|
| |
|
Monday, August 29, 2005 |
|
Suatu saat...
|
Tetapi
getaran suaranya masih menusuk di dalam kalbu
sentuhannya masih melekat di setiap nadi
pandangannya menembus mengencangkap detak hati
..dan Ketika logika menepiskan harap untuk menunggu
Hati tetap berharap
Suatu saat.... |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
7:18:00 PM
|
|
|
|
|
|
Friday, August 26, 2005 |
|
Goodbye
|
There comes a time
to say
Goodbye to all |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
3:47:00 PM
|
|
|
|
|
|
Thursday, August 25, 2005 |
|
Saat
|
Saat kata-kataku dibunuh dengan bisumu
Saat sikapku dijerat oleh kesinisan perilakumu
Saat rinduku tenggelam dalam hitungan masa
Saat semuanya tak dapat lagi kembali
Di setiap perilakumu
Aku di sini
takkan pernah menyerah untuk percaya
Kau pasti kembali |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
11:27:00 AM
|
|
|
|
|
|
Wednesday, August 24, 2005 |
|
Manusia bodoh
|
Banyak sekali kata maaf terucap.
Maaf aku masih sayang Maaf aku membenarkan semua perbuatannya yang menyakitkanku. Maaf aku masih menunggunya. Maaf aku masih memikirkannya. Maaf aku tak dapat melupakannya.
Manusia bodoh, mungkin itulah aku.
Seorang manusia bodoh yang belum dapat menerima kenyataan.
Seorang manusia bodoh yang tetap dalam tahap "denial"
Seorang manusia bodoh yang mengharapkannya
Maaf aku manusia bodoh |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
2:19:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
Definisi hubungan
|
Dulu..
Aku pernah marah dengan diriku. Kenapa harus memakai perasaanku.
Teringat quote "Things happen for a reason.."
Sekarang...
Definisi hubunganku dengannya:
Seorang yang aku cinta Seorang yang membuatku marah Seorang yang aku tahu pasti akan selalu ada kemanapun aku pergi. Seorang yang aku mengerti Seorang yang aku sayang tanpa harus memakai perasaanku yang pernah ada...
Kalau kamu membaca ini, ini memang untuk kamu |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:28:00 AM
|
|
|
|
|
|
Sunday, August 21, 2005 |
|
Kerinduan
|
Pagi ini aku bangun dengan satu tanya, yang tiba-tiba saja bertamu dalam sel-sel pikiranku. Bagaimana kalau aku tidak akan pernah lagi dapat berbicara dengannya?
Pikiran itu begitu mencekamku, begitu menakutkan. Aku merasakan satu ruang dalam hatiku tertekan, menjadi kosong
Apapun alasannya, aku hanya tidak ingin menghabiskan sisa hidupku tidak berbicara lagi dengannya.
Aku pernah kehilangan seorang sahabat rasanya hidupku tak sama lagi
Ketika aku bertemu dengan sahabatku kembali kita seperti dua orang asing bertemu
Dunia seperti menamparku, keras.
31 Maret 2005...
Aku tidak akan pernah melupakan hari itu Aku merasakan satu ruang dalam hatiku kembali terisi
Pernah mendengar pertanyaan "bila boleh memilih 1 moment dalam hidupmu, yang mana yang kamu pilih?" Dulu aku hanya tertawa mendengarnya.. Pertanyaan aneh, Sampai..
Hari ini. Aku memilih tanggal itu. Aku memilih hari itu. Aku memilih moment itu.
Kalau boleh memilih aku memilih waktu masih ada dia sebagai temanku
Seperti kilatan-kilatan lampu kamera aku melihat potongan-potongan kejadian bersamanya
Kecil tapi bermakna
Pagi ini
aku merasakan kerinduan teramat dalam padanya
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
7:37:00 AM
|
|
|
|
|
|
Saturday, August 20, 2005 |
|
Angel
|
An angel was here yesterday
hovering my sadness comforting my sorrow wiping my tears
How I miss my angel
Don't know where my shoulder to cry on is now
Didn't mean to push my angel away
Missing my angel so much
Just wishing my angel were here |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
11:22:00 AM
|
|
|
|
|
|
Friday, August 19, 2005 |
|
Menggenggam Dunia
|
Pernah kuberpikir.. kapan aku bisa menggenggam dunia?
