Redlicious Campaign
Photobucket
Contact Me

Me, mine & My Family
Inside My world

blognya kakak iparnya Yaya


Inspirations


Hi there :)
Name :
Web URL :
Message :
Previously
Aksara mengeja maaf
Mengais kenangan
Antara aku, indent, Lebaran dan keluarga
Kalau emang harus mundur
Jangan ngalah sebelum berjuang
DREAM BIG
Menembus "bulan sulit"
They're not my downlines, but..
Finding your own Nemo
Belahan jiwa
Archivess
August 2004
September 2004
October 2004
November 2004
December 2004
January 2005
February 2005
March 2005
April 2005
May 2005
June 2005
July 2005
August 2005
September 2005
October 2005
November 2005
December 2005
January 2006
February 2006
March 2006
April 2006
May 2006
June 2006
July 2006
August 2006
September 2006
October 2006
November 2006
December 2006
January 2007
February 2007
March 2007
April 2007
May 2007
June 2007
July 2007
August 2007
September 2007
October 2007
November 2007
December 2007
January 2008
February 2008
March 2008
April 2008
May 2008
July 2008
August 2008
September 2008
October 2008
November 2008
January 2009
February 2009
March 2009
May 2009
June 2009
July 2009
September 2009
October 2009
Awards
Menang lagi

juarafavorit

BF Girl

Happy B'day Indonesia

Aktivis Kopdar Blogfam '05

Fun Stuff
thank you :)
The Writers
Friends' Banners
Dhira dan Lia




Ebook Gratis
ebook-bisnisonline
Communities
banner150x26orange





banner angingmammiri
Siap bergabung?
click me
Thanks to
Free Blogger Templates

BLOGGER

 
Thursday, May 18, 2006
Untuk anakku, kelak
Buka hatimu, nak. Dunia luas menantimu. Untuk tumbuh, berkembang, menjadi dirimu sendiri. Juga, untuk tetap menyayangi kedua orangtuamu yang selalu berada di belakangmu. Untuk menahanmu sebelum kau terjatuh, memberitahu ketika kau terlupa sesuatu.

Buka hatimu, nak. Manusia mungkin tidak semuanya baik, ada saja yang akan menerkammu dari belakang saat kau mengira ia baik. Ada yang akan melupakan dirimu, walaupun kalian telah menjadi sepasang manusia yang erat hubungannya. Bahkan akan ada yang akan mencintaimu sepenuh jiwanya.

Iya nak, kau harus tetap menjaga hatimu. Sekecewa apapun dirimu pada dunia. Karena nak, dunia boleh boleh berkata tidak suka atau berbuat jahat terhadapmu. Kamu harus tetap hidup, jadikan sisa tangismu kekuatan yang akan memapah langkahmu ke depan.

Anakku, dunia mungkin akan terlihat sempit di matamu. Sesungguhnya, engkau akan bertemu dengan orang-orang yang selalu akan ada di hatimu. Hiduplah nak, jangan biarkan dunia mendiktemu. Jalani hidupmu di dunia sebagai orang baik, karena kebaikan tambah langka seiring dengan majunya zaman.

Anakku, buka hatimu nak. Untuk apapun yang akan kamu lakukan, katakan, dan pikirkan. Jangan kamu tinggalkan hatimu di balik kata logika.

Untuk anakku, kelak...

reflected by Nahria Medina Marzuki
5:33:00 PM
|
Tuesday, May 16, 2006
Cinta lain
Buat apa aku berlari
bila akhirnya
kuberlari di jalan yang salah

Buat apa aku memilih terbang
bila harapanku bukan berada
di langit

Juga..
untuk apa aku berharap
denganmu

bila kamu meracaukan
semua anganku

Jika akhirnya
kumemilih tinggal
tak melanjutkan mimpiku

bukan kumenyerah
pada cintaku

Aku hanya memilih
cinta yang lain

boleh?

reflected by Nahria Medina Marzuki
7:13:00 PM
|
Monday, May 15, 2006
Mengusung tradisi dengan panggilan
Haloo semua! salam kenal!
Nama Saya Ami.. saat ini saya berlokasi di Melbourne karena sedang nemenin suami kuliah dan menjadi full time mother disini untuk anak Saya tercinta Addry (2 thn).


