|
| |
|
Thursday, October 27, 2005 |
|
Menjadi Jilbaber
|
Menjadi seorang jilbaber. Hidayah datangnya dari Allah, yang disampaikan lewat kakak perempuanku, Kak Nadia. Waktu itu kakak dikirim oleh kantornya untuk pergi Umroh dan ketika pulang dari Umroh, Yaya kaget banget...melihat Kak Nadia telah berjilbab dan merubah gaya berbusananya. Subhanallaah. Kakakku yang tadinya begitu "so into the fashion" dalam berpakaian, sekarang sudah berubah. Tadinya aku sempet protes juga, kenapa harus pakai jilbab.Tapi...jawaban yang aku mengerti baru aku dapat lama setelah itu. 5 tahun yang lalu, di Mesjid Bintaro Sektor 9
Bismillaahirrahmaanirraahiim.. Untuk pertama kalinya aku menutup kepalaku (InsyaAllah) sampai akhir hayatku.
Jawaban itu... kata kakakku, sewaktu di Mekah dia pernah bertanya kepada seorang Kyai, "apa yang akan terjadi di hari akhir nanti bila seseorang berjilbab?"
Jawabnya.. "Bukan panasnya api neraka yang membuat seseorang takut tidak berjilbab, tapi indahnya Surga yang dijanjikan Allah.."
Ya Allah sekarangpun, aku sudah merasakan nikmatnya berjilbab. Apalagi setelah kakak perempuanku yang lain dan mamaku ikut juga berjilbab.
Rasanya nikmat sekali.. saat berjalan bersama dengan keluargaku yang sama-sama jilbaber.
Lucunya.. setiap bertemu dengan teman baru, mereka pasti berkomentar "gak nyangka kamu ternyata berjilbab yaa.."
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
4:06:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
Bersyukur
|
Tak terasa Ramadhan sudah hampir berlalu, dan Alhamdulillaah tahun ini aku lebih banyak dimudahkan Allah untuk bersholat Tarawih di mesjid . Karena seringnya aku dan mamaku menghamparkan sajadah di mesjid, kita jadi lebih sering juga memperhatikan orang-orang di rumah Allah itu.
MasyaAllah, Allah itu memang Maha Kuasa ya, menciptakan manusia dengan bermacam-macam paras dan perilaku. Seperti 2 malam sebelumnya, ketika sajadahku bersebelahan dengan sajadah seorang wanita cantik. Bila dilihat dari bentuk caranya berbusana, wangi tubuhnya dan tasnya yang keren, aku dapat menebak kalau wanita ini yang sudah termasuk ibu-ibu adalah dari golongan "the haves." Aku sampai terkagum-kagum melihat ibu ini yang begitu total penampilannya untuk bertamu di rumah Allah.
Ngomong-ngomong soal "the haves" dan "the haves not," aku jadi ingat, seminggu yang lalu saat mengadakan Ifthor (buka puasa) bersama dengan teman-teman SMA di rumah aku. Ketika tiba saatnya kita saling bertukar nomor telepon, aku kembali terkesiap. Sebagian besar teman-teman saya mengeluarkan handphone mereka yang berjenis PDA. Saya sempat merasa minder melihat jenis handphone sendiri, hanya berjenis biasa.
Astagfirullaaah... tidak semestinya aku merasa minder dengan apa yang aku punya.
Mungkin handphoneku bukan PDA tapi Alhamdulillaah masih punya handphone untuk paling tidak kirim SMS ke kakak-kakakku
Mungkin aku bukan dari golongan "the yuppies" seperti teman-temanku tapi Alhamdulillaah aku memiliki pekerjaan yang aku cintai dan aku merasa nyaman dengan pekerjaanku
Mungkin aku tidak buka puasa di restoran mewah tapi Alhamdulillaah masakan mamaku jauh lebih enak dibanding restoran manapun juga
Melihat teman-temanku yang bisa dipastikan gajinya jutaan, aku masih mengucap Alhamdulillaah. Karena aku tahu, banyak dari mereka yang demi mengejar jutaan itu, tak dapat berbuka atau bersahur bersama keluarga mereka.
Dalam hidup ini, sering aku (mungkin kita) sekali bertanya "kok dia punya, saya enggak ya?" atau bahkan mencela penampilan sendiri, seperti aku waktu kecil dulu pernah berpikir.
