Redlicious Campaign
Photobucket
Contact Me

Me, mine & My Family
Inside My world

blognya kakak iparnya Yaya


Inspirations


Hi there :)
Name :
Web URL :
Message :
Previously
Aksara mengeja maaf
Mengais kenangan
Antara aku, indent, Lebaran dan keluarga
Kalau emang harus mundur
Jangan ngalah sebelum berjuang
DREAM BIG
Menembus "bulan sulit"
They're not my downlines, but..
Finding your own Nemo
Belahan jiwa
Archivess
August 2004
September 2004
October 2004
November 2004
December 2004
January 2005
February 2005
March 2005
April 2005
May 2005
June 2005
July 2005
August 2005
September 2005
October 2005
November 2005
December 2005
January 2006
February 2006
March 2006
April 2006
May 2006
June 2006
July 2006
August 2006
September 2006
October 2006
November 2006
December 2006
January 2007
February 2007
March 2007
April 2007
May 2007
June 2007
July 2007
August 2007
September 2007
October 2007
November 2007
December 2007
January 2008
February 2008
March 2008
April 2008
May 2008
July 2008
August 2008
September 2008
October 2008
November 2008
January 2009
February 2009
March 2009
May 2009
June 2009
July 2009
September 2009
October 2009
Awards
Menang lagi

juarafavorit

BF Girl

Happy B'day Indonesia

Aktivis Kopdar Blogfam '05

Fun Stuff
thank you :)
The Writers
Friends' Banners
Dhira dan Lia




Ebook Gratis
ebook-bisnisonline
Communities
banner150x26orange





banner angingmammiri
Siap bergabung?
click me
Thanks to
Free Blogger Templates

BLOGGER

 
Friday, November 30, 2007
Langit, aku tak lagi menatapmu
Langit

masih membiru. Biar kadang hujan memburamkan menjadi keabuan, dasarnya biru=langit dan langit adalah biru.

Hati

masih hadir. Biar lamat-lamat mematikan rasa, ia kukuh ingin meninggalkan setitik bekas di sana.

Masih

setiap merasakan biru dan abu-abunya langit, desiran nafas seorang dia tetap terasa. Sebuah ironi..karena seorang dia kini tak pernah lagi ada hadir dalam hidup seorang aku.

Seorang aku

yang masih menunduk, tak lagi suka dengan langit..karena sketsa wajah seorang dia yang masih menggores pada dasar langit.

Rasa

pada seorang aku yang memilih menetap enggan beranjak dan pindah di diri yang lain.

Labels:


reflected by Nahria Medina Marzuki
3:27:00 PM
|
Wednesday, November 28, 2007
ASAP!
Hari ini rasanya hectic slash sibu slash tanpa jeda banget.


Semuanya mau ASAP!

Dimulai dari pagi saat harus mengetik dokumennya mama (kalau semua kakak-kakak udah gak lagi di rumah, maka pekerjaan remeh-temeh seperti ini otomatis menjadi kerjaan anak yang masih serumah dengan orangtua) yang ternyata lumayan banyak yaaa :p

Otomatis rasanya gak mungkin buat ngerjain yang lain, secara ini dokumen penting yang butuh konsentrasi tinggi mengetiknya. Kira-kira jam 11an mulailah pesan-pesan melalui YM berdatangan:

"Mbak, blog saya kok belum diedit?
(ini dari clientnya Satusatu)

"Iya mbak, bentar ya."

"Warnanya Orchid bisa gak mbak, trus side
barnya belum dibenerin ya?

"Iya mbak, nanti dikerjain kok."


Tak lama, suara kucing dari handphone (artinya ada SMS masuk).

"Mbak, aku mau order 4773, 4772, bla bla.."
(ini dari downline yang rada
kurang mandiri, baca: manja, hehe)


Nelpon Oriflame, order barang.

Selesai?

Beloooom!!

Dari situ sampai jam 4 sore harus bolak-balik antara ngedit blog..bikin artikel untuk web suatu komunitas..belajar ngedit foto..Yman sama downline..bolak-balik ngecek poin (hehe)..nyatet sumbangan untuk baksos..

