Redlicious Campaign
Photobucket
Contact Me

Me, mine & My Family
Inside My world

blognya kakak iparnya Yaya


Inspirations


Hi there :)
Name :
Web URL :
Message :
Previously
Aksara mengeja maaf
Mengais kenangan
Antara aku, indent, Lebaran dan keluarga
Kalau emang harus mundur
Jangan ngalah sebelum berjuang
DREAM BIG
Menembus "bulan sulit"
They're not my downlines, but..
Finding your own Nemo
Belahan jiwa
Archivess
August 2004
September 2004
October 2004
November 2004
December 2004
January 2005
February 2005
March 2005
April 2005
May 2005
June 2005
July 2005
August 2005
September 2005
October 2005
November 2005
December 2005
January 2006
February 2006
March 2006
April 2006
May 2006
June 2006
July 2006
August 2006
September 2006
October 2006
November 2006
December 2006
January 2007
February 2007
March 2007
April 2007
May 2007
June 2007
July 2007
August 2007
September 2007
October 2007
November 2007
December 2007
January 2008
February 2008
March 2008
April 2008
May 2008
July 2008
August 2008
September 2008
October 2008
November 2008
January 2009
February 2009
March 2009
May 2009
June 2009
July 2009
September 2009
October 2009
Awards
Menang lagi

juarafavorit

BF Girl

Happy B'day Indonesia

Aktivis Kopdar Blogfam '05

Fun Stuff
thank you :)
The Writers
Friends' Banners
Dhira dan Lia




Ebook Gratis
ebook-bisnisonline
Communities
banner150x26orange





banner angingmammiri
Siap bergabung?
click me
Thanks to
Free Blogger Templates

BLOGGER

 
Friday, May 30, 2008
Aku dan waktu
Mulutku membuka, siap untuk mengatakannya. Untuk kesekian kalinya aku mencoba mengeluarkan rasaku padanya.

Tatapannya kian membungkamkanku, ia seperti berkata "sudahlah, biarkan kita seperti kita sekarang."

Kembali aku bisu. Dan waktu terus berjalan cepat tanpa henti. Begitu banyak yang pergi, berubah.

Pernah..
"itu untuk kamu.."

"Buat apa?" tanyanya.


Sayang urung terucap dari bibirku. Kembali pertanda itu terberi tanpa makna.Dan waktu kembali melaju kencang. Aku masih memberinya (waktu).

Aku atau waktu yang harus meninggalkannya?

reflected by Nahria Medina Marzuki
7:16:00 AM
|
Wednesday, May 14, 2008
Logika versus suara hati



Terkadang kita harus meninggalkan logika dan lebih mendengarkan suara hati

Kalau orang lain lebih sering bermain dengan logika dalam bertindak, saya justru kebalikannya. Malah dalam beberapa hal saya memilih lebih mendengarkan apa yang diminta suara hati, padahal kalau mengikuti logika "enggak banget". Contoh simplenya sih hari Minggu lalu waktu saya menghadiri acara pengajian keluarga.

Di pengajian tersebut dibahas ayat-ayat AlQuran satu demi satu, jadi yang hadir juga bergiliran membaca ayat-ayat tersebut. Beberapa kali mengikuti acara tersebut, tapi saya selalu menghindar buat ikut mendapat giliran membaca. Alasannya: malu. Saat itu logika saya kebanyakan ikut andil dalam bertindak.


"Kalau suara saya gak jelas gimana?"
"Saya kan cadel, nanti diketawain
lagi."
"Malu aah."

Dsb..dsb..intinya saya jadi tidak ikut membaca saja. Sampai di Minggu kemarin ketika tiba-tiba sang suara hati mendesak keluar, memaksa saya untuk bergerak.

Akhirnya setelah mematikan logika saya barang sejenak, saya memberanikan diri ikut membaca ayat-ayat suci AlQuran yang itu juga.

Sederhana ya?

Emang, tapi saya sudah berhasil untuk bergerak dan mendengarkan suara hati pada akhirnya.

reflected by Nahria Medina Marzuki
10:58:00 AM
|