| |
|
Thursday, March 31, 2005 |
|
Aliran yang Baru
|
"Oke class, that's all for today, thank you for coming and I see on Wednesday", hari sudah gelap ketika Nina mengakhiri kelasnya. Saat muridnya yang terakhir keluar dari kelas diapun keluar dan menuju ke kantornya. Pas Nina masuk di kantornya, ternyata temen-temn guru yang lainnya sudah ngumpul semua di situ, juga Tio, guru cowok yang baru itupun masih ada di situ.
Nina menyimpan map absennya di lemari ketika Rendi, bosnya ngomong sesuatu, "Teachers, attention please. I want you to meet your new colleague, Tio."
Langsung secara bergantian semua guru di situ ngomong, "Hai Tio, selamat bergabung ya", "welcome to the jungle". Dan Tio, pusat perhatian malam itu hanya bolak-balik menjawab, "thank you, makasih yaa".Nina yang sudah merasa capek banget dan pinggangnya yang pegel minta dipijet gak ikut menyambut temen barunya itu karena dia merasa toh tadi udah kenalan.
"Na, sini bentar deh," panggil Rendi bosnya.
"kenapa Rend?" bales Nina dengan santai,karena memang di tempat kerjanya tidak ada peraturan untuk saling memanggil dengan sebutan pak atau bu antarsesama guru.
"Loe ngajar kelas Basic 3 ya?" tanya Rendi.
"yes, why?"
"Pinjemin donk buku loe ke Tio, because he's going to teach that level too."
"oke, nich bukunya." Nina-tanpa banyak tanya lagi-langsung nyodorin bukunya ke Tio.
"thanks ya".
"you're welcome, tapi besok bawa ya," balas Nina.
"Ok oke", Tio meng-okekan.
"Ya sud, gue pulang dulu ya Rend, Yo," Nina langsung pamit untuk pulang dan berjalan menuju mobilnya di parkiran, saat tak lama..
"Na,Nina..," ada suara yang memanggilnya.
Nina menoleh dan heran waktu ngeliat Tio yang mengejar di belakangnya. "Kenapa Yo?"
"mmm, can I have your phone number, just in case I wanna ask you something about the book?"
"boleh aja, nomer gue 0817122987, kalo nomer loe?" Nina balik bertanya.
"Nomerku 081314687267".
"Sip, udah ya gue balik".
"Bye Na."
Dan..Tio memang menelponnya malam itu, juga malam-malam berikutnya. Ternyata Tio tidak sependiam yang Nina bayangkan, karena dia itu lumayan nyambung di telpon, juga lumayan terbuka (walopun kalo sifat moody-nya muncul, dia bisa berubah menjadi sedingin es). ==========================================================
Gak terasa sudah 3 bulan Tio menjadi teman Nina, temen kantor, temen ngobrol di telpon, temen. Hanya temen, tadinya. Tapi sekarang..Nina merasakan sesuatu yang beda, ada aliran yang gak lagi sama dia rasakan setiap kali matanya menatap Tio, ngobrol dengannya atau sekedar berpapasan dengannya.
Seperti aliran listrik
mengalir menggetarkan
Itulah cinta
Apakah seorang Nina (yang berusaha untuk selalu nyuekin setiap ada perasaan yang sama hinggap di hatinya) telah jatuh cinta kepada seorang Tio?
Asaku timbul kembali
setelah sekian lama hilang
Rasaku kembali cair
setelah lama ditinggalkan beku mendingin
Senandung kembali terdengar
setelah lama bait-bait lagu tak terdengar
Mungkinkah
aku telah jatuh cinta kepadamu
TO BE CONTINUED (AGAIN) |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
11:16:00 AM
|
|
|
|
|
|
Sunday, March 27, 2005 |
|
How They Met
|
Tit..tit..tiiiit..
Bunyi hape yang menandakan ada SMS masuk membangunkan Nina yang masih tertidur pulas, biarpun jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
"hoaaaaaa, siapa sich? masih pagi juga udah SMS." sambil ngedumel Nina meraih hapenya di samping bantal garfiednya.