"Bersyukur itu lebih terasa nikmat...dibanding mempertanyakan kekurangan yang kita miliki." |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
5:00:00 AM
|
|
|
|
|
|
Wednesday, October 26, 2005 |
|
?
|
Kalau kamu tahu yang aku rasakan sekarang
Dalam hati ini
Sakit |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
12:45:00 AM
|
|
|
|
|
|
Sunday, October 23, 2005 |
|
Riddikulus
|
Jejak-jejak kehidupan datang
Mengisi kekosongan diri ini
Apakah semu?
Berusaha..
tidak cinta
padanya |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
3:50:00 AM
|
|
|
|
|
|
Friday, October 21, 2005 |
|
Nan
|
Entah!
Tergerakkan apa aku
bukan aku malam ini
hendak mengulang tahun-tahun yang lampau
menghadirkan dia sekali lagi
Cerita sama di tahun yang beda
Nan
di sini lagi |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
10:56:00 PM
|
|
|
|
|
|
Thursday, October 20, 2005 |
|
Hari Akhir
|
Sudahkah kita siap membiarkan tubuh kita dibungkus dalam sehelai kain kafan putih?
Sudahkah kita siap untuk beristirahat selamanya di dalam tanah?
Sudahkah kita siap untuk sendiri
menghadapi Sang Khalik?
Apapun jawabnya, kita tidak akan pernah siap. Kematian pasti akan datang. Tidak peduli siapapun kita.
Apa kita berani menyodorkan gelar kita depan Allah? Atau kita sogok Allah dengan uang kita di bank?
Allah SWT tidak peduli semua itu.
Manusia.. SHOLAT berbuat baiklah hidup di jalan Allah Karena itu semua akan kita, termasuk aku, bawa menghadap Ilahi. Aku tidak sempurna, hanya mencoba untuk mendapat tempat terdepan di surga yang Allah janjikan. |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:20:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
Semalam
|
Mari kubisiki tentang semalam
Setelah kegilaan reda
Setelah denting jam tiba pada angka 12
Setelah akhirnya aku luruh dalam dirimu
Semalam
begitu indah |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
5:03:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
Bersemayam cinta
|
Mari berkabung untuk cinta yang mati
Di sebuah hati yang katanya tak mudah rentan
hanya karena satu
Di sini bersemayam
CINTA |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
4:00:00 PM
|
|
|
|
|
|
Wednesday, October 19, 2005 |
|
Labuhan lain
|
Once I questioned
why we've never had a same heart
Maybe..
We're just two people walking in the same direction
Setelah aku berhenti mencari kemungkinan
dan mengiringi hatiku untuk mengerti meski dalam keraguan lain
..saatnya kucari labuhan berikutnya |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:25:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
Rencana Allah
|
Akan datang hari mulut dikunci...
Sepenggal lagu di atas selalu membuat saya merenung panjang.
Mungkin sudah saatnya kita mengkaji ulang semua perbuatan dan perkataan kita di bumi Allah ini. Apalagi di Bulan Yang Penuh Berkah sekarang ini. Seharusnya emang tidak saja hanya di bulan Ramadhan sich, kita berintrospeksi diri, di bulan-bulan lainnyapun bisa saja.
Mumpung masih dikasih nyawa dan dipinjami nafas sama Allah, kenapa tidak dipakai buat ngomong yang baik-baik dan melakukan hal-hal yang positif? Bukannya mau ngajarin lho, lah wong saya sendiri belum sempurna-sempurna amat.
"Something happens for a reason..."
Contoh hidup ya keluarga Yaya. Tahun 1994 kita (keluarga) harus pindah dengan cara yang..yah bisa dibilang kurang ngenakinlah, ke Jakarta. Back then, aku sempet protes' sama Allah. Sempat mempertanyakan Allah. Kenapa harus pindah? Kenapa papa gak kerja lagi? Kenapa rumah kita yang tadinya besar di Batam, waktu di Jakarta cuman sebuah rumah kontrakan? Kenapa aku harus naik mobil anter jemput, padahal di Batam punya mobil sendiri? Dan seribu pertanyaan lainnya.
Itu dulu.
Sekarang aku tau "reason" Allah...
Kalau dulu gak pindah ke Jakarta mungkin...Yaya tidak jadi kuliah di UI.
Kalau dulu papa gak harus pindah kerja mungkin aku masih seseorang yang gak tau cara bersosialisasi di masyarakat
Itu baru pembuktian awal sih. Sekarang banyak hikmah yang Yaya dan keluarga rasakan.
Satu hal yang pasti... rahasia Allah itu pasti indah
..dan Yaya udah membuktikannya. |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
4:08:00 PM
|
|
|
|
|
|
Sunday, October 16, 2005 |
|
Ctrl Delete
|
Salah. Hapus. Tekan tombol "Ctrl Delete". Sore ini, tumben, susah sekali aku merangkai kata untuk dituangkan menjadi sebuah tulisan.