Kini kutahu jawabnya...
Saat aku memeluk.. Hayyu dan Valerie
mencium Walid menggandeng tangan Isya atau menggendong Ayya
Aku lagi memegang dunia
Saat aku merasakan waktu berputar begitu cepat
ketika bersama saudara-saudara kandungku
dunia seperti erat kugenggam
Kini aku tahu jika ingin kumemeluk dunia
Aku hanya perlu melihat keluargaku |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
5:32:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
Sha..dalam kenangan
|
Hendak kutepiskan rasa kehilangan ini
tapi ku tak mampu
Ada yang menggigilkanku saat kutahu
kau telah pergi
Kumerasa dunia menjadi dingin
Hendak kupanggil namamu
lewat kotak Messenger kita
tapi kutahu kau takkan menjawab panggilanku
Temanku telah pergi
Kau telah pergi
Bukan selamat tinggal untuk Sha...
Semoga Sha tidak merasakan sakit lagi
Ada Tuhan yang menjaga
Cium sayang buat Sha
yang sudah tenang |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
3:20:00 PM
|
|
|
|
|
|
Tuesday, August 16, 2005 |
|
Selamat jalan, temanku
|
Umur manusia tak ada yang tahu
Kepergiannya menyayat hatiku dan semua orang
Walaupun kita tak pernah bertemu
Sha sayang Selamat jalan
*turut berduka cita atas berpulangnya Tasha |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
8:55:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
Malam
|
Hitam menggulung awan pekatpun mengambil alih
Malam datang..pergi
Memang aku tak mengerti
Memang ku yang salah
Melewatkan malam biarkan kasih...lewat
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:56:00 AM
|
|
|
|
|
|
Monday, August 15, 2005 |
|
Entah
|
Mungkin
sudah saatnya berakhir
entahlah.. |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
7:34:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
Sedih
|
Aku kecewa
Ternyata dia sama saja |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
11:10:00 AM
|
|
|
|
|
|
Friday, August 12, 2005 |
|
If things were different
|
now maybe I could say miss you very much
If things were different
I won't question anything
not even why you go
If things were different
I would stop pretending everything's fine
If things were different
I would tell him
the moon are so bright tonight
reminds me of you |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
10:07:00 PM
|
|
|
|
|
|
Wednesday, August 10, 2005 |
|
Nara, aku cinta
|
3 Juli, 2005
"Ini yang terbaik kan, Nara?"
"Ya, ini yang terbaik," lirih Nara berucap.
Malam itu dunia serasa berhenti pekat semakin gelap
Kehidupan tak lagi bernafas
"Kenapa Nara?" Yudis hampir tak dapat mengeluarkan suaranya yang tercekat.
"Sudahlah Yudis, cobalah mengertiku." Nara memandang lekat-lekat muka Yudis, laki-laki yang mampu membuat hidupnya hidup.
"Aku mengertimu, Nara. Aku mengertimu sekali. Begitu aku mengertimu sekali, makanya aku tau ini sebenarnya bukan maumu."
Nara diam, tak mampu menjawab, yang keluar dari mulutnya hanya, "peluk aku Yud."
Malam itu dunia serasa berhenti
seolah memberi penghormatan terakhir untuk satu cinta
Yudis memeluk Nara, erat.
Muka mereka beradu tak ingin saling melepaskan
Malam itu cinta berpisah
THE PRESENT DAY, jam 2 pagi
Naraaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!
Yudis berteriak dalam tidurnya seiring dengan bunyi handphonenya, KRIIIIIIING KRIIIINGGGGG!!!
Masih merasa gamang dengan mimpinya, Yudis memencet tombol receive, "Hal..lo."
"Yudis, ini Kana."
"Kenapa Kan?" heran, Yudis menerima telponnya Kana, kakaknya Nara.
"Yudis...Nara koma. Ada di rumah sakit."
"Koma?' Serasa kehilangan akal sesaat, Yudis bertanya.
"Rumah sakit PI. Cepet Yud." Suara Kana mulai bercampur tangis.
"Aku ke sana sekarang." Yudis berlari menuju mobilnya.
