Yaya's Reflection
Wednesday, May 14, 2008
Logika versus suara hati
|
Terkadang kita harus meninggalkan logika dan lebih mendengarkan suara hati
Kalau orang lain lebih sering bermain dengan logika dalam bertindak, saya justru kebalikannya. Malah dalam beberapa hal saya memilih lebih mendengarkan apa yang diminta suara hati, padahal kalau mengikuti logika "enggak banget". Contoh simplenya sih hari Minggu lalu waktu saya menghadiri acara pengajian keluarga.
Di pengajian tersebut dibahas ayat-ayat AlQuran satu demi satu, jadi yang hadir juga bergiliran membaca ayat-ayat tersebut. Beberapa kali mengikuti acara tersebut, tapi saya selalu menghindar buat ikut mendapat giliran membaca. Alasannya: malu. Saat itu logika saya kebanyakan ikut andil dalam bertindak.
"Kalau suara saya gak jelas gimana?"
"Saya kan cadel, nanti diketawain
lagi."
"Malu aah."
Dsb..dsb..intinya saya jadi tidak ikut membaca saja. Sampai di Minggu kemarin ketika tiba-tiba sang suara hati mendesak keluar, memaksa saya untuk bergerak.
Akhirnya setelah mematikan logika saya barang sejenak, saya memberanikan diri ikut membaca ayat-ayat suci AlQuran yang itu juga.
Sederhana ya?
Emang, tapi saya sudah berhasil untuk bergerak dan mendengarkan suara hati pada akhirnya.
Thursday, April 24, 2008
Putri menanti
|
saat hujan pun tak lagi ada penantian untuknya
hanya sendiri
pada rinai rindu yang memupus lama
Tak lagi berandai
hanya ada kepastian
yang selalu ada tentang hati
Hati..untuk siapa?
Ketika hati mulai bertanya
tentang cerita pangeran yang masih samar
Pangeran
belahan jiwa
soulmate
Putri menanti







![Belum_sembuh_DAHSYAT[1]](http://farm1.static.flickr.com/184/408632406_fb45586ab4_o.jpg)




