|
| |
|
Sunday, July 30, 2006 |
|
Keangkuhanku
|
Janganlah kau angkuh untuk meneteskan airmatamu. Mengaku tak memiliki dosa apapun juga...
Astagfirullaah, jujur saya sempat menyangsikan apakah hati saya masih dapat tersentuh di ESQ kedua saya ini.
"Apa yang diberikan oleh matahari di pagi hari?"
Jawabnya adalah cahaya.
Iqra (bacalah dengan nama Tuhanmu)...
"Apa yang diberikan oleh matahari di pagi hari?"
Iqra (bacalah dengan nama Tuhanmu)...
Siapa yang memberikan cahaya itu kepada matahari?
Iqra (bacalah dengan nama Tuhanmu)...
Allah..Allah..Allah...
Saya begitu angkuh, begitu sombong, begitu picik bertekad tak akan lagi meneteskan airmata ini.
"KENAPA KAU MASIH MENYANGSIKAN TUHANMU!!"
Dan pertahanan diriku rubuh, kesombonganku luluh lantak begitu mendengar pertanyaan itu.
Aku merintih memanggil nama Tuhanku. Begitu lama kumempertanyakan keesaan-Nya. Begitu sering ku sangsikan jalan-Nya. Bahkan tak jarang kumarah pada keputusan-Nya akan fisikku, akan kemampuanku, akan pekerjaanku yang tak kunjung tiba.
Aku hanyalah seorang manusia yang kecil. Siapa aku yang pantas mempertanyakan keagungan Tuhanku?
Rentetan kata-kata keluar dari mulutku, takut sebelum nyawa ini tercabut..
aku belum sempat memohon..
Maafkan aku Ya Allah..maafkan aku... |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
10:37:00 PM
|
|
|
|
|
|
Wednesday, July 26, 2006 |
|
Menuju: pulang
|
"Kita akan melakukan perjalanan ke luar dari kita. Mari saudaraku, kita tundukkan kepala, pejamkan mata dan cobalah bersihkan hati kita."
"Apaan sich? Norak ih." Runtukku (dalam hati saja). Tapi aku mengikuti yang lainnya, yang mulai menundukkan kepala mereka.
"Saudaraku, kita sedang keluar dari diri kita. Dan kita dapat melihat kehidupan kita sendiri selama ini."
"Lihat apa sich? Tidak ada apa-apa kok," batinku tapi tetap mencoba ikut dalam (yang kukira) permainan ini.
Tapi.. potongan-potongan pagiku tadi mulai berkelebatan dalam benakku. Dimulai dari aku bangun pagi, aku yang selalu tergesa sebelum pergi, aku yang telah membentak asisten mamaku di rumah.
Semuanya mulai bergulingan dalam benakku. Kepalaku mulai terasa berat.
"Saudaraku, apa yang telah kau lakukan dengan hidupmu?"
Dan kepingan-kepingan hidup diriku kembali berserakan.
Tak sadar, aku terisak. Melihat aku yang begitu menyia-nyiakan banyak kesempatan untuk berbuat baik.
Dan kutersungkur dalam genangan penyesalan. Saat tak dapat kuraih satu keping itu untuk kusambung lagi, untuk kuperbaiki. Aku begitu bodoh. Tak tahu malu. Naif. Tak tahu berterima kasih.
Aku akan menghadap Tuhanku dengan tangan hampa. Tanpa perbekalan apapun. Rumah surga akan terlihat jauh dariku. Api neraka akan menyambutku.
Allah, aku maluu. Maafkan aku Allah. Jangan lepaskan cinta-Mu. Jangan lepaskan pegangan-Mu.
Aku seperti anak kecil. Merengek-rengek kepada Allah untuk dimaafkan.
Ah, apa yang sudah kulakukan selama ini?
Aku akan pulang kembali ke jalan-Nya. |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
8:27:00 PM
|
|
|
|
|
|
Friday, July 21, 2006 |
|
Mendengar suara Allah
|
Subhanallaah, ESQ kemarin mengajarkan banyak sekali bagi diri saya pribadi. Di hari kedua kita (terutama saya) mendapat pencerahan tentang suara hati.
Saat itu Bapak Iman (trainer kita) memanggil salah seorang peserta untuk menemaninya di depan.