Huaaaaaa, rasanya gak sempet nafas lega gini. Tapi tetap, berusaha ngambil moral of the story (berusaha nyari "untungnya")..

Hmmmmm...

banyak tanggung jawab berarti dipercaya dooonk. Iya gak siih? :))

Labels:


reflected by Nahria Medina Marzuki
7:03:00 PM
|
Monday, November 26, 2007
Operasi Romi
Hari Minggu kuturut ayah ke kota, naek delman istimewa kududuk di muka…

Tiba-tiba jadi inget sama ini lagu, huuu tapi nasib aku nggak sebaek si aku di lagu itu sich, secara di hari Minggu ini di saat mentari bersinar dan burung-burungpun berkicau dengan merdunya (garing mode on) aku malah bersimbah keringat *oke, ini sich hiperbola* ditemeni setumpuk debu di kamarku.

“CAPEEEEK!”

“Sama donk non, mbak juga capek nich..”

Jangan bilang aku rajin ya, lebih milih bersih-bersih kamar daripada ke rumahnya Naya, sahabatku yang cantik tapi agak lemot itu. Tapii ini semata-mata buat nurutin 1 dari sekian banyak aturannya mama kok: HARUS WAJIB beresin kamar sebelum kelayapan di luar rumah. Tentu aja dengan embel-embel “kalau tidak..”

“Ramayana Juliet Maharani Jayadiningrat tolong deh! Kamar napi aja lebih bersih kali dari kamar kamu.”

Hei kamu yang lagi baca sambil ngemil popcorn. Dilarang ketawa! Iya! Itu memang namaku! Nama yang menurut semua guru di SD IR (Indonesia Raya-tadinya nama sekolah ini MMBKB; Mari Membangun Bangsa Kita Bersama) sangat lucu (baca: aneh). Kalau dulu nich pas jamannya mobil Land Rover masih terbilang keren, dengan nama belakang bak kaum nigrat kayak gitu pasti bikin semua orang terkagum-kagum. Kalo sekarang? NO WAY! Kenapa ya para ortu kita suka banget ngasih nama “Siti Marsiti” atau “Cucun Cicakrawa” aja sekalian. Contohnya ya para artis kita itu deh. Dari IYEM SURPIYEM ganti jadi DEWI ME (pasti abis namanya ganti, langsung album dangdutnya melejit).

Maklum aja ya, nyokapku pas ngidam tergila-gila sama filem Romeo& Juliet dan bokap entah kenapa suka banget nonton pertunjukan..err..apa itu namanya pertunjukan Jawa yang ada Ramayananya? Eniwei, ya gitu deeh nama aku jadi campur sari gini. Padahal aku asli Batam. Untung namaku bukan Romeo atau Rama!

Kembali ke kamarku, mbak Karsih pembantu di rumahku yang walopun usianya udah kepala 3 ke atas tapi tetap centil dan lincah sedang mengelap tumpukan komik Nina sampe buku Jangan Jadi Cewek Cupunya Iwok Abqary. “Neng, gimana kalo buku-bukunya kita taro di luar kamar dulu, biar dapet udara seger gitu.”

Oke deh mbak, tapi “saya” bukan “kita” donk ah.

Langsung kita bergiat bersama mindahin tumpukan komik dan buku keluar kamar.

“Neng, ada yang ketinggalan tuh bukunya. Ih gambarnya lucu amat ya neng.”

Pas kuliat, O M JI, apa kabarnya diary SDku ini yaaa?? Sebelum diary dengan gambar Fido Dido ini dibaca si mbak, aku buru-buru mengambil diaryku dan membuka lembar demi lembar yang berisi kalimat nan manja dan jayus itu

*******
Hihi. Kamar Naya kebalikan banget dari kamarku. Bersih dan kinclong bo’! Naya emang cewek yang rajin, selain cantik. Nggak heran degh, Nino cowoknya sayang banget sama dia.

“Haiyooo, lagi buka situs porno yaa?” Naya yang lagi buka situs Blogfam.com kaget.

“Yee, nuduh!”

"Nich," aku menunjukkan sebaris tulisan di diariku ke Naya, sahabatku.
Hari ini Romi berkata aku adalah "the one-nya."

"Heh?? Maksud loe?" wajah Naya nampak bingung.