"Say,ngapain Tio nelpon? sebel ih, gue sampe penasaran nungguin loe telpon gue semalem." isi SMS, yang ternyata dari Dila (sahabatnya yang juga temen kantornya). Sambil senyum-senyum mengingat telpon Tio semalam,Nina sengaja gak ngebales SMS Dila. Malah Nina langsung mandi dan sarapan dulu, baru pas jam 10...
"Hai non, lagi ngapain?"
"Woiii, SEBEL, SMS gue gak dibales!" semprot Dila di ujung telpon sana.
Nina terkekeh,"sengaja gue, biar loe penasaran."
"Huu, garing loe. Cepetan cerita,kenapa Tio telpon?"Dila terdengar gak sabar.
"Iiih napsu amat mbak (suara Nina menggoda Dila),sebenarnya gak kenapa-kenapa sich Tio telpon. Cuman dia mau ngecek nomer siapa yang sms dia."
"Truuss,selain itu ngobrolin apa lagi?" suara Dila terdengar semangat banget di ujung tali telpon. "Gak ada lagi. Nothing's special." Nina menjawab.
"gak ada? duh, ini loe yang garing atau dianya yang gak bisa nangkep suara penuh cintanya loe?" "Enak aja garing !" suara tawa Nina disusul Dila terdengar.
"Say, udah dulu ya, gue belom nyiapin bahan untuk kelas gue entar."
"Oke dech Na. Sampe ketemu entar yaa.
=====================================================================
Tapi Nina gak langsung nyari bahan untuk kelasnya entar, malah sekarang Nina balik lagi berbaring di tempat tidurnya sambil masih senyum-senyum sendiri nginget telpon semalam.Walopun Nina baru kenal Tio selama 3 bulan, tapi ada sesuatu di dirinya yang bikin Nina jatuh cinta banget sama dia. Mungkin karena ada satu kebiasaan Tio yang gak biasa banget untk cowok. Dia itu selalu dan pasti cuci muka sebelum masuk kelas, yang buat dia selalu wangi dan bikin Nina selalu pengen deket-deket sama dia.Siang itu ingatan Nina kembali ke awal pertemuan mereka. Tiga bulan yang lalu.
HOW THEY MET
Hari itu Nina pergi ke kantornya seperti biasa jam 3 sore, dan pas dia nyampe di ruang kantor dia melihat ada seorang laki-laki berkulit muka bersih, duduk membaca, diam seolah tak ada seorangpun di ruangan itu.
"Siapa sich?" bisik Nina ke Santi, temen kerjanya.
"Guru baru kali, gue juga gak tau pasti dech. Abis dari tadi dia gak ngomong apa-apa." Santi bales berbisik.
Pas mereka lagi bisik-bisik, tiba-tiba laki-laki yang sedang mereka omongin itu menoleh ke arah Nina.
Merasa ke-gap lagi ngomongin dia, Nina langsung ngomong "eh, mas, guru baru ya?"
Cowok-yang-belum-diketahui-namanya-itu menjawab singkat "iya". "Siapa namanya? Nina- tipe cewek-yang-pengen-bisa-berteman-dengan-siapa-saja nanya lagi.
"Saya Tio."
"Saya Nina, dan ini Santi." sambil ngomong, Nina menunjuk ke Santi.
"Hai." cuman sepatah kata yang keluar dari mulut cowok yang ternyata bernama Tio itu.
"Hai, welcome to the jungle ya." canda Santi.
Tio cuman diam, hanya sedikit senyum di bibirnya.
Nina yang gak biasa ngeliat orang pendiem, apalagi cowok pendiem, jadi penasaran ngeliat guru baru di kantornya. Tapi sebelum bisa so' kenal lebih deket lagi, dia sudah harus masuk ke kelasnya.
BERSAMBUNG
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
11:08:00 PM
|
|
|
|
|
|
Saturday, March 26, 2005 |
|
Membebaskan diriku
|
Kugerakkan jari-jari untuk membebaskan kalimat-kalimat tentangmu hitam di atas putih
Satu kata terbebas...
Aku terpaku
terlalu banyak tentangmu untuk kubebaskan
Bukan!
Tentangmu ingin kulepaskan saja dalam sebuah cerita
andai kubisa...
berarti aku tlah membebaskan diriku |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
12:04:00 AM
|
|
|
|
|
|
Wednesday, March 23, 2005 |
|
Tio dan Nina-On the Phone
|
"Halo." Nina ber-halo dengan suara yang ia buat sewajar mungkin.