Sekilas isi email perkenalan di salah satu milis penulisan yang saya ikuti. Email sejenis itu bukan hal yang baru lagi yang mengisi milis. Karena memang memperkenalkan diri bisa dibilang hukumnya wajib bagi setiap anggota baru, bila tidak mau dibilang tidak memiliki etika :-)

Tapi email ini sempat membuat saya mengerutkan kening. Sebentar, Ami..Addry..Melbourne. Sounds familiar. Baru saya ingat. Ya ampuuun, dunia sempit sekali. Karena Ami ini ternyata istrinya anaknya keponakan mamaku.

Selanjutnya, saya dan Ami saling menyapa lewat Yahoo Messenger. Kembali, kita ditimpa kebingungan saat harus membiasakan diri dengan panggilan. Lho, kenapa? Soalnya Ami harus memanggil saya dengan sebutan tante, padahal secara usia kita hampir sepantaran.

Saya sempat protes juga, kenapa harus tante? Apakah saya sudah begitu tuanya sampai harus dipanggil dengan sebutan itu? Tapi ya mau bagaimana lagi, karena kalau diurut secara silsilah Ami musti menghormati saya dengan panggilan tante.

Jadi beginilah, bila sepasang saudara yang sepantaran harus mengusung tradisi. Saya harus rela dipanggil tante oleh selain anak-anak dari kakak-kakak saya :-)

reflected by Nahria Medina Marzuki
3:00:00 PM
|
Thursday, May 11, 2006
Done you
Knowing my heart belongs to me

Thus,
no one could ever take it
out of me

nothing could make me
do otherwise

Even so..

I'm done crying over you
I'm done doing things for you
I'm done making poem about you...

I'm done you...

reflected by Nahria Medina Marzuki
10:07:00 AM
|
Wednesday, May 10, 2006
Perempuan itu..
Perempuan itu berdiri di pinggir jurang. Siap untuk melompat menuju kedalamannya. Siap untuk mengakhiri segala sakitnya.

Semilir angin bertiup ia rasakan sejuk di kulit mukanya yang basah karena tangisnya sekian lama. Tubuhnya menggigil, entah karena hembusan angin atau kebekuan hatinya yang mulai mencair.

Perempuan itu telah berdiri selama satu jam di situ, di pinggir jurang itu. Segala peristiwa dalam hidupnya silih berganti bermunculan di benaknya, seperti slide-slide rol film yang berputar.

"Berusahalah, sampai jiwa dan ragamu lelah." Lewat monitor komputernya siang itu, seorang sahabat menasehatinya.

"Aku sudah lelah, tapi aku masih memiliki rasa itu," jawabnya.

"Ketika kamu lelah, tapi kamu masih memiliki rasa itu. Itulah cinta."


Perempuan itu menutupi mukanya dengan sebelah tangannya, untuk mengusir kecamuk di hatinya.

"Namanya Rena. Aku sayang sama dia."

"Selamat ya, akhirnya kamu menemukan belahan jiwamu."


Ia mengucapkan selamat dengan tulus, walau sebelah jiwanya patah saat mengatakannya.


Sudah 3 jam lebih perempuan itu berdiri. Kali ini kedua belah tangannya menutupi mukanya. Tangisnya melebur dalam jari-jemarinya.


"TUHAN, AKU SUDAH LELAAAAH!" teriaknya kepada alam sore itu. Kini raut mukanya menunjukkan kemarahan, keletihan, kebimbangan, semua rasa yang saling beradu dalam jiwa ragany


"Aku sudah teramat lelah. Tolong hilangkan saja semua rasaku, Tuhan," isaknya yang kini kian menjadi.


Gaung suaranya memantul dari penjuru alam.

Angin tetap berhembus lembut. Seolah ingin mendamaikan hati perempuan itu.


