006
November 2006
December 2006
January 2007
February 2007
March 2007
April 2007
May 2007
June 2007
July 2007
August 2007
September 2007
October 2007
November 2007
December 2007
January 2008
February 2008
March 2008
April 2008
May 2008
July 2008
August 2008
September 2008
October 2008
November 2008
January 2009
February 2009
March 2009
May 2009
June 2009
July 2009
September 2009
October 2009
Awards
Menang lagi

juarafavorit

BF Girl

Happy B'day Indonesia

Aktivis Kopdar Blogfam '05

Fun Stuff
thank you :)
The Writers
Friends' Banners
Dhira dan Lia




Ebook Gratis
ebook-bisnisonline
Communities
banner150x26orange





banner angingmammiri
Siap bergabung?
click me
Thanks to
Free Blogger Templates

BLOGGER

 
Thursday, October 27, 2005
Menjadi Jilbaber
Menjadi seorang jilbaber.
Hidayah datangnya dari Allah, yang disampaikan lewat kakak perempuanku, Kak Nadia. Waktu itu kakak dikirim oleh kantornya untuk pergi Umroh dan ketika pulang dari Umroh, Yaya kaget banget...melihat Kak Nadia telah berjilbab dan merubah gaya berbusananya.

Subhanallaah.
Kakakku yang tadinya begitu "so into the fashion" dalam berpakaian, sekarang sudah berubah. Tadinya aku sempet protes juga, kenapa harus pakai jilbab.Tapi...jawaban yang aku mengerti baru aku dapat lama setelah itu.

5 tahun yang lalu, di Mesjid Bintaro Sektor 9


Bismillaahirrahmaanirraahiim..
Untuk pertama kalinya aku menutup kepalaku (InsyaAllah) sampai akhir hayatku.

Jawaban itu...
kata kakakku, sewaktu di Mekah dia pernah bertanya kepada seorang Kyai, "apa yang akan terjadi di hari akhir nanti bila seseorang berjilbab?"

Jawabnya..
"Bukan panasnya api neraka yang membuat seseorang takut tidak berjilbab, tapi indahnya Surga yang dijanjikan Allah.."

Ya Allah
sekarangpun, aku sudah merasakan nikmatnya berjilbab. Apalagi setelah kakak perempuanku yang lain dan mamaku ikut juga berjilbab.

Rasanya nikmat sekali..
saat berjalan bersama dengan keluargaku yang sama-sama jilbaber.

Lucunya..
setiap bertemu dengan teman baru, mereka pasti berkomentar "gak nyangka kamu ternyata berjilbab yaa.."

reflected by Nahria Medina Marzuki
4:06:00 PM
|
Bersyukur
Tak terasa Ramadhan sudah hampir berlalu, dan Alhamdulillaah tahun ini aku lebih banyak dimudahkan Allah untuk bersholat Tarawih di mesjid . Karena seringnya aku dan mamaku menghamparkan sajadah di mesjid, kita jadi lebih sering juga memperhatikan orang-orang di rumah Allah itu.

MasyaAllah, Allah itu memang Maha Kuasa ya, menciptakan manusia dengan bermacam-macam paras dan perilaku. Seperti 2 malam sebelumnya, ketika sajadahku bersebelahan dengan sajadah seorang wanita cantik. Bila dilihat dari bentuk caranya berbusana, wangi tubuhnya dan tasnya yang keren, aku dapat menebak kalau wanita ini yang sudah termasuk ibu-ibu adalah dari golongan "the haves." Aku sampai terkagum-kagum melihat ibu ini yang begitu total penampilannya untuk bertamu di rumah Allah.

Ngomong-ngomong soal "the haves" dan "the haves not," aku jadi ingat, seminggu yang lalu saat mengadakan Ifthor (buka puasa) bersama dengan teman-teman SMA di rumah aku. Ketika tiba saatnya kita saling bertukar nomor telepon, aku kembali terkesiap. Sebagian besar teman-teman saya mengeluarkan handphone mereka yang berjenis PDA. Saya sempat merasa minder melihat jenis handphone sendiri, hanya berjenis biasa.

Astagfirullaaah...
tidak semestinya aku merasa minder dengan apa yang aku punya.

Mungkin handphoneku bukan PDA
tapi Alhamdulillaah masih punya handphone untuk paling tidak kirim SMS ke kakak-kakakku

Mungkin aku bukan dari golongan "the yuppies" seperti teman-temanku
tapi Alhamdulillaah aku memiliki pekerjaan yang aku cintai dan aku merasa nyaman dengan pekerjaanku

Mungkin aku tidak buka puasa di restoran mewah
tapi Alhamdulillaah masakan mamaku jauh lebih enak dibanding restoran manapun juga

Melihat teman-temanku yang bisa dipastikan gajinya jutaan, aku masih mengucap Alhamdulillaah. Karena aku tahu, banyak dari mereka yang demi mengejar jutaan itu, tak dapat berbuka atau bersahur bersama keluarga mereka.

