Redlicious Campaign
Photobucket
Contact Me

Me, mine & My Family
Inside My world

blognya kakak iparnya Yaya


Inspirations


Hi there :)
Name :
Web URL :
Message :
Previously
Aksara mengeja maaf
Mengais kenangan
Antara aku, indent, Lebaran dan keluarga
Kalau emang harus mundur
Jangan ngalah sebelum berjuang
DREAM BIG
Menembus "bulan sulit"
They're not my downlines, but..
Finding your own Nemo
Belahan jiwa
Archivess
August 2004
September 2004
October 2004
November 2004
December 2004
January 2005
February 2005
March 2005
April 2005
May 2005
June 2005
July 2005
August 2005
September 2005
October 2005
November 2005
December 2005
January 2006
February 2006
March 2006
April 2006
May 2006
June 2006
July 2006
August 2006
September 2006
October 2006
November 2006
December 2006
January 2007
February 2007
March 2007
April 2007
May 2007
June 2007
July 2007
August 2007
September 2007
October 2007
November 2007
December 2007
January 2008
February 2008
March 2008
April 2008
May 2008
July 2008
August 2008
September 2008
October 2008
November 2008
January 2009
February 2009
March 2009
May 2009
June 2009
July 2009
September 2009
October 2009
Awards
Menang lagi

juarafavorit

BF Girl

Happy B'day Indonesia

Aktivis Kopdar Blogfam '05

Fun Stuff
thank you :)
The Writers
Friends' Banners
Dhira dan Lia




Ebook Gratis
ebook-bisnisonline
Communities
banner150x26orange





banner angingmammiri
Siap bergabung?
click me
Thanks to
Free Blogger Templates

BLOGGER

 
Thursday, March 31, 2005
Aliran yang Baru
"Oke class, that's all for today, thank you for coming and I see on Wednesday", hari sudah gelap ketika Nina mengakhiri kelasnya. Saat muridnya yang terakhir keluar dari kelas diapun keluar dan menuju ke kantornya. Pas Nina masuk di kantornya, ternyata temen-temn guru yang lainnya sudah ngumpul semua di situ, juga Tio, guru cowok yang baru itupun masih ada di situ.

Nina menyimpan map absennya di lemari ketika Rendi, bosnya ngomong sesuatu, "Teachers, attention please. I want you to meet your new colleague, Tio."

Langsung secara bergantian semua guru di situ ngomong, "Hai Tio, selamat bergabung ya", "welcome to the jungle". Dan Tio, pusat perhatian malam itu hanya bolak-balik menjawab, "thank you, makasih yaa".Nina yang sudah merasa capek banget dan pinggangnya yang pegel minta dipijet gak ikut menyambut temen barunya itu karena dia merasa toh tadi udah kenalan.


"Na, sini bentar deh," panggil Rendi bosnya.

"kenapa Rend?" bales Nina dengan santai,karena memang di tempat kerjanya tidak ada peraturan untuk saling memanggil dengan sebutan pak atau bu antarsesama guru.

"Loe ngajar kelas Basic 3 ya?" tanya Rendi.

"yes, why?"

"Pinjemin donk buku loe ke Tio, because he's going to teach that level too."


"oke, nich bukunya." Nina-tanpa banyak tanya lagi-langsung nyodorin bukunya ke Tio.

"thanks ya".

"you're welcome, tapi besok bawa ya," balas Nina.

"Ok oke", Tio meng-okekan.

"Ya sud, gue pulang dulu ya Rend, Yo," Nina langsung pamit untuk pulang dan berjalan menuju mobilnya di parkiran, saat tak lama..


"Na,Nina..," ada suara yang memanggilnya.


Nina menoleh dan heran waktu ngeliat Tio yang mengejar di belakangnya. "Kenapa Yo?"


"mmm, can I have your phone number, just in case I wanna ask you something about the book?"


"boleh aja, nomer gue 0817122987, kalo nomer loe?" Nina balik bertanya.


"Nomerku 081314687267".


"Sip, udah ya gue balik".


"Bye Na."


Dan..Tio memang menelponnya malam itu, juga malam-malam berikutnya. Ternyata Tio tidak sependiam yang Nina bayangkan, karena dia itu lumayan nyambung di telpon, juga lumayan terbuka (walopun kalo sifat moody-nya muncul, dia bisa berubah menjadi sedingin es). ==========================================================

Gak terasa sudah 3 bulan Tio menjadi teman Nina, temen kantor, temen ngobrol di telpon, temen. Hanya temen, tadinya. Tapi sekarang..Nina merasakan sesuatu yang beda, ada aliran yang gak lagi sama dia rasakan setiap kali matanya menatap Tio, ngobrol dengannya atau sekedar berpapasan dengannya.


Seperti aliran listrik

mengalir
menggetarkan


Itulah cinta


Apakah seorang Nina (yang berusaha untuk selalu nyuekin setiap ada perasaan yang sama hinggap di hatinya) telah jatuh cinta kepada seorang Tio?


Asaku timbul kembali
setelah sekian lama hilang


Rasaku kembali cair
setelah lama ditinggalkan
beku mendingin


Senandung kembali terdengar
setelah lama bait-bait lagu tak terdengar


Mungkinkah
aku telah jatuh cinta
kepadamu


TO BE CONTINUED (AGAIN)

reflected by Nahria Medina Marzuki
11:16:00 AM
|
Sunday, March 27, 2005
How They Met
Tit..tit..tiiiit..


Bunyi hape yang menandakan ada SMS masuk membangunkan Nina yang masih tertidur pulas, biarpun jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


"hoaaaaaa, siapa sich? masih pagi juga udah SMS." sambil ngedumel Nina meraih hapenya di samping bantal garfiednya.


"Say,ngapain Tio nelpon? sebel ih, gue sampe penasaran nungguin loe telpon gue semalem." isi SMS, yang ternyata dari Dila (sahabatnya yang juga temen kantornya). Sambil senyum-senyum mengingat telpon Tio semalam,Nina sengaja gak ngebales SMS Dila. Malah Nina langsung mandi dan sarapan dulu, baru pas jam 10...


"Hai non, lagi ngapain?"


"Woiii, SEBEL, SMS gue gak dibales!" semprot Dila di ujung telpon sana.


Nina terkekeh,"sengaja gue, biar loe penasaran."


"Huu, garing loe. Cepetan cerita,kenapa Tio telpon?"Dila terdengar gak sabar.


"Iiih napsu amat mbak (suara Nina menggoda Dila),sebenarnya gak kenapa-kenapa sich Tio telpon. Cuman dia mau ngecek nomer siapa yang sms dia."


"Truuss,selain itu ngobrolin apa lagi?" suara Dila terdengar semangat banget di ujung tali telpon.
"Gak ada lagi. Nothing's special." Nina menjawab.


"gak ada? duh, ini loe yang garing atau dianya yang gak bisa nangkep suara penuh cintanya loe?"
"Enak aja garing !" suara tawa Nina disusul Dila terdengar.


"Say, udah dulu ya, gue belom nyiapin bahan untuk kelas gue entar."


"Oke dech Na. Sampe ketemu entar
yaa.


=====================================================================


Tapi Nina gak langsung nyari bahan untuk kelasnya entar, malah sekarang Nina balik lagi berbaring di tempat tidurnya sambil masih senyum-senyum sendiri nginget telpon semalam.Walopun Nina baru kenal Tio selama 3 bulan, tapi ada sesuatu di dirinya yang bikin Nina jatuh cinta banget sama dia. Mungkin karena ada satu kebiasaan Tio yang gak biasa banget untk cowok. Dia itu selalu dan pasti cuci muka sebelum masuk kelas, yang buat dia selalu wangi dan bikin Nina selalu pengen deket-deket sama dia.Siang itu ingatan Nina kembali ke awal pertemuan mereka. Tiga bulan yang lalu.



HOW THEY MET


Hari itu Nina pergi ke kantornya seperti biasa jam 3 sore, dan pas dia nyampe di ruang kantor dia melihat ada seorang laki-laki berkulit muka bersih, duduk membaca, diam seolah tak ada seorangpun di ruangan itu.


"Siapa sich?" bisik Nina ke Santi, temen kerjanya.


"Guru baru kali, gue juga gak tau pasti dech. Abis dari tadi dia gak ngomong apa-apa." Santi bales berbisik.


Pas mereka lagi bisik-bisik, tiba-tiba laki-laki yang sedang mereka omongin itu menoleh ke arah Nina.


Merasa ke-gap lagi ngomongin dia, Nina langsung ngomong "eh, mas, guru baru ya?"


Cowok-yang-belum-diketahui-namanya-itu menjawab singkat "iya".
"Siapa namanya? Nina- tipe cewek-yang-pengen-bisa-berteman-dengan-siapa-saja nanya lagi.


"Saya Tio."


"Saya Nina, dan ini Santi." sambil ngomong, Nina menunjuk ke Santi.


"Hai." cuman sepatah kata yang keluar dari mulut cowok yang ternyata bernama Tio itu.


"Hai, welcome to the jungle ya." canda Santi.


Tio cuman diam, hanya sedikit senyum di bibirnya.


Nina yang gak biasa ngeliat orang pendiem, apalagi cowok pendiem, jadi penasaran ngeliat guru baru di kantornya. Tapi sebelum bisa so' kenal lebih deket lagi, dia sudah harus masuk ke kelasnya.