Kemudian, Pak Iman mengajak ngobrol beliau sambil beranjak duduk. Otomatis peserta tersebut ikut duduk. Setelah orang itu duduk, Pak Iman beranjak berdiri. Kembali, bapak itu ikut berdiri.
Hal itu terjadi sampai 3 kali, Bapak Iman duduk dan kembali lagi berdiri. Sampai akhirnya Pak Iman duduk kembali dan peserta training yang dipanggilnya diminta untuk tetap berdiri.
Kelihatannya trainer saya sedang bercanda ya?
Ya, itulah yang ada di pikiran saya juga.
"Bapak-bapak, ibu-ibu, apa yang ada dalam pikiran kalian sekarang?" begitu tanya Pak Iman kepada peserta training.
Macem-macem jawabannya.
"Pak Iman, berdiri." "Pak (tertuju ke si peserta yang di depan), duduk aja."
"Apakah saya akan berdiri begitu saja?" tanya Pak Iman lagi.
Peserta training mulai terlihat ragu-ragu, sampai ada seorang ibu yang maju ke depan untuk meminta si bapak yang berdiri untuk duduk juga.
Ibu itu telah mengikuti suara hatinya :-)
Sering suara hati kita tergelitik untuk melakukan suatu kebaikan. Tapi sering juga apa yang kita dengar di hati kita berhenti hanya sampai di hati saja. Tidak lebih. Begitu juga saat misalnya kita ingin berkata kasar kepada teman kita, lalu ada suara dalam hati yang berbisik: "Jangan begitu, nggak baik."
Kenapa donk kita sering mengabaikan suara hati?
Jawabnya, ya karena kita masih punya persepsi, masih ragu, masih mempertanyakan suara hati kita sendiri.
Pernahkah kita berpikir: siapa yang membisiki hati kita? Sebenarnya, itu suaranya Sang Khalik.
Saya juga baru belajar, kalau ternyata suara hati itu adalah suaranya Allah (Tuhan).
Lalu, kalau kita masih memiliki prasangka bahkan dengan suara hati sendiri...
berarti kita menyangsikan Allah. Astagfirullaah,
Ya Rabb, ampunilah hamba-Mu yang sering mempertanyakan diri-Mu.
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
1:26:00 PM
|
|
|
|
|
|
Monday, July 17, 2006 |
|
"Apa yang kamu mau?"
|
Akhir minggu kemarin, alhamdulillaah saya mendapat kesempatan mengikuti training ESQ selama 2 hari.
Di hari kedua, ada satu session yang sangat melekat di hati saya.
Para peserta training diminta untuk berpasang-pasangan (tetap laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan). Syaratnya usia antara kita dan partner kita tidak boleh terpaut terlalu jauh.
Kita diminta untuk duduk berhadapan. Setelah menentukan siapa orang pertama (yang bertanya terlebih dahulu) dan orang kedua (yang menjawab), semua lampu di ruangan itu dimatikan sehingga ruangan menjadi gelap.
Kemudian trainer kita (Bapak Iman Herdimansyah) meminta kita untuk membayangkan bila saat itu adalah detik terakhir kita di dunia.
Selanjutnya, kita diminta untuk berpelukan setelah sebelumnya mengucapkan Basmalah dan bersumpah untuk menjaga kerahasiaan apapun yang diucapkan oleh masing-masing dari kita.
Dan orang pertama diminta untuk bertanya kepada orang kedua.
Pertanyaannya simple sekali, "Apa yang kamu mau?"
Dan bila ia tidak dapat menjawab, yang bertanya harus memukul punggung temannya.
Saya adalah orang kedua, dan teman saya menjadi yang bertanya.
Subhanallaah, ternyata, sulit sekali menjawab pertanyaan sesimple itu. Begitu banyak yang saya inginkan di ujung ajal saya.
Begitu juga ketika giliran teman saya menjawab. Kita berdua tidak dapat menahan buliran air mata kita.
Tangisan karena kesedihan, juga karena kebingungan menjawab pertanyaan itu.
Setelah itu, kita diminta untuk saling mengucapkan 2 Kalimat Syahadat di kuping kita. Dan berkata,
Saudaraku..