"Halo,maaf,saya Tio. Tadi saya dapat SMS dari nomer ini. Boleh saya tau ini siapa ya?" suara sopan dan formalnya Tio terdengar di ujung telpon sana.
"Hei Yo,ini aku lagi,Nina." Seperti petinju yang abis di-KO lawannya,Nina menjawab.Dia patah hati berat,Tio ENGGAK NGESAVE nomernya.
"Oooo Nina."
"Aduh,sombong sekali ya elo, nomer gue diapus". (Perasaan loe udah ngesave nomer gue dech dari 3 bulan yang lalu) Nina membatin. (aduuuh,kok gue so' manja banget ya?) Nina langsung menyesal dalam hati (lagi), sedetik abis dia ngomong gitu.
"Bukannya sombong Nin, tapi gue tuh ngesave nomer loe di hape gue yang satunya. Gue lagi pake casing yang laen. Sorry ya."
"oooo gitu toh." Nina tetap dengan suara jaimnya, padahal dalem hati dia udah mau lompat-lompat seneng.
"Iya gitu. Eh, belom tidur?"
"Belom nih,insomnia." (dalem hati:mikirin eloe). Tapi seorang Nina gak pernah mau mengakui kalo dia lagi kangen sama seseorang. No...!! itu bukan Nina banget. "ada ide gak, gimana supaya gue bisa tidur?"
"mmmm, apa ya? coba minum susu dech. Lagian udah malam lho." suara Tio, yang menurut Nina teduh banget, masih terdengar.
"Gitu ya? Iya dech gue coba. Thanks ya, Yo."
"You're welcome."
Nina membalas lagi, "Oke dech, gue mau buat susu nih sekarang. Loe mau gak?"
"loe aja dech. Gue dengerin loe minum aja." Tio menjawab dengan nada becanda.
"heheeheh. Ya sud, gue mau bikin susu dulu. Abis itu mau langsung tidur."
"Oke dech. Kalo gitu, good night Nina."
"Night,Tio. Thanks ya."
"Byeee."
"Byeee."
Begitu telpon ditutup, Nina langsung menarik nafas panjang, aaaaaaaaaaaaaaahhh....!!! Nina mengikuti saran Tio, bikin susu hangat. Dan setengah jam abis minum, Nina langsung tidur.
TO BE CONTINUED |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
5:56:00 AM
|
|
|
|
|
|
Monday, March 21, 2005 |
|
Perasaan Nina
|
"Gimana rasanya udah ngasih tau ke orang yang kamu sayangi, kalo kamu sayang banget sama dia?"
"Rasanya lega banget Na." Dila menjawab pertanyaan Nina dengan senyuman. Dia tau Nina, temannya dari SD ini ingin melakukan hal yang sama, hanya masih ragu-ragu.
"Menurut loe, Dil, Tio bakal ngomong apa kalo gue bilang gue sayang sama dia?
"Mmm, gue jujur gak tau Na, karena gue bukan Tio. Tapi gue yakin kok, kalo dia akan ngomong yang sejujurnya tentang perasaanya dia sendiri."
"Gue takut Dil, gue belum siap gak jadi temennya Tio lagi."
"Well, semuanya terserah eloe Na."
"Biar gue pikir dulu deh ya, Dil." ===================================================== Malam itu seperti biasanya Nina melakukan rutinitasnya sebelum tidur :ngelamunin Tio, cowok baru yang dia kenal dari 3 bulan yang lalu. Tio itu adalah cowok yang, menurut Nina sendiri, ganteng, tinggi, keren dan cool. Tapi sayangnya Nina adalah tipe cewek yang terlalu takut untuk nyatain perasaannya sendiri. Jam di hapenya sudah menunjukkan angka 22.55, tapi...
"Tuhan, sampe kapan sich, aku harus memandangi nomor telponnya tanpa ada keberanian untuk nelpon dia? resah, Nina mulai rutinitas berikutnya: mengadu sama Tuhan setiap malam. Akhirnya....
Hai Pak..lagi ngapain? udah tidur ya?
Option
Send to 081314687267
OK.......... Clear
OK
tit..tit..tit...
message delivered.
Nina menghapus delivery status SMSnya. Resah mulai menyerang Nina, gak tahan akhirnya...
"Halo, Dil, udah tidur belom?"
"Belom Na, kenapa say?"
"Gue barusan sms Tio, nyesel nich gue,abis sms gue garing gitu." Nina baring di tempat tidurnya sambil megang gagang telpon di tangan kirinya.
"Lho, kok garing sich say? emangnya loe sms apa ke Tio?"
"Gue cuman nanya dia lagi ngapain. Garing kan?"
"Dia gak ada pulsa kali Na. Sabar donk ah neng."
Kring....kringgg...kriiiinggg..
"eh bentar Dil, hape gue bunyi."
Nina ngambil hapenya di deket komputer. Mukanya langsung berubah...
"Dil, Tio NELPON! udah dulu yaa."
"Oke deh say, cieee, ntar ceritain yaa."
"Iya iya.."
Gak sabar Nina nutup telponnya, dan langsung neken tombol receive di hapennya.
BERSAMBUNG |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:38:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
One Feeling
|
Whenever I see you so much pain inside me
Like wound cut deeply through my heart
This one feeling I can't release
This one feeling I can't no longer have
Feeling I have about you
I can no longer disguise this feeling
How can I let go my heart as I'm so don't want to lose you
I just want to release my feeling |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
7:49:00 PM
|
|
|
|
|
|
Friday, March 18, 2005 |
|
AKU BUKAN AKU
|
Lelah....!!
aku sangat lelah
Lelah menangis
Lelah menjelaskan
Lelah memaafkan
Semuanya semu
saat tangisan harus dihentikan atas nama ketegaran
saat pengertian harus diberikan dengan alasan tidak ada yang sempurna di dunia ini
Saat memaafkan harus diucapkan hanya demi titel manusia yang lapang dada
Aku sangat lelah.. menjadi aku yang bukan aku |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:37:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
BUKAN SATU MAAF
|
Satu maaf tak cukup dariku
Maaf aku marah
Maaf aku kecewa
Maaf aku tak percaya lagi padamu
Maaf aku tak bisa seperti yang dulu lagi
Maaf aku belum bisa berbicara denganmu lagi karena hatiku belum berdamai dengan pikiranku
Maaf aku tak bisa lagi menatapmu
Ya... satu maaf tak cukup dariku
Maaf hatiku terlalu terluka karenamu |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:24:00 PM
|
|
|
|
|
|
Wednesday, March 16, 2005 |
|
"Maafkan aku,Ca". Ica cuman bisa menatap nanar wajah sahabatnya, Anti sambil berkata, "Maaf, An? apa yang perlu dimaafkan? semua sudah sudah terjadi, dan eloe gak salah."
"Tapi Ca....gue..."
"Sudahlah An...yakin dech, loe gak perlu minta maaf sama gue, dan gak akan ada yang berubah. You're still my best friend,my sister,gue tetap sayang sama loe."
"Gue juga sayang sama eloe,Ca." Anti memeluk Ica erat. =================================================== "An...seharusnya gue yang minta maaf sama loe,gue yang egois,gue yang menimbulkan pertengkaran kita.Gue yang gak mau dengerin penjelasan loe" Ica membatin penuh sesal di makam Anti, sahabatnya.
Di kamarnya, Ica membuka jurnalnya berdua Anti. Di halaman pertama tertulis : Apapun yang terjadi,kita tetap sahabat. BUKAN,kita udah kakak adek karena kita udah menyatukan darah kita.Apapun kata orang,kita tetap harus saling percaya. (Ica & Anti).
Ica membaca lembar-lembar berikutnya. Jurnal ini saksi bisu persahabatan Ica dengan Anti.Banyak tulisan mereka berdua,curhatan,puisi-puisi,lirik lagu yang mereka banget,juga foto-foto. Sampai pada halaman terakhir,tiba-tiba...pluk....ada selembar surat jatuh dari halaman terakhir.
"surat apa nich?" Ica mikir sambil memungut surat itu. Icaku sayang...maafin gue.Selama ini ada 1 rahasia yang gak pernah gue ceritain ke eloe.Maafin gue ya Ca,padahal kita kan udah janji gak ada rahasia antara kita.Loe inget gak seminggu yang lalu gue gak dateng pas acara lamaran loe,sedangkan gue udah janji sama loe. Gue tau loe marah banget, di acara yang penting banget gue gak bisa dateng ngeliat sahabat sendiri bahagia.