"Iya, aku mau nyari dia," jelasku tanpa basa-basi ke Naya yang otaknya suka bolot sesaat.

"Nyari Romi? Ayo, berapa nomer hapenya?" Naya langsung meraih hapenya, siap untuk memencet tombol angka di hapenya.

"Yeee, kalo semudah itu mah gue juga bisa kalii. Maksud gue, gue mau nyari Romi yang sekarang nggak tau dimana," ujarku pelan takut disambit bantal sama Naya.

"Truuuss, loe mau cari gimana?"

"Nggak tau," aku kembali menjawab.

Naya menatapku dengan pandangan “Hellooo, Rana. Yuhuuuuuu, how on earth do you want to find someone that you know completely nothing about him?”

“Mana gue tau, secara sejak lulus SD gue kehilangan kontak sama si Romi dan dia juga ilang aja gitu ditelan angin.”

“Emang angin bisa nelen?”

“Garing loe!”

“Hehehe. Oke gampang deh, nama lengkapnya siapa? Kita cari aja di Frenster."

"Nggak tau," jawabku.

"Nama bokapnya deh?"

"Nggak tau juga," jawabku lagi.

"Nama adeknya, keponakannya, pembokatnya??" Naya mulai tak sabar.

"Nggak tauuuuuu," aku mulai terdengar bodoh sekali.

GUBRAKS!!
************

OPERASI MENCARI ROMI
1.Ngubek-ngubek frenster (seminggu).
2.Pasang di buletin frenster
3.Pasang iklan di Koran (jalan terakhir kalo udah kepepet banget dan muka gue udah setebel donat). Nomer 1 dan 2 udah aku lakukan, tapi hasilnya nol!

“Masih nihil Tuan Putri?”

Aku terkejut. Naya muncul di kamarku sembari menenteng kresek yang isinya...DONAT! Asyiik! Ini yang aku tunggu, cemilan favoritku.

“Nyam, ummm, nyaamm..” aku menyamber 1 donat coklat dan Naya hanya bisa maklum dengan kegilaanku sama donat ini. “Hmm Nay, udah seminggu nich, kok hasilnya nihil ya? Apa kita berenti aja operasi nyari Romi ini?”

“Yeee, jangan donk! Masa nyerah, baru juga seminggu.”

“Hmmm.” Aku lalu menyalakan YMku. Naya? Dia sibuk baca Nina. Belum lama…YAHOOOO!!
Romiganteng: Hei, aku baca buletinmu di frenster.

Namanya sich emang Romi, tapi perasaanku dia bukan Romi yang aku cari. Huuh, ini sich ajang cari jodoh yang nyebelin. Naya sich, nyuruh aku nyoba-nyoba. Udah jelas juga SDnya si Romi Sihombing ini beda, lagian Romiku bukan orang Batak! Betenya lagi, Romi ini suka banget pake icon ngedipin mata. Ih, nggak banget degh!

“Coba aja, Ran! Siapa tau ini Romi tapi belagak pilon?”

“Tapi SDnya aja beda, Nay. Bohong banget si Romi ini.”

“Yaaah..”

Dan hasilnya: aku=0 Naya=1 karena akhirnya dia yang ngeadd si Romi itu di Frensternya. Dasar, gak mau rugi! Malam ini sebelum tidur aku mengecek SMS di hapeku. Ada 1 pesan, nomernya memang nggak kenal tapi kalimat awalnya donk: hei Ningrat :)
Hanya 1 orang di dunia ini yang berani manggil aku Ningrat dan langsung lari begitu aku masang muka cembetut.

Hei Ningrat, gue sebenernya nggak punya frenster tapi adek gue Bintang (kalo loe Rana Ningrat beneran pasti inget sama dia) yang ngasih tau kalo ada yang nyariin Romi yang ilang dari SD IR di bulletin. Waktu Bintang nunjukin foto loe, hahaha gue yakin suryakin itu eloe: NINGRAT! Apa kabar loe, Rat? Ningrat yang pernah nangis karena gue tarik tangannya di kelas ;) Oke deh, kapan bisa ketemuan?Bai de wei, gue nggak bawa sendok loe kan makanya dicariin? Hehehe, dunia emang hanya sebatas daun aja ya. Gue masih inget lho semuanya tentang loe :D

YIHAAAAAA!! HOREEEE!!! Aku langsung loncat-loncat kesenengan dan melakukan gerakan mengepalkan tangan dan menariknya (err, ya gitu deh) YES! YESSS! YESSS!!