Tuhanmu bukan anakmu Tuhanmu bukan orangtuamu Tuhanmu bukan hartamu Tuhanmu bukan gelarmu...
Saudaraku..
ALLAHU AKBAR
Yang kita mau hanyalah ALLAH.
Di saat itu, saya merasa begitu kecil sekali. Betapa saya telah menyepelekan kehadiran Allah sekian lama di hati saya, dan lebih mencintai yang lain di atas Allah SWT.
Saya merasa takut, bahkan malu. Betapa saya sudah diberi nafas secara gratis, dan saya menyia-nyiakan Pemberi nafas saya.
Astagfirullaah.
Maaf, tulisan ini bukan bermaksud apa-apa. Saya hanya ingin berbagi pencerahan yang Alhamdulillah saya dapatkan di akhir minggu kemarin.
Subhanallaah
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
7:05:00 PM
|
|
|
|
|
|
Wednesday, July 12, 2006 |
|
Miscellaneous
|
Stumble, when morning crawls to crowning the day
Thinking, today I'm over you
Really tiring having this feeling |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
6:57:00 AM
|
|
|
|
|
|
Thursday, July 06, 2006 |
|
Jakarta, malam panjang
|
Silau menipis di sudut malam ikut meninggalkan pagi
Temaram Maghrib menghiasi titian Jakarta
Ada yang masih sibuk selalu
dengan tumpukan kertas.. berjuta-juta uang dihitungnya beratus-ratus tempat disinggahi
Bila nakal (atau) nafsu? menggeliati hati maka mencumbu kupu-kupu jalananlah
hiraukan jenis kelamin, terkadang
atas nama hiburan..melepas lelah..bosan
Jakarta malam panjang selimurkan makna hidup
Dua sisi yang memiriskan hati
Di dalam suatu kaca saling bersulang memanjakan diri menyuapi keinginan birahi
Tak ada yang sadar, melihat di luaran.. mengais, mengiba..mengorbankan martabat
memuaskan diri?
aaah, terlalu muluk..
Malam ini
berharap untuk masih melihat sinar esokpun
sebuah harapan yang tinggi untuk dijangkau |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
11:35:00 PM
|
|
|
|
|
|
Saturday, July 01, 2006 |
|
Knowing "there"
|
Suatu siang di hari Sabtu.. "I don't belong there, mbak."
Aku tersenyum, bukan karena aku menertawakan pemikiran temanku itu. Senyumku lebih karena aku sempat punya pemikiran seperti itu, dulu.
Setiap saat aku berada di tengah-tengah orang lain yang kupanggil "teman", aku tidak bisa menghindar untuk tidak bertanya dalam hati, "apakah aku benar-benar termasuk dalam komunitas ini, atau aku hanya lagi memakai topeng nyamanku?"
Tidak dapat kupungkiri kalau rasa jengah, kurang nyaman, malu ataupun terkadang minder sering aku rasakan bila lagi berkumpul dengan teman-temanku. Mungkin karena aku merasa terkadang pandanganku berbeda dengan teman-temanku. Juga gaya hidup mereka yang berbeda dengan aku.
Bila kamu merasa tidak nyaman dengan teman-temanmu,
apakah kamu harus pergi dari mereka?
Hmmm, aku akan balik berkata.. "kenapa aku harus selalu mencoba untuk menyamakan bedaku untuk dapat diterima? Pilihan untuk hengkang dari "there" juga tidak pernah menjadi pilihanku. Karena aku tidak mau selalu mengambil the easy way out. Buatku, bila orang selalu ingin mengambil jalan yang mudah, ia tidak akan membangun cara berpikirnya.
Aku merasa aku punya kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain. Jadi sebenarnya rasa tidak nyaman dan rasa tidak yang lain-lainnya itu tidak perlu. Lagian, Tuhan juga sengaja menciptakan makhluknya berbeda-beda.
Aku mencoba memahami komunitasku. Kalaupun memang tidak semuanya sejalan denganku, ya mudah saja kan? Aku tidak perlu mengikutinya, aku juga tidak berusaha untuk mengubag mereka.
Hmm, mungkin aku akan menjawab temanku yang merasa tidak belong there dengan:
"Apakah kamu sudah berusaha mengenal 'there'?" |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
12:44:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
|