Hari itu gue ke dokter Ca,ngambil hasil lab gue.Ironis ya Ca, di saat yang sama kebahagian dan kesedihan muncul. Hidup gue gak lama lagi.Kanker otak,Ca.Stadium akhir. Lucu ya Ca,dulu kita sempet gak percaya waktu nonton film yang tokohnya menderita kanker.Kita mikir,masa' di jaman modern sekarang ini gak bisa disembuhin kankernya. Maafin gue kalo gue gak bisa nepati janji kita untuk meninggal sama-sama. Icaku sayang,janji ya loe harus tetap hidup.Please inget gue di hari loe mengucap ijab kabul loe sama Doni,tolong ya Ca ceritain sama anak-anak loe nanti kalo tante Anti sayang banget sama mereka seperti eloe (yang gue percaya)bakal sayang sekali sama anak-anak loe.Ica yang tegar,Ica yang jutek,Ica yang lucu,gue sayang banget sama eloe. (Anti)
Jam menunjukkan pukul 01.00 pagi sewaktu Ica selesai membaca surat Anti. Kamarnya Ica sunyi,hanya terdengar tangis Ica yang memecah kesunyian pagi.
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
7:29:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
The Day
|
The day I met you felt so blessed
The day I liked you felt so happy
The day I fell in love with you felt the world is smiling
The days you were in my world felt my life is complete
The day for us to end us felt so crushed
The day you walked down the aisle I feel free |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
12:11:00 PM
|
|
|
|
|
|
Tuesday, March 15, 2005 |
|
Sahabat
|
"Kamu sahabatku..", kalimat Deni tadi masih terngiang di kepala Sinta, bahkan sampe hari ini (5 bulan setelah kejadian itu).
5 bulan yang lalu depan ruang kantor: "eloe udah baca puisi gue?", aku akhirnya berani nanya juga ke Deni. Setelah dipaksa sama Winda, sahabatku.
1 menit, 2 menit, 5 menit...hening. "Gue udah baca, tapi gue gak ngerti maksudnya apa sih, Sin?" Deni menatapku dengan tatapan bingung. "lho, itu balasan surat eloe Den." Hatiku berkata (dengan kata laen, please say you care for me too). "Desperate", aku akhirnya ngomong, "Loe sahabat gue, Den". Deni: "I know, you're my best friend too". ================================== "LOE BEGO DECH, SIN!!" Winda marah besar, setelah aku kasih tau peristiwa kemarin. "kenapa sich, loe gak ngasih tau aja sama Deni kalo loe tuh sayang sama dia lebih dari sahabat?" "Percuma Win..gue harus ngarep apa kalo dia tau? ngarep dia bakal mutusin Tia, tunangannya? Gak mungkin banget! Mereka tuh udah mau nikah 5 bulan lagi. Gue hanya dianggap sebagai penghalang, dunia pasti akan nganggap gue tuh merusak hubungan mereka..!!" aku setengah menangis setengah berteriak. "Sin, gue cuma gak mau loe menyesal. Loe harus jujur sama perasaan loe." Winda memeluk aku, yang sekarang udah mulai menangis.