Kafe Tralala jam 7 malam

Semestinya aku janjian ketemu Romi jam 8 malem. Tapi karena aku termasuk orang yang sangat on time dan sebenernya karena factor nerfes (nervous-deg-degan→ ok, ini nggak penting), aku memutuskan dateng sejam lebih awal. Lagian, kata orang-orang nich dateng lebih awal bisa membangkitkan rasa percaya diri kita. Haduuuh, tapi kenapa aku udah pipis sampe 5 kali ya?? Bolak-balik aku merapikan rambutku dan mengecek diari Fido Didoku di tas.

Setelah sejam menunggu, “Assalamualaikum, sendirian aja nih?”

Aku menoleh ke belakang dan ia hampir aja jatuh dari kursi. Memoriku langsung berlari ke jaman SD, di saat Romi masih terlihat kecil dan tidak ganteng sama sekali. . Tapi sekarang, hmmm tau Didi Elemen yang cakep itu? Nah kayak gitu cowok yang manggil aku.

“Didi Elemen! Hehehe, enggaklah! Gue Romi yang kamu cariin. Waah Ranaa, kamu tambah manis deeh dengan jilbab pink. Romi tanpa basa-basi memelukku erat sampe aku butuh tambahan oksigen. Romi guedeee banget, tingginya 173 cm dan aku 165, oke..155 cm.

“Uffff…udah donk, malu tau diliat orang.”

Romi duduk di depanku ketawa. Aku masih nggak percaya ini Romiku, akhirnya.

“Akhirnya kita ketemu juga ya, Rat. Apa kabar kamu habis lulus SD?”

“Baek donk, kamu?”

“Baek juga. Haiyaah, kenapa jadi formil amat kita ya? Kan biasanya eloe gue buat nangis. Hahaha.”

Ingatanku kembali jalan-jalan ke kelasku di SD dulu. Waktu Romi dengan suksenya membuat aku nangis, gara-gara tanganku dia tarik kenceng banget. Tapi selain itu, Romi baek banget, dia selalu bilang, “Rat, kamu nggak boleh kelaperan ya. Kalo nggak bawa uang jajan, bilang sama aku. Ntar aku beliin.”

“Sebenernya gue juga mau nyari elo, Rat. Tapi abis SD, bokap kan dipindah tugas ke Balikpapan, nah gue sekeluarga boyongan deh ke sana juga. Ternyata, eloe duluan yang nyariin gue, hehehe. Kenapa? Cinta ya sama gue.” Romi mengedip.

“Huuu, GR! Siapa juga yang cinta sama eloe?” wajahku mendadak jadi merah kayak tomat. “Soalnya kemaren gue nemu diariku ini lho,” aku mengeluarkan diariku.

Romi menatap diariku sambil tersenyum, “hmmm, bentar, gue inget waktu itu gue pernah bilang eloe my the one ya? Trus loe langsung nulis di diari itu. Hahaha, waktu loe nulis gue kan ngintip tau. Waktu itu kan gue abis nonton film apa gitu yang ada tag line “the 1” segala. Gue isengin aja loe.” Hmm, eloe the one-nya gue bukan yaa? Eh tapi eloe emang the one gue sich, satu-satunya cewek yang pernah gue buat nangis tapi nggak pernah gue lupain.” Kali ini nada bicara Romi terdengar serius.

“Masa’ sich?” duh, kenapa aku jadi deg-degan ya?

“Bener, bukannya gue mau so’ ngerayu loe lho. Gue percaya ada yang ngatur ketemuan kita ini. Buktinya, mestinya gue kerja malem ini. Tapi demi ketemu eloe, gue rela dapet SP deh.”

“Haaa??”

“Iya, hehehe.”

Aku bengong, aku tau sich awalnya aku nyari Romi bukan dengan harapan you know deh. Tapi semata untuk jaga hubungan baek aja (yeah, rite!). Tapi ini di luar scenario yang aku bayangkan. Hatiku serasa kesetrum (listrik bukan nyamuk).

