|
| |
|
Friday, May 30, 2008 |
|
Aku dan waktu
|
Mulutku membuka, siap untuk mengatakannya. Untuk kesekian kalinya aku mencoba mengeluarkan rasaku padanya.
Tatapannya kian membungkamkanku, ia seperti berkata "sudahlah, biarkan kita seperti kita sekarang."
Kembali aku bisu. Dan waktu terus berjalan cepat tanpa henti. Begitu banyak yang pergi, berubah.
Pernah.. "itu untuk kamu.."
"Buat apa?" tanyanya.
Sayang urung terucap dari bibirku. Kembali pertanda itu terberi tanpa makna.Dan waktu kembali melaju kencang. Aku masih memberinya (waktu).
Aku atau waktu yang harus meninggalkannya? |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
7:16:00 AM
|
|
|
|
|
|
Wednesday, May 14, 2008 |
|
Logika versus suara hati
|

Terkadang kita harus meninggalkan logika dan lebih mendengarkan suara hati
Kalau orang lain lebih sering bermain dengan logika dalam bertindak, saya justru kebalikannya. Malah dalam beberapa hal saya memilih lebih mendengarkan apa yang diminta suara hati, padahal kalau mengikuti logika "enggak banget". Contoh simplenya sih hari Minggu lalu waktu saya menghadiri acara pengajian keluarga.
Di pengajian tersebut dibahas ayat-ayat AlQuran satu demi satu, jadi yang hadir juga bergiliran membaca ayat-ayat tersebut. Beberapa kali mengikuti acara tersebut, tapi saya selalu menghindar buat ikut mendapat giliran membaca. Alasannya: malu. Saat itu logika saya kebanyakan ikut andil dalam bertindak.
"Kalau suara saya gak jelas gimana?" "Saya kan cadel, nanti diketawain lagi." "Malu aah."
Dsb..dsb..intinya saya jadi tidak ikut membaca saja. Sampai di Minggu kemarin ketika tiba-tiba sang suara hati mendesak keluar, memaksa saya untuk bergerak.
Akhirnya setelah mematikan logika saya barang sejenak, saya memberanikan diri ikut membaca ayat-ayat suci AlQuran yang itu juga.
Sederhana ya?
Emang, tapi saya sudah berhasil untuk bergerak dan mendengarkan suara hati pada akhirnya. |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
10:58:00 AM
|
|
|
|
|
|
|
|