Tuesday, March 15, 2005

Sahabat

"Kamu sahabatku..", kalimat Deni tadi masih terngiang di kepala Sinta, bahkan sampe hari ini (5 bulan setelah kejadian itu).


5 bulan yang lalu depan ruang kantor:
"eloe udah baca puisi gue?", aku akhirnya berani nanya juga ke Deni. Setelah dipaksa sama Winda, sahabatku.
1 menit, 2 menit, 5 menit...hening. "Gue udah baca, tapi gue gak ngerti maksudnya apa sih, Sin?" Deni menatapku dengan tatapan bingung.
"lho, itu balasan surat eloe Den." Hatiku berkata (dengan kata laen, please say you care for me too).
"Desperate", aku akhirnya ngomong, "Loe sahabat gue, Den".
Deni: "I know, you're my best friend too".
==================================
"LOE BEGO DECH, SIN!!" Winda marah besar, setelah aku kasih tau peristiwa kemarin. "kenapa sich, loe gak ngasih tau aja sama Deni kalo loe tuh sayang sama dia lebih dari sahabat?"
"Percuma Win..gue harus ngarep apa kalo dia tau? ngarep dia bakal mutusin Tia, tunangannya? Gak mungkin banget! Mereka tuh udah mau nikah 5 bulan lagi. Gue hanya dianggap sebagai penghalang, dunia pasti akan nganggap gue tuh merusak hubungan mereka..!!" aku setengah menangis setengah berteriak.
"Sin, gue cuma gak mau loe menyesal. Loe harus jujur sama perasaan loe." Winda memeluk aku, yang sekarang udah mulai menangis.


SEKARANG

Mungkin memang kita hanya sahabat. Aku membatin sambil melipat surat Deni.

No comments: