Redlicious Campaign
Photobucket
Contact Me

Me, mine & My Family
Inside My world

blognya kakak iparnya Yaya


Inspirations


Hi there :)
Name :
Web URL :
Message :
Previously
Aksara mengeja maaf
Mengais kenangan
Antara aku, indent, Lebaran dan keluarga
Kalau emang harus mundur
Jangan ngalah sebelum berjuang
DREAM BIG
Menembus "bulan sulit"
They're not my downlines, but..
Finding your own Nemo
Belahan jiwa
Archivess
August 2004
September 2004
October 2004
November 2004
December 2004
January 2005
February 2005
March 2005
April 2005
May 2005
June 2005
July 2005
August 2005
September 2005
October 2005
November 2005
December 2005
January 2006
February 2006
March 2006
April 2006
May 2006
June 2006
July 2006
August 2006
September 2006
October 2006
November 2006
December 2006
January 2007
February 2007
March 2007
April 2007
May 2007
June 2007
July 2007
August 2007
September 2007
October 2007
November 2007
December 2007
January 2008
February 2008
March 2008
April 2008
May 2008
July 2008
August 2008
September 2008
October 2008
November 2008
January 2009
February 2009
March 2009
May 2009
June 2009
July 2009
September 2009
October 2009
Awards
Menang lagi

juarafavorit

BF Girl

Happy B'day Indonesia

Aktivis Kopdar Blogfam '05

Fun Stuff
thank you :)
The Writers
Friends' Banners
Dhira dan Lia




Ebook Gratis
ebook-bisnisonline
Communities
banner150x26orange





banner angingmammiri
Siap bergabung?
click me
Thanks to
Free Blogger Templates

BLOGGER

 
Tuesday, February 20, 2007
Kereta Sekar Senja
Perempuan dengan rambut sebahu menaiki tangga kereta senja sore itu. Syalnya yang berwarna biru melambai-lambai menyelimuti lehernya yang jenjang. Tak banyak bawaan yang ia bawa, hanya 1 buah koper kecil hitam.

Sekar, nama perempuan itu, kini memasuki sebuah gerbong di sudut kereta. Begitu ia masuk, ia langsung mengunci pintu gerbongnya dan tak lupa ia tutup tirainya sehingga tak satupun orang yang dapat melihat ke dalam.
Ia mengeluarkan sebuah pigura dari dalam kopernya. Bila ada yang melihat wajah Sekar sekarang, akan sulit mereka menebak makna rautan wajahnya.

Sekar tersenyum...

"Tak lama lagi."

Malam mulai menggayuti bumi dan keretapun masih melaju.Ketika jarum jam berdetak pada angka 10, pintu gerbong di sudut kereta itu diketuk 3 kal (tok..tok..tok), seakan mengerti dengan kode yang telah disepakati maka pintupun terbuka. Dan si pengetok pintupun masuk ke dalam.

Kembali, gerbong di sudut kereta itu senyap.

“Aku telah datang sesuai janjiku," lelaki berkata.

"Iya, aku tahu. Apakah untuk selamanya?" Sekar bertanya pilu.

"Tak ada selamanya di dunia ini. Selamanya hanyalah sebuah kata, Sekar."

"Mauku bukan hanya kata, aku ingin kepastian."

Kereta masih melaju.

"Hanya kematian yang aka membawa kita terus bersama, bukan?"

"Kau membuatku takut, Sekar." Lelaki itu memalingkan wajahnya ke jendela. Aneh, padahal tak ada yang dapat dilihat di luar jendela itu. Hanya gulita, gelap.

"Tapi itu kan yang membuatmu tergila padaku, dan membuatmu meninggalkan Senja, istrimu."

Diingatkan akan Senja, istrinya, lelaki itu mengeluarkan suara seperti orang mengeluh. Seperti sesal yang ia pikul sepanjang hidupnya.

"Senja membuatku nyaman, kau membuatku hidup."

Sekar tertawa, seram..karena tawanya memecah keheningan malam yang telah merambat menuju jam 12.

"Kau egois! Kau tak bisa memilih, aku atau Senja."

Lelaki itu beranjak mendekati Sekar, seorang perempuan yang membenci dirinya. Harus mendengarkan gejolak batinnya sendiri, antara meninggalkan seseorang yang telah menjadi samudra hatinya ATAU meninggalkannya karena ia tak ingin menjadi perempuan perusak mahligai pernikahan perempuan lain.

"Kenapa kau membawa pigura fotoku, seperti orang mati saja," dengus lelaki itu tak senang, ingin mengubah arah pembicaraan.

"Mungkin karena aku ingin kau mati saja."

"Jangan bercanda Sekar. Aku belum ingin mati." Lelaki itu memeluk Sekar,hangat.

"Kenapa? Apa kau masih ingin menikmati cinta dua orang perempuan?" Sekar marah, amarah yang ia tahan sejak ia tahu samudra hatinya telah melabuhkan hatinya di perempuan lain juga. Tapi pelukan lelaki itu tak juga ia lepaskan, ia tak ingin melepaskannya.

Tok..tok..(pintu gerbong kembali ada yang mengetuk). Ada sekilas senyum di di bibir Sekar, senyum yang tak dilihat oleh lelaki yang berada di gerbongnya. Ia segera membuka pintu gerbongnya. Seolah ia telah melupakan kehadiran lelakinya. Lelaki yang kini tampak terkejut.

"SENJA!" Seru lelaki itu. Kaget, panik, takut.

"Waktunya telah tiba Sekar," perempuan yang dipanggil Senja itu berbicara dengan tenang, tak mengindahkan panggilan lelaki itu.

Sekar tersenyum dan mengambil sebilah pisau yang ia sembunyikan di bawah bantal.

"Apa maksudnya Sekar? Senja, ada apa ini? Kenapa kau bisa ada di sini?"

"Lelaki egois!
Kini kau tak bisa lagi hidup!"


Jam berdentang 2 kali, pagi telah menjelang. Keretapun sudah sampai di stasiun. Entah di kota apa. Baik Sekar maupun Senja tak peduli. Kini mereka telah bebas dari lelaki yang membuat mereka hidup dan nyaman.

****************

Dua perempuan turun dari kereta pagi itu. Memulai hidup baru di kota yang mereka tentukan berdasarkan lemparan koin. Tak peduli apapun.





reflected by Nahria Medina Marzuki
5:45:00 PM
|
Wednesday, February 14, 2007
Astagfirullaah
Saat Allah memanggilku
untuk mensyukuri pagi hari-Nya

Aku masih terbuai
di bawah sejuknya pendingin ruangan
di kamarku

Melewatkan panggilan Al Waduud
pemilik segala kesejukan
melebihi dinginnya kamarku

Bagaimana bisa
aku berharap akan mengawali pagiku
dengan tenang, tanpa persoalan duniawi?

Saat Allah memintaku
beristirahat sejenak di siang hari
untuk melepas lelah dan bercengkrama dengan-Nya

Aku memilih berkutat di mejaku
duduk menghadap komputerku yang besar
terus menyelesaikan pekerjaanku

Seolah genderang telingaku sudah tuli
tak menggubris panggilan Al Mutakabbir
yang lebih besar dari semua harta bendaku

Bagaimana mungkin aku berharap
menyelesaikan urusan duniaku
karena akupun sendiri tak mau menghadap-Nya?

Saat sore hari menjelang
akupun bersiap-siap meninggalkan kerjaanku
bergegas pulang
menuju Baiti Jannatiku

Karena tergesanya aku,
sajadah yang terhampar di musholapun tak kulirik

Kembali, Arasy Allah bergetar

Al Syahiid menyaksikan
ringannya langkahku meninggalkan sore
tanpa memanggil nama-Nya

Dengan mudahnya
aku masih berharap perjalanan pulangku
selamat sampai di rumah

Malampun menjelang
lantunan cinta Allah tlah kudengar

tapi dengan ringannya
aku menutup telingaku dari-Nya
dengan mudahnya
aku mencari acara tv yang lebih menarik

Ketika listrik rumahku padam
langsung kumengeluh "gelap!"

Tak sadar,
tadi aku meninggakan An Nuur

Kantuk mulai bergelanyut
di kelopak mataku

Akupun menyelimuti diriku
dan lelap di lembutnya bantalku

Terhanyut dalam buaianku
kembali mata batinku tertutup

Tak ingin melihat
Al Latiif Yang Memiliki Seluruh Kelembutan
yang aku miliki

Astagfirullaah
apa yang telah kulakukan?

Kugetarkan Arasy Allah
kusempitkan liang kuburku sendiri

Apa yang dapat kusampaikan
pada-Nya nanti?

Aku memiliki 2 mata
untuk melihat dunia
tapi
kututp mata hatiku
untuk melihat siapa pemilik dunia ini sesungguhnya

Aku memiliki 2 pendengaran yang sempurna
untuk mendengar ciptaan-Nya
tapi
kutulikan kupingku
dari mendengar panggilan Azan-Nya

Aku memiliki mulut
yang dapat berbicara dengan lancar
tapi
kubisukan mulutku
untuk melafazkan ayat-ayat suci-NYa

Aku memiliki 2 kaki dan 2 tangan
yang dapat bergerak kemanapun aku mau
tapi kuikat kaki tanganku
dari sholat

Astagfirullaah










reflected by Nahria Medina Marzuki
4:16:00 PM
|
Saturday, February 10, 2007
Pada sebuah penantian
Senja di perempatan jalanku
sudah tak terlihat

Menandakan
waktu untuk mencintaimu
telah pudar

Bersamaan dengan hujan
yang tlah selesai
mencurahkan tirainya,
usiakupun sampai di titik lelah
menghiburku

yang menginginkan hadirku
pada hatimu







Pada pukul 01.34 setelah hati lelah
berbicara tentang "sebuah penantian"

Labels:


reflected by Nahria Medina Marzuki
5:55:00 AM
|