Saturday, July 01, 2006

Knowing "there"

Suatu siang di hari Sabtu..
"I don't belong there, mbak."

Aku tersenyum, bukan karena aku menertawakan pemikiran temanku itu. Senyumku lebih karena aku sempat punya pemikiran seperti itu, dulu.

Setiap saat aku berada di tengah-tengah orang lain yang kupanggil "teman", aku tidak bisa menghindar untuk tidak bertanya dalam hati, "apakah aku benar-benar termasuk dalam komunitas ini, atau aku hanya lagi memakai topeng nyamanku?"

Tidak dapat kupungkiri kalau rasa jengah, kurang nyaman, malu ataupun terkadang minder sering aku rasakan bila lagi berkumpul dengan teman-temanku. Mungkin karena aku merasa terkadang pandanganku berbeda dengan teman-temanku. Juga gaya hidup mereka yang berbeda dengan aku.



Bila kamu merasa tidak nyaman dengan teman-temanmu,

apakah kamu harus pergi dari mereka?


Hmmm, aku akan balik berkata..
"kenapa aku harus selalu mencoba untuk menyamakan bedaku untuk dapat diterima? Pilihan untuk hengkang dari "there" juga tidak pernah menjadi pilihanku. Karena aku tidak mau selalu mengambil the easy way out. Buatku, bila orang selalu ingin mengambil jalan yang mudah, ia tidak akan membangun cara berpikirnya.

Aku merasa aku punya kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain. Jadi sebenarnya rasa tidak nyaman dan rasa tidak yang lain-lainnya itu tidak perlu. Lagian, Tuhan juga sengaja menciptakan makhluknya berbeda-beda.

Aku mencoba memahami komunitasku. Kalaupun memang tidak semuanya sejalan denganku, ya mudah saja kan? Aku tidak perlu mengikutinya, aku juga tidak berusaha untuk mengubag mereka.


Hmm, mungkin aku akan menjawab temanku yang merasa tidak belong there dengan:

"Apakah kamu sudah berusaha mengenal 'there'?"

15 comments:

Hannie said...

yaya, nggak setuju. ngapain juga ninggalin sahabat kalo kek gitu :)

It's just me said...

I used to be like that...Tapi kupikir2, ga ada salahnya dicoba membaur..and it was fun.
Tapi manusia kan beda2...ada yang benar2 tertutup karena sebab yang hanya dia sendiri yang tahu.
Dan dengan ketertutupannya, membuat dia merasa lebih nyaman. So...give him/her sometime ;).

T A T A R I said...

setuju apa gak setuju yah??
gw bingung Ya..

*komengakpentingdotkom*

Iwok said...

Manusia diciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangan masing2, dan kita harus bangga dengan itu. Nyaman atau tida terpulang kepada diri masing-masing sih ya, jadi memang ngga perlu dipaksa kalo memang ngga bisa connect. Tapi kalo kita belum memberikan kesempatan bagi kita untuk bisa connect dan mencoba mengerti komunitas itu, gimana mau tahu ya? hehehe salam buat temenmu ya?

unai said...

jadikan kelebihan teman kita sebagai pemacu semangat kita, minimalisir perasaan gak nyaman, karena nyaman itu kita yang me-managenya.

keluarganugraha said...

kadang kita bisa aja harus membaur, tapi kalow eang gag nyaman ya gag bisa dipaksain juga yang penting komunikasi tetep baek.. bukan artinya menarik diri trus memusuhi, gitu kan ya? :)

ekky said...

teman yang sesungguhnya adalah yang selalu berada di samping kita,dalam suka maupun duka...btw,,template ku tuh baru,muales toh ya kalo nge-edit lagi...

dahlia said...

yaya kuh sayang....tadi malem dah kita bahas loh tentang ini...jadi tetep pede ya...sayyyyy dan satu lagi jadi diri sendiri dan tanamkan lagi EMANG GW PIKIRIN !!!!! hehehehehe

miss g said...

jangan terlalu sering mikirn omongan orang lain ya..just enjoy urself

Diyan said...

nah bener. Jangan merasa kurang atau lebih dari orang lain. Nggak setiap saat kita sejalan juga kan. yang penting dalam komunitas itu harus saling menghargai..

-syl- said...

Tul Ya!!! Jgn merasa 'lebih' dr org lain. Baik itu lebih rendah or lebih tinggi. Yang penting mah skrg, be a good person ajah. Itu aja dah susah bener.

Chaerani said...

se7 sama commentnya diyan. Marilah kita bersilaturahmi untuk menuai kebaikan (lillahi taala)

rosy said...

be my self aja Ya, pd aja deh..:D

Rara Vebles said...

Just be yourself.. n believe in yourself..

A Feminist Blog said...

Semenjak mengklaim diri sebagai seorang feminis, dan berubah menjadi sekuler (dari dulunya relijius) namun justru merasa jauh lebih manusiawi, aku mengalami hal seperti ini semakin sering, "I don't belong to this community." Kalo dulu aku memaksa diri membaur, (dengan resiko selalu merasa insecure), sekarang, dengan pede aku akan meninggalkan community yang membuatku merasa insecure itu. Dan menikmati kesendirianku, dalam duniaku sendiri.