Tuhan, apa ini arti mimpiku tadi? Nara selama ini kan sehat-sehat saja, kenapa bisa koma? batin Yudis bergelombang seraya dia menstarter mobilnya dan menyetir dengan kecepatan tinggi.
Setengah jam kemudian, Yudis sampai di rumah sakit. Kana sudah menunggu di lobby. Mukanya pucat, tapi dia berusaha tenang.
"Ayo Yud." Kana mengajaknya menuju lantai 2.
"Kan, kenapa Nar....." belum selesai Yudis bertanya, pandangannya tertumbuk pada tubuh Nara yang terbaring di ruang ICU, penuh dengan selang infus.
Yudis histeris, "Kana! KENAPA DENGAN NARAKUUU? NARAKU KENAPAAAAA?? dia menggoncang-goncang tubuh Kana.
"Yudis." Seseorang memegang pundaknya dan memeluknya.
"Ibu, kenapa Narakuu?" Yudis memeluk ibunya Nara.
"Sejak dua bulan yang lalu, Nara mengidap Leukemia. Dia tahu hidupnya tak lama lagi." Ibunya Yudis bercerita.
"Nara tak pernah cerita ke aku." Yudis terisak.
"Yud, Nara menitipkan ini untuk kamu," Kana mengulurkan sebuah surat.
Yudis membukanya.
"Yudisku sayang, berpisah denganmu merupakan hal terberat dalam hidupku. Lebih berat dari Leukemia ini. Kamu harus berjalan maju Yudisku, denganku hidupmu akan berat. Aku akan menjadi sebuah beban untukmu. Aku gak mau itu. Aku mau adaku dapat meringankan hidupmu. Maafkan aku gak berbagi dengan kamu. Maaf aku gak jujur sama kamu. Maaf Yudisku...
Nara mencinta Yudis, Nara sayang Yudis.
Sejak pagi itu Yudis memegang tangan Nara erat, tak melepaskan pegangannya sedetikpun. Sampai jam 11 pagi...
Yudis mencium dahi Nara. Membisikkan Syahadat di kupingnya. Memeluknya sambil berbisik "selamat jalan, Naraku. Yudis sayang Nara."
Malam ini tak ada tangis terdengar
Seorang lelaki melepaskan Naranya pergi
menghadap Sang Khalik
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
12:00:00 AM
|
|
|
|
|
|
Tuesday, August 09, 2005 |
|
Doa
|

Ngeliat mamaku tadi nyuapin Ayya, keponakanku yang masih bayi, terbersit suatu doa...
Ya Allah Ya Rabbi bila Engkau berkenan untuk memberi kita semua umur
Panjangkanlah umur kita Ya Allah agar kita bisa menggunakan umur kita untuk selalu beribadah dan berbuat kebaikan di dunia di jalan- MU
Ya Allah bila Engkau berkenan aku ingin keluargaku sakinah
aku ingin mamaku masih ada untuk menyuapi anakku nanti
Ya Allah kabulkanlah doaku
Amin
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:12:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
Different place...different time
|
You're
my the one
You and I
might be meant for each of us
Different place...different time |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
8:10:00 AM
|
|
|
|
|
|
Monday, August 08, 2005 |
|
Later
|
Selesai juga akhirnya. Menjalin kalimat demi kalimat untuk kukirim.
Tapi, entah bagaimana bisa tiba-tiba perkataan sahabatku kembali berbisik dalam hatiku
Dia menghilang dan sepertinya sengaja
Kulihat kembali draft emailku
Timbul ragu mengirimkannya
dan mataku mulai basah
Aku menangis karena ucapan temanku menusuk kalbuku
Aku menangis karena temanku benar
Aku menangis karena sebesar apapun inginku mengirimkan email ini
Aku tak mampu
Muncul pop up window:
do you want to send it now? or Later
Aku mengklik Later |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
5:53:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
Angin
|
Anginku..kau
Bertiup ke arahku lembut kencang
Menyelimuti duniaku mengisi hampaku
Begitu menikmati sejuknya hembusan angin
Begitu terlena dalam nyamannya hidup saat itu
Tak sadar
angin menghembus menjauh
mengembalikan sendiriku |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
2:49:00 PM
|
|
|
|
|
|
Sunday, August 07, 2005 |
|
Mengukur Cinta
|
"Seberapa besar cinta kamu ke dia?"