Dalam hidup ini, sering aku (mungkin kita) sekali bertanya "kok dia punya, saya enggak ya?" atau bahkan mencela penampilan sendiri, seperti aku waktu kecil dulu pernah berpikir.

"Bersyukur itu lebih terasa nikmat...dibanding mempertanyakan kekurangan yang kita miliki."

reflected by Nahria Medina Marzuki
5:00:00 AM
|
Wednesday, October 26, 2005
?
Kalau kamu tahu
yang aku rasakan
sekarang

Dalam hati ini

Sakit

reflected by Nahria Medina Marzuki
12:45:00 AM
|
Sunday, October 23, 2005
Riddikulus
Jejak-jejak kehidupan
datang

Mengisi kekosongan
diri ini

Apakah
semu?

Berusaha..

tidak cinta

padanya

reflected by Nahria Medina Marzuki
3:50:00 AM
|
Friday, October 21, 2005
Nan
Entah!

Tergerakkan apa aku

bukan aku
malam ini

hendak mengulang
tahun-tahun
yang lampau

menghadirkan dia
sekali lagi

Cerita sama
di tahun yang beda

Nan

di sini lagi

reflected by Nahria Medina Marzuki
10:56:00 PM
|
Thursday, October 20, 2005
Hari Akhir
Sudahkah kita siap
membiarkan tubuh kita
dibungkus
dalam sehelai kain kafan putih?

Sudahkah kita siap
untuk beristirahat selamanya
di dalam tanah?

Sudahkah kita siap
untuk sendiri

menghadapi Sang Khalik?

Apapun jawabnya, kita tidak akan pernah siap. Kematian pasti akan datang. Tidak peduli siapapun kita.

Apa kita berani menyodorkan gelar kita depan Allah? Atau kita sogok Allah dengan uang kita di bank?

Allah SWT tidak peduli semua itu.

Manusia..
SHOLAT
berbuat baiklah
hidup di jalan Allah
Karena itu semua akan kita, termasuk aku, bawa menghadap Ilahi. Aku tidak sempurna, hanya mencoba untuk mendapat tempat terdepan di surga yang Allah janjikan.

reflected by Nahria Medina Marzuki
9:20:00 PM
|
Semalam
Mari kubisiki
tentang semalam

Setelah kegilaan
reda

Setelah denting jam
tiba pada angka 12

Setelah akhirnya
aku luruh dalam dirimu

Semalam

begitu indah

reflected by Nahria Medina Marzuki
5:03:00 PM
|
Bersemayam cinta
Mari berkabung
untuk
cinta yang mati

Di sebuah hati
yang katanya
tak mudah rentan

hanya karena
satu

Di sini
bersemayam

CINTA

reflected by Nahria Medina Marzuki
4:00:00 PM
|
Wednesday, October 19, 2005
Labuhan lain
Once I questioned

why we've never had
a same heart

Maybe..

We're just two people
walking
in the same direction


Setelah aku berhenti
mencari kemungkinan


dan mengiringi hatiku untuk mengerti
meski dalam keraguan lain


..saatnya
kucari labuhan berikutnya

reflected by Nahria Medina Marzuki
9:25:00 PM
|
Rencana Allah
Akan datang hari
mulut dikunci...

Sepenggal lagu di atas selalu membuat saya merenung panjang.

Mungkin sudah saatnya kita mengkaji ulang semua perbuatan dan perkataan kita di bumi Allah ini. Apalagi di Bulan Yang Penuh Berkah sekarang ini. Seharusnya emang tidak saja hanya di bulan Ramadhan sich, kita berintrospeksi diri, di bulan-bulan lainnyapun bisa saja.

Mumpung masih dikasih nyawa dan dipinjami nafas sama Allah, kenapa tidak dipakai buat ngomong yang baik-baik dan melakukan hal-hal yang positif? Bukannya mau ngajarin lho, lah wong saya sendiri belum sempurna-sempurna amat.

"Something happens for a reason..."

Contoh hidup ya keluarga Yaya. Tahun 1994 kita (keluarga) harus pindah dengan cara yang..yah bisa dibilang kurang ngenakinlah, ke Jakarta. Back then, aku sempet protes' sama Allah. Sempat mempertanyakan Allah. Kenapa harus pindah? Kenapa papa gak kerja lagi? Kenapa rumah kita yang tadinya besar di Batam, waktu di Jakarta cuman sebuah rumah kontrakan? Kenapa aku harus naik mobil anter jemput, padahal di Batam punya mobil sendiri? Dan seribu pertanyaan lainnya.

Itu dulu.

Sekarang aku tau "reason" Allah...

Kalau dulu gak pindah ke Jakarta
mungkin...Yaya tidak jadi kuliah di UI.

Kalau dulu papa gak harus pindah kerja
mungkin aku masih seseorang yang gak tau cara bersosialisasi di masyarakat

Itu baru pembuktian awal sih. Sekarang banyak hikmah yang Yaya dan keluarga rasakan.