“Gini deh, kita mulai dari awal lagi ya.” Romi menarik tanganku kenceng tapi lembut (gimana coba?).

“Aduuh, sakit tau!” aku meringis, pura-pura sich.

“Hahaha,” Romi tertawa.

Malam itu aku serasa ngeliat bulan lagi tersenyum deh.

Labels:


reflected by Nahria Medina Marzuki
2:40:00 PM
|
Thursday, November 22, 2007
Pernah?
Pernah?

mencintai seseorang walau
dia tidak lagi berbicara denganmu?

Aku..

sampai sekarang



*Bintaro...ketika malam menemani

Labels:


reflected by Nahria Medina Marzuki
8:05:00 PM
|
Friday, November 16, 2007
We are just two strangers
We are two strangers
who just met in the virtual world

But somehow
we feel the connection
so close

So close
to our hearts


She is feeling what I'm feeling
she's saying what I'm thinking

We are sharing..

the same story
the same sadness
the same worries
the same hopes


Yes, we are just two strangers
that will lend each other's shoulder to cry on

Labels:


reflected by Nahria Medina Marzuki
12:14:00 PM
|
Monday, November 12, 2007
Untuk sepenggal kenangan
Kenangan selalu memiliki caranya yang unik
untuk menyelinap masuk dalam sel-sel otak kita



Seperti aku
yang ingat Dinda


Dinda..
apa kabar? Kamu seperti hilang termakan oleh lilitan waktu yang terus berputar. Dan aku sampai tidak tahu lagi apa-apa tentangmu.

Aku tahu,
dulu aku yang ingin kamu menghilang pergi dan tidak ada lagi dalam kehidupanku. Saat itu kata memaafkan dariku masih sulit untukmu. Dan aku memilih menutup hatiku darimu.

Dinda..
kamu sudah mengajarkanku arti kata melepaskan dengan tulus, karena itu yang pernah kita lakukan: saling melepaskan.

Cinta mungkin memilih menyapa kita saat itu, tapi aku memilih tidak mengikuti cinta.

Terimakasih Dinda..

karena sudah mengakui aku ada.

reflected by Nahria Medina Marzuki
6:52:00 PM
|
Wednesday, November 07, 2007
Kita adalah
"Dia datang?"

Aku tersenyum, miris lebih tepatnya..membaca sebait SMS dari Ra, temanku. Sungguh, kalau detik ini ada hujan yang mengiringi malam..rasanya aku ingin hanyut dalam larutan titik-titik curahan air dari langit itu.

Aku memilih menghanyutkan diriku dalam kepastian genangan hujan daripada harus mereka jawaban, yang tak kutahu pasti.

"Dia datang," ingin kubawa anganku jauh terbang untuk melihatnya hadir, walau bukan untukku tapi adanya cukup membuatku ada.

Atau kutepis asa melihatnya hadir, karena asaku akannya hanya akan memadamkan bara semangat di diriku.

Menunggunya..
seperti menanti hujan di musim kemarau.

Ketidak pastian. Seperti dia..yang tidak pasti.

Sudahlah Ra..

aku dan dia ada dalam kebisuan..
kita saling bicara tapi tidak sesama kita..

Kita adalah aku tanpa dia
dan dia tanpa aku...

reflected by Nahria Medina Marzuki
9:01:00 PM
|
Friday, November 02, 2007
Biarkan hati bicara
Saatnya kumeninggalkan dunia dan hingar-bingarnya
(walau kutahu banyak yang menuntutku mengurus duniaku)

Hari ini kubawa langkahku jauh
dari semuanya..

Kulupakan semua aktivitas
yang mungkin sudah membawaku jauh melupakan-NYA..

Aku tutup penglihatan dan pendengaranku
karena kutelah cukup lelah

Akhirnya nafasku menghembus tenang
bahagia..senang..l

Dan rasa lega akhirnya menghampiriku
..tak dapat kurangkai aksara ini

Biarkan hati berbicara..
kubercengkerama dengannya

Dan ku tahu
apa yang hatiku inginkan

reflected by Nahria Medina Marzuki
9:16:00 PM
|