Gagal nyari kalimat yang bagus untuk mulai nulis, aku mulai berangan-angan.
Enak ya...kalau hidup ada tombol Ctrl Del-nya. Begitu ada yang salah dalam hidupku, tekan saja tombol sakti itu. Beres. Begitu dihapus, tidak ada bekasnya lagi. Bisa mulai dari awal kembali. Gak akan ada yang tau kesalahan aku sebelumnya.
Hidupku akan sempurna sekali....
Apa iya?
Iya dong. Gak ada marah-marah, gak ada nangis-nangisan, gak ada dendam-dendaman, dan gak akan ada yang gak enak lainnya.
Benarkah?
Sebenarnya sih.. kalau ada tombol Ctrl Del dalam hidup, kita tidak akan pernah maju dalam hidup, tidak akan pernah bisa belajar dari kesalahan kita sendiri. Dan yang pastinya..kita akan selalu mengambil "jalan yang termudah." Istilahnya, ngapain harus macet-macetan kalau bisa lewat jalan tol?
Aku yakin bukan itu maksud Allah meniupkan ruh untuk Adam dan Hawa. Adam dan Hawapun melakukan kesalahan, makan buah Khuldi sehingga Allah murka dan mengirim mereka ke bumi.
Aku yakin walaupun tidak ada tombol Ctrl Delete, aku selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik di dunia yang hanya numpang lewat ini dan di akhirat.
Aku yakin aku tidak perlu tombol sakti itu. Karena aku masih punya sesuatu yang lebih sakti lagi. Aku masih punya Allah SWT.
Aku yakin Allah SWT masih mau dan akan menuntun jalanku, yang terkadang berkelok-kelok. |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
5:18:00 PM
|
|
|
|
|
|
Tuesday, October 11, 2005 |
|
Kekuatan DOA
|
Pernah merasakan kekuatan sebuah DOA?
Malam ini aku merasakan doaku begitu didengar oleh Sang Khalik. Saat aku bersamanya.
Mungkin.. dia dan aku
tidak akan menjadi kita
Mungkin.. dia dan aku
begitu dekatnya untuk menjadi kita
Mungkin..dia dan aku
hanya akan tetap menjadi dia..dan..aku
Aku tidak tahu
Yang aku tahu.. malam ini dia hadir saat aku merasakan sepi
Yang aku tahu
malam ini aku tetap dapat menjadi aku seutuhnya
Yang aku tahu..
malam ini aku bahagia
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:36:00 PM
|
|
|
|
|
|
Saturday, October 08, 2005 |
|
"Akhir Perjalanan"
|
Dua bulan yang lalu kesedihan sepertinya lebih tebal menyelimutiku dibanding kegembiraan
Seolah dunia berubah warna kelabu
Sebulan yang lalu segala macam bentuk penyangkalan diri mulai terucap membenarkan semua tindakanku yang salah... menyalahkan semua yang menyakitkanku
Seminggu yang lalu kemarahanku mengalahkan segalanya
Aku begitu pekat
Kututupi diriku dari dunia luar
Bahkan...kututup mata hatiku sendiri. Astagfirrullaah...
"Aku terombang-ambing dengan perasaanku sendiri."
Layaknya kapal yang kehilangan arah aku akhirnya menepi
Membiarkan Ilahi menuntun jalan dan hatiku
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:54:00 PM
|
|
|
|
|
|
Wednesday, October 05, 2005 |
|
Terbiaskan...jauh
|
Suatu renungan panjang meningalkan kesenyapan. Sel-sel kelabu pikiranku telah tertutupi oleh derasnya peristiwa, orang-orang yang keluar masuk kehidupanku.
Setiap dera yang tertinggal, gelak yang terdengar dan derai air yang mengalir dari pelupuk mata ini begitu terasa, seperti baru kemarin. Masih terasa. Suatu perkataan yang menghentak nafas jiwaku terucap, "Aku terlalu 'tampak'...".
Suatu ironi. Pada saat ingin kumelebur dengan kebisingan sekitar, aku ternilai adalah sebuah personifikasi orang lain. Akupun terbiaskan. Jauh...
Lelah. Semua Lakuku dilihat, dinilai. Kejujuran semakin semu. Bahkan aku, apakah aku lagi memakai sebuah topeng bernama tegar?
Sebagian orang akan mencoba meluruhkan asaku. Hanya aku dan Ilahi yang dapat mempertahankannya.
Telah kuletakkan penaku. Tidak maaf. Bukan sesal. Hanya, ini mauku....
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
2:41:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
|