Aku terdiam. Mencoba berdalih, kutampilkan gambar orang tersenyum di layar komputer.
Teman mayaku tak bertanya lagi. Mungkin dia telah dapat menerka jawaban gantungku. Mungkin dia tak ingin memaksakan jawaban keluar dari hatiku.
Apapun itu, aku sendiripun masih tidak tahu.
Waktu berlalu Hari berganti menjadi minggu. Minggu berubah menjadi bulan.
Temanku tak pernah mempertanyakannya lagi.
tapi.. pertanyaan singkat temaku masih bermain dalam pikiranku.
Aku... yang mengakui mencintainya
Aku.. yang pernah menangis karenanya
tak dapat menjawab pertanyaan singkat itu
Mengukur Cinta...
Mampukah aku dapatkah aku
Semulia itukah cintaku
untuk melepaskannya menjalin cinta
biarpun dengan yang lain?
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
12:58:00 AM
|
|
|
|
|
|
Friday, August 05, 2005 |
|
Pelangi kebahagiaan
|
"Emang aku salah ya?' sebaris pertanyaan kuhadiahkan untuk temanku.
"Enggak kok, kamu gak salah. Tidak ada yang salah dengan mencintai seseorang."
"Tapi kenapa aku jadi merasa bersalah ya?"
"Kamu hanya ingin bahagia. Kamu layak bahagia. Biarpun tidak sama dia."
Katanya bila kita bahagia saat melihat orang yang kita cintai berbahagia dengan orang lain itulah CINTA SEJATI.
Tahu kenapa aku merasa bersalah? karena aku sedikitpun tidak bahagia. Karena itu, aku merasa egois
Tapi, itulah aku..
Aku menangis saat aku sedih Aku tertawa di saat aku bahagia
Tak pernah dapat berpura-pura sedetikpun.
Akan ada pelangi setelah hujan deras. Yakinlah...
"Yakin?" tanyaku.
Aku yakin, pelangi pasti akan datang. Juga..aku yakin kamu pasti bisa bahagia |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
10:44:00 AM
|
|
|
|
|
|
Thursday, August 04, 2005 |
|
Ke mana cinta?
|
Aku pikir semuanya hanya ada di layar kaca
Aku pikir tak mungin ada yang sejahat itu
Aku pikir itu hanya rekaan
Hari ini tubuhku menggigil
Takut sedih marah
Tertampar oleh realita dunia
Mendengar suatu cerita
Begitu kejam
Ke mana cinta?
* Aku hanya bisa berdoa untuknya
Semoga Allah menunjukkan yang terbaik melindungi jiwanya |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
2:23:00 PM
|
|
|
|
|
|
Wednesday, August 03, 2005 |
|
Salahku?
|
bila aku memilih percaya
Walau dalam ketidakpastian
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
4:46:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
Puisi pagi
|
Melangkahkan hidupku kembali
Mencoba
tak menoleh ke belakang lagi... |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
1:05:00 AM
|
|
|
|
|
|
Tuesday, August 02, 2005 |
|
Yang Menyakitkan
|
saat harus mengatakan selamat tinggal sementara batin mengatakan tidak mau nanti dulu sebentar lagi
Yang menyakitkan
saat pikiranku kosong kehilangan rasa
Yang menyakitkan
saat membenarkan semua perbuatannya yang melukakanku
Yang menyakitkan
saat tak tahu lagi harus berkata apa menjelaskan mauku
Yang menyakitkan
ketika aku enggak tahu lagi membedakan mana yang tulus dan mana yang bertopeng
Yang menyakitkan
kumasih sayang sekali dengan dia yang telah pergi
Yang menyakitkan
aku masih berdalih tak ada yang terjadi di aku |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
8:49:00 AM
|
|
|
|
|
|
Monday, August 01, 2005 |
|
Berakhir sudah
|
Layar tergerai tutupi panggung mengakhiri satu babak
Tak terdengar gemuruh tepukan tangan
Tak ada penghormatan terakhir
Tak perlu air mata atau tawa
Semuanya bergerak keluar
dalam sunyi
Semuanya mengerti
Sebuah babak tentang bintang
berakhir sudah |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
11:33:00 AM
|
|
|
|
|
|
|
|