SEKARANG Mungkin memang kita hanya sahabat. Aku membatin sambil melipat surat Deni. |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:10:00 AM
|
|
|
|
|
|
|
Pikiranku
|
Kehadiran kamu menggetarkan hatiku
Sorot mata kamu membuatku tak mampu menatapmu
Tolong baca pikiranku yang sedang berteriak
Aku suka kamu..!! |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
8:34:00 AM
|
|
|
|
|
|
Monday, March 14, 2005 |
|
Satu tanya
|
Perintahkan jiwa tuk melupakan
Walau terlalu banyak kenangan menebar seluruh penjuru jiwa ini
Tutupi pintu hati tuk meredam gaung tentangmu
Biar hati telah banyak berbicara tentangmu
Dahagakan rasa ini
Biar setetes rindu merembes membasahi rasa
Jadi
telahkah selesai tentangmu
Telahkah rela diriku
Satu tanya bergejolak dan tak akan pernah pergi |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
10:23:00 AM
|
|
|
|
|
|
Sunday, March 13, 2005 |
|
My best friend...walked down the aisle yesterday
|
Love in your eyes when you look at him the man you will spend the rest of your life with
Smile in your lips when you speak with him the man you choose for better or worse
Peace in your heart when you rest your heart to find the last place the man you say I do to
You find the courage to trust, honour and cherish your life with someone else
My best friend walked down the aisle yesterday
To Dino, congratulation... |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
6:12:00 PM
|
|
|
|
|
|
Saturday, March 12, 2005 |
|
Mimpi
|
Telah bangun aku
dari mimpi yang indah dan...melelahkan
Mimpi yang mengisi hampir seluruh lelapku
Nyata telah tiba menyakitkan..kadang
Aku memilih nyata..tetap |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:49:00 AM
|
|
|
|
|
|
Friday, March 11, 2005 |
|
Hating myself
|
Hating myself for not being with you
Hating myself for can't forget you
Hating myself for being so fragile
Hating myself for letting you be in my heart
Hating myself for not hating you though you said goodbye
without goodbye |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
10:29:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
Setengah hatiku
|
Cinta masuk ke hatiku
Saat cinta keluar ...membawa setengah hatiku |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:39:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
Rasa...tinggalkan aku !
|
Rasa yang tinggal menusuk di lubuk hati
Percikan sedih ditinggalkan
Torehan duka memenuhi suka
Kata terkunci rapat tak dapat keluar
Rasa... tinggalkan aku! |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:15:00 PM
|
|
|
|
|
|
Thursday, March 10, 2005 |
|
Aku pasti kembali
|
Aku pasti kembali untuk meraih cintamu
bukan sekarang tapi
Aku hanya ingin menyakinkan diriku dahulu
Kalau kau cintaku yang hilang dulu
Aku pasti kembali dan merekatkan lagi hatiku yang patah |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
8:33:00 AM
|
|
|
|
|
|
Wednesday, March 09, 2005 |
|
Hari ini
|
Hari ini
aku telah mematahkan hatiku sendiri |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
7:40:00 AM
|
|
|
|
|
|
|
Aku harus pergi
|
Akan terasa menyakitkan sekali aku tahu melihatmu pergi
Karena itu aku yang harus dahulu pergi meninggalkan perasaanku ke kamu
Terima kasih kamu telah mengembalikan rasaku yang sempat hilang
Terima kasih kamu telah menggariskan senyum kembali di bibirku
Terima kasih kamu telah membuatku percaya lagi
Aku tahu aku tidak akan tahu apa yang harus kulakukan bila kau tak ada
Jadi aku harus pergi dahulu
meninggalkan kamu dan semua yang membuatku jatuh cinta padamu |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
7:13:00 AM
|
|
|
|
|
|
Tuesday, March 08, 2005 |
|
Haruskah
|
Haruskah kuakui rasa ini
Rasa yang mengikatku erat
Rasa yang menggelombangkan hatiku
Rasa yang menumbangkan semua egoku
Rasa yang yang tak pernah mau pergi walau kuperintahkan hati untuk melawannya
Haruskah... |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:18:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
Rasa yang baru
|
Logika dan hatiku mulai bersiap untuk bersaing
memperebutkan satu rasa yang baru
Logikaku mulai berbicara menyaingi suara hati
Hatipun tak mau ketinggalan
Suaranya semakin kencang bergemuruh di semua urat-urat jantung
Di penghujung akhir logika mundur perlahan tapi pasti
membiarkan hati merasakan satu rasa yang baru |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:58:00 AM
|
|
|
|
|
|
|
Satu hari di bulan Maret
|
Satu hari di bulan Maret setahun yang lalu
Aku...masih seorang aku
memegang sesuatu yang tak nyata
masih mengawali hari-hari dengan hampa
Pagi tak ada bedanya dengan siang
Sorepun sama saja dengan malam
Stagnan... aku mengalami stagnansi di hidupku sendiri
Satu hari di bulan Maret setahun yang lalu
Allah memerintahkan waktu mempertemukanku dengan duniaku sekarang
Satu hari di bulan Maret
setahun kemudian... sekarang
Aku...masih aku
Merangkul erat hidupku yang nyata
Menyapa pagi membelai siang menyambut sore dan malam dengan pasti
Hidupku tak lagi berhenti
Allah membentangkan jalan lebar untukku melangkah |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:21:00 AM
|
|
|
|
|
|
Monday, March 07, 2005 |
|
Aku belajar...melepaskan
|
Aku belajar memiliki rasa yang dapat memutar-balikkan duniaku
Aku belajar merasakan sayang yang dapat menyakitkan hatiku sendiri
Aku belajar menyatakan cinta yang kumiliki untuk selamanya
Tapi hari ini aku belajar
melepaskan rasaku untuk meluruskan duniaku
melepaskan sayangku untuk menyembuhkan hatiku
menyimpan cintaku untuk memilikinya lebih lama lagi |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
7:13:00 PM
|
|
|
|
|
|
Sunday, March 06, 2005 |
|
Masa Laluku
|
Kamu
pertemuan itu
puisimu
Masa lalu selalu ingin bersua denganku
Lupakan tinggalkan aku berjalanlah dengan waktu
Tidak ingin ingat kamu pertemuan itu puisimu |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
10:58:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
Waktu untuk mencinta
|
Bertanya jiwa bisakah hati membebaskan rasa yang lama telah ada
Saat hati telah mencintai dapatkah menemukan jalan untuk melupakan cintanya
Jika waktu telah habis untuk mencinta |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
10:43:00 PM
|
|
|
|
|
|
Saturday, March 05, 2005 |
|
Kamu di Aku
|
Jiwamu menghempas jiwaku
Nafasmu menghirup nafasku
Hatimu mengisi hatiku
Kamu masuk dalam setiap sudut hidupku |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
2:23:00 PM
|
|
|
|
|
|
Friday, March 04, 2005 |
|
Maybe
|
Maybe you're not my missing rib
Still... you fill the hole in my heart
Maybe you're not the reason I live
Still you're the reason my opening eyes every mornings
Maybe you're not my why
Still you're my answer |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
7:35:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
Menu of your life
|
Have a bowl of love every day to save your soul
Have a plate of compassion every hour to understand each other more
Have a glass of appreciation every minute to honour whatever you do
Have a cup of faith to not stop in believing
Your life menu enjoy yourself |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
8:57:00 AM
|
|
|
|
|
|
|
Bila cinta datang
|
Masihkah perlu tanda tanya
Bila tak pernah ada jawab yang pasti kenapa ada cinta yang pergi
Bila cinta datang adakah kata nanti saja
Bila tak pernah ada waktu yang tepat untuk menyambutnya
Bila cinta datang butuhkah tanda pengenal untuk siapa cinta diberi dan dari siapa cinta diterima
Bila cinta tak pernah mengenal nama
Bila cinta datang masih perlukah itu semua
Cinta...ya..cinta... |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
6:45:00 AM
|
|
|
|
|
|
Thursday, March 03, 2005 |
|
Hanya kepada Ilahi
|
Pasrahkan hati kepada Ilahi
Ketika hati kembali terpaut
Serahkan jiwa untuk Sang Khalik
Saat jiwa dijemput jiwa lain
Sandarkan batin di Sang Kuasa
Ketika batin menginginkan dia
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
10:10:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
Sama saja
|
Pagi menghadirkan surya malam ditemani bulan
Sama saja
Tanyamu tak pernah sampai
Tanganmu tak pernah meraihku
Cumbumu tak pernah kurasakan
Waktu tetap berganti
Kamu tetap kamu yang tak pernah untukku |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:08:00 PM
|
|
|
|
|
|
|
SUNYI DAN WAKTU
|
Sunyi menjebakku kuterkurung dalam waktu tak bergerak diam
Teriakan tertekam oleh diam
Masihkan perlu ditemani
Setelah cinta datang untuk meninggalkan
Adakah rasa yang tersisa
Setelah sakit datang perih
Setelah kecewa menggantikan marah
Setelah rindu menutupi logika
Masihkah perlu pengganti
Ketika penggantimu termangu dalam bisu
Tinggal aku masih dalam sunyi yang dimakan waktu |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:00:00 PM
|
|
|
|
|
|
|