Jurang tempatnya berdiri masih di sana. Siap untuk dijadikan tempat terakhir bagi siapa saja yang ingin mengakhiri segalanya.


Perempuan itu beranjak menjauhi jurang. Menatap semburat mentari yang kian terbenam. Ia melangkahkan kakinya menjauhi jurang itu.


Perempuan itu..aku.


reflected by Nahria Medina Marzuki
1:23:00 PM
|
Monday, May 08, 2006
Catatan di hujan
De ja vu' lagi...

Kenapa aku? lama-lama ini menjadi sebuah rutinitas kehidupan cintaku. Saat aku mulai nyaman dengannya, sesuatu terjadi.

Kenapa dia? dari sejuta lebih hembusan nafas di dunia ini, haruskah selalu nafasnya yang selalu lebih banyak mengisi relung hatiku.

Kenapa kita? dari jutaan nyawa di dunia fana ini, kenapa harus aku dan dia yang tak saling menyapa?

Aku tak bisa lagi menjalani ini. Bilang aku pengecut, seorang yang pengalah, atau apalah sesukamu. Tapi terimakasih. Aku tak perlu lagi untuk menyerahkan jantungku, hatiku bahkan hidupku ke tangan orang lain.


Kenapa aku yang benci pada hujan malam ini?


Gemericiknya yang tiada henti
menyenandungkan nada-nada memori lama

Malam ini, hujan

Ingin kudekap rintiknya
yang bertetesan
membasahi dunia

Kukejar jejakmu
di lembabnya angin malam
bersama maaf yang tertinggal

Parau suaraku
memanggil namamu
yang hilang
tertelan kerasnya nyanyian hujan


Malam ini, hujan


saat kupeluk
sisa-sisa rintiknya

ia mengering


meninggalkanku
dengan ingin yang sangat

untuk hujan
membawanya kembali
buatku
lagi

reflected by Nahria Medina Marzuki
7:01:00 PM
|
Sunday, May 07, 2006
Saat itu
Pergi

..memenuhi janji
untuk musnah
darinya

Bila puing-puingku
tlah terurai
menjadi debu dan tak terbudakkan rasa lagi


Bila ku tlah berhenti
mencari jawaban
dan
membiarkanmu lewat
dari hidup seorang ria


Saat itu
akan ada

..saat kutak lagi rasakan
darahku beku
di sela-sela kecewaku

reflected by Nahria Medina Marzuki
6:43:00 AM
|
Friday, May 05, 2006
Bayangmu di aku
Musim belum berganti tapi daun-daun berguguran, ikut menunaikan kewajibannya merasakan gemuruh di hatiku.


Gemuruh di hatiku kembali terdengar, sekian lama melarutkan diri dalam kesunyian hati. Kini kembali menyuarakan apa yang teredam lama.

Kesunyian hati terusung di paling dalam, tak berani menyuarakan sedikitpun kata hati. Takut, kalbu akan remuk mendengarnya.


Dan tadi..semuanya porak-poranda habis memakan semua janji untuk tetap dalam keheningan. Tadi terlalu ramai untuk dibiarkan tak bersuara. Tadi terlalu indah untuk dibiarkan tak terlukis. Tadi terlalu merdu untuk dibiarkan tak bersenandung.


Tapi tadi..aku membiarkannya tanpa sempat.

Bahkan untuk membekukan waktu.
..
untuk meleburkan bayangmu di aku.

reflected by Nahria Medina Marzuki
7:45:00 PM
|
Monday, May 01, 2006
?
Begitu banyak inginku

Pena ini memburu
menuju kering

Cepat!
Tinggalkan!
Sekarang!

Hatiku menderu mengejar..

Aku harus cepat
meninggalkan keinginanku padanya


sebelum ia mencabikku
menjadi manusia tanpa rasa


(boleh, aku beristirahat sejenak. Sampai senja membawa lelakiku kembali?)

reflected by Nahria Medina Marzuki
6:01:00 AM
|