Satu hal yang pasti...
rahasia Allah itu pasti indah

..dan Yaya udah membuktikannya.

reflected by Nahria Medina Marzuki
4:08:00 PM
|
Sunday, October 16, 2005
Ctrl Delete
Salah. Hapus. Tekan tombol "Ctrl Delete". Sore ini, tumben, susah sekali aku merangkai kata untuk dituangkan menjadi sebuah tulisan.

Gagal nyari kalimat yang bagus untuk mulai nulis, aku mulai berangan-angan.

Enak ya...kalau hidup ada tombol Ctrl Del-nya. Begitu ada yang salah dalam hidupku, tekan saja tombol sakti itu. Beres. Begitu dihapus, tidak ada bekasnya lagi. Bisa mulai dari awal kembali. Gak akan ada yang tau kesalahan aku sebelumnya.

Hidupku akan sempurna sekali....

Apa iya?

Iya dong. Gak ada marah-marah, gak ada nangis-nangisan, gak ada dendam-dendaman, dan gak akan ada yang gak enak lainnya.

Benarkah?

Sebenarnya sih..
kalau ada tombol Ctrl Del dalam hidup, kita tidak akan pernah maju dalam hidup, tidak akan pernah bisa belajar dari kesalahan kita sendiri. Dan yang pastinya..kita akan selalu mengambil "jalan yang termudah." Istilahnya, ngapain harus macet-macetan kalau bisa lewat jalan tol?

Aku yakin
bukan itu maksud Allah meniupkan ruh untuk Adam dan Hawa. Adam dan Hawapun melakukan kesalahan, makan buah Khuldi sehingga Allah murka dan mengirim mereka ke bumi.

Aku yakin
walaupun tidak ada tombol Ctrl Delete, aku selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik di dunia yang hanya numpang lewat ini dan di akhirat.

Aku yakin
aku tidak perlu tombol sakti itu. Karena aku masih punya sesuatu yang lebih sakti lagi. Aku masih punya Allah SWT.

Aku yakin
Allah SWT masih mau dan akan menuntun jalanku, yang terkadang berkelok-kelok.

reflected by Nahria Medina Marzuki
5:18:00 PM
|
Tuesday, October 11, 2005
Kekuatan DOA
Pernah merasakan kekuatan sebuah DOA?

Malam ini aku merasakan doaku begitu didengar oleh Sang Khalik. Saat aku bersamanya.

Mungkin.. dia dan aku

tidak akan
menjadi kita

Mungkin.. dia dan aku

begitu dekatnya
untuk menjadi kita

Mungkin..dia dan aku

hanya akan
tetap menjadi
dia..dan..aku


Aku tidak tahu


Yang aku tahu..

malam ini dia hadir
saat aku merasakan sepi

Yang aku tahu

malam ini aku tetap dapat
menjadi aku seutuhnya

Yang aku tahu..

malam ini
aku bahagia

reflected by Nahria Medina Marzuki
9:36:00 PM
|
Saturday, October 08, 2005
"Akhir Perjalanan"
Dua bulan yang lalu
kesedihan sepertinya lebih tebal menyelimutiku
dibanding kegembiraan

Seolah dunia berubah warna
kelabu

Sebulan yang lalu
segala macam bentuk penyangkalan diri mulai terucap
membenarkan semua tindakanku
yang salah...
menyalahkan semua
yang menyakitkanku

Seminggu yang lalu
kemarahanku mengalahkan segalanya

Aku
begitu pekat

Kututupi diriku
dari dunia luar

Bahkan...kututup mata hatiku sendiri. Astagfirrullaah...

"Aku terombang-ambing dengan perasaanku sendiri."

Layaknya kapal yang kehilangan arah
aku akhirnya menepi

Membiarkan Ilahi
menuntun

jalan dan hatiku

reflected by Nahria Medina Marzuki
9:54:00 PM
|
Wednesday, October 05, 2005
Terbiaskan...jauh
Suatu renungan panjang meningalkan kesenyapan. Sel-sel kelabu pikiranku telah tertutupi oleh derasnya peristiwa, orang-orang yang keluar masuk kehidupanku.

Setiap dera yang tertinggal, gelak yang terdengar dan derai air yang mengalir dari pelupuk mata ini begitu terasa, seperti baru kemarin. Masih terasa. Suatu perkataan yang menghentak nafas jiwaku terucap, "Aku terlalu 'tampak'...".

Suatu ironi. Pada saat ingin kumelebur dengan kebisingan sekitar, aku ternilai adalah sebuah personifikasi orang lain.
Akupun terbiaskan. Jauh...

Lelah. Semua Lakuku dilihat, dinilai. Kejujuran semakin semu. Bahkan aku, apakah aku lagi memakai sebuah topeng bernama tegar?

Sebagian orang akan mencoba meluruhkan asaku. Hanya aku dan Ilahi yang dapat mempertahankannya.

Telah kuletakkan penaku. Tidak maaf. Bukan sesal. Hanya, ini mauku....

reflected by Nahria Medina Marzuki
2:41:00 PM
|