Monday, November 21, 2005

Cerpen: Selubung hati

"Via belum mau pulang ya Nang?" Sayup-sayup kudengar suara mama di ruang tamu. Ah, mama pasti lagi menelpon mas Danang, kakakku, entah untuk kesekian kalinya di minggu ini.

"Ya sudah, tidak papa." Suara mama mengakhiri pembicaraan telponnya dengan Mas Danang.
Kali ini terdengar isak mama. Kalau sudah begini, seperti yang sudah-sudah....

"Ma, sabar ya ma," aku masuk ke ruang tamu dan mengusap pundak mamaku.

"Eh San..kamu sudah pulang? kaget, mama buru-buru menyeka airmatanya.

"Iya ma, hari ini muridnya libur. Kak Via..belum bisa pulang ya ma?" aku bertanya, hati-hati.

Mama diam.

Tapi, akupun udah tahu jawabnya.

****************************************

Aku Santi, dan Via itu kakakku. Udah 3 tahun kak Via gak pulang ke rumah. Mas Danang, abangkulah yang jadi harapan aku dan mama untuk membawa kak Via kumpul lagi sama kita.


3 tahun yang lalu, di Jakarta

"PUAS PAK, PUASSS??? REZA MENINGGAL! Kecelakaan!! Itu kan yang papa mau??? Pagi itu kak Via histeris di depan papa, sambil mengacung-acungkan foto Mas Reza.

Mas Reza itu tunangannya kak Via. Seminggu yang lalu Mas Reza meninggal, kecelakaan di jalan tol, tepat semalam sebelum hari pernikahannya sama kak Via. Kak Via syok, menyalahkan papa atas meninggalnya mas Reza. Papa emang gak pernah setuju kak Via sama mas Reza. Alasan klise: beda status.

Hari itu juga kak Via keluar dari rumah, tinggal sama keluarganya mas Reza di Surabaya. Gak mau ketemu sama mama, apalagi papa. Cuman sama aku dan Mas Danang, kak Via mau ketemu.

**********************************************
Aku menyusul mas Danang ke Surabaya, membantu mencairkan hati kak Via.

"Kak, kakak sayang sama Santi kan?"

"Kakak sayang sekali sama kamu dan Danang. Kalian itu adek-adekku."

"Kalo gitu, mbo' pulang kak." Kali ini mas Danang, yang dari tadi diam, ikut angkat bicara.

Aku mencoba bertanya, "kakak masih benci sama papa?"

"Aku ndak benci sama papa. Aku hanya muak melihat keangkuhan papa."

"Papa dulu khilaf kak, papa ngaku salah." Kak, mas

Reza udah tenang di alam sana. Please let him go," Mas Danang memegang tangan kak Via.

"Maaf San, Nang..kakak belum bisa ikut kalian pulang."

*************************************************
Akhirnya aku dan mas Danang kembali ke Jakarta, tanpa kak Via. Ternyata hati kak Via lebih hancur daripada hati mama dan papa. Dan..baik aku maupun mas Danang gagal menyatukan hatinya kak Via.





6 comments:

linda said...

gak mau protes kok cuma mo ngeralat waktu santi nanya mama di ruang tamu, keknya kelebihan huruf "s" deh. jadinya mas? di kalimat sblm mama terdiam ;)

-syl- said...

Gak protes juga, cuma penikmat aja :) Keep on writing Ya ;)

Reti said...

wah cerpennya menyentuh & menghibur nih sore2 gini pas lg suntuk di ktr, thanks ya :) Thanks juga udah mampir... maen2 lagi yah Yaya! ^ ^

Kartina Mutien said...

asiik juga cerpennya..tapi gimana terusannya...bikin penasaran...

It's just me said...

nice story....cerpen yaya selalu bikin penasaran. Yang dulu aja aku masih penasaran, ni ada yang baru pulak :)

AwAn said...

mbak Yaya... cerpennya ok *acung jempol*, aku dari dulu paling suka baca cerpen :)... ada lanjutannya ga mba? *sambil cari-cari*