BERSAMBUNG

reflected by Nahria Medina Marzuki
11:08:00 PM
|
Saturday, March 26, 2005
Membebaskan diriku
Kugerakkan jari-jari
untuk membebaskan
kalimat-kalimat tentangmu
hitam di atas putih

Satu kata terbebas...

Aku terpaku

terlalu banyak tentangmu
untuk kubebaskan

Bukan!

Tentangmu ingin kulepaskan saja
dalam sebuah cerita

andai kubisa...

berarti
aku tlah membebaskan diriku

reflected by Nahria Medina Marzuki
12:04:00 AM
|
Wednesday, March 23, 2005
Tio dan Nina-On the Phone
"Halo." Nina ber-halo dengan suara yang ia buat sewajar mungkin.

"Halo,maaf,saya Tio. Tadi saya dapat SMS dari nomer ini. Boleh saya tau ini siapa ya?" suara sopan dan formalnya Tio terdengar di ujung telpon sana.

"Hei Yo,ini aku lagi,Nina." Seperti petinju yang abis di-KO lawannya,Nina menjawab.Dia patah hati berat,Tio ENGGAK NGESAVE nomernya.


"Oooo Nina."


"Aduh,sombong sekali ya elo, nomer gue diapus". (Perasaan loe udah ngesave nomer gue dech dari 3 bulan yang lalu) Nina membatin.
(aduuuh,kok gue so' manja banget ya?) Nina langsung menyesal dalam hati (lagi), sedetik abis dia ngomong gitu.

"Bukannya sombong Nin, tapi gue tuh ngesave nomer loe di hape gue yang satunya. Gue lagi pake casing yang laen. Sorry ya."

"oooo gitu toh." Nina tetap dengan suara jaimnya, padahal dalem hati dia udah mau lompat-lompat seneng.

"Iya gitu. Eh, belom tidur?"

"Belom nih,insomnia." (dalem hati:mikirin eloe). Tapi seorang Nina gak pernah mau mengakui kalo dia lagi kangen sama seseorang. No...!! itu bukan Nina banget. "ada ide gak, gimana supaya gue bisa tidur?"

"mmmm, apa ya? coba minum susu dech. Lagian udah malam lho." suara Tio, yang menurut Nina teduh banget, masih terdengar.

"Gitu ya? Iya dech gue coba. Thanks ya, Yo."

"You're welcome."

Nina membalas lagi, "Oke dech, gue mau buat susu nih sekarang. Loe mau gak?"

"loe aja dech. Gue dengerin loe minum aja." Tio menjawab dengan nada becanda.

"heheeheh. Ya sud, gue mau bikin susu dulu. Abis itu mau langsung tidur."

"Oke dech. Kalo gitu, good night Nina."

"Night,Tio. Thanks ya."

"Byeee."

"Byeee."

Begitu telpon ditutup, Nina langsung menarik nafas panjang, aaaaaaaaaaaaaaahhh....!!!
Nina mengikuti saran Tio, bikin susu hangat. Dan setengah jam abis minum, Nina langsung tidur.

TO BE CONTINUED

reflected by Nahria Medina Marzuki
5:56:00 AM
|
Monday, March 21, 2005
Perasaan Nina
"Gimana rasanya udah ngasih tau ke orang yang kamu sayangi, kalo kamu sayang banget sama dia?"

"Rasanya lega banget Na." Dila menjawab pertanyaan Nina dengan senyuman. Dia tau Nina, temannya dari SD ini ingin melakukan hal yang sama, hanya masih ragu-ragu.

"Menurut loe, Dil, Tio bakal ngomong apa kalo gue bilang gue sayang sama dia?

"Mmm, gue jujur gak tau Na, karena gue bukan Tio. Tapi gue yakin kok, kalo dia akan ngomong yang sejujurnya tentang perasaanya dia sendiri."

"Gue takut Dil, gue belum siap gak jadi temennya Tio lagi."

"Well, semuanya terserah eloe Na."

"Biar gue pikir dulu deh ya, Dil."
=====================================================
Malam itu seperti biasanya Nina melakukan rutinitasnya sebelum tidur :ngelamunin Tio, cowok baru yang dia kenal dari 3 bulan yang lalu. Tio itu adalah cowok yang, menurut Nina sendiri, ganteng, tinggi, keren dan cool. Tapi sayangnya Nina adalah tipe cewek yang terlalu takut untuk nyatain perasaannya sendiri.
Jam di hapenya sudah menunjukkan angka 22.55, tapi...

"Tuhan, sampe kapan sich, aku harus memandangi nomor telponnya tanpa ada keberanian untuk nelpon dia? resah, Nina mulai rutinitas berikutnya: mengadu sama Tuhan setiap malam.
Akhirnya....

Hai Pak..lagi ngapain? udah tidur ya?

Option

Send to 081314687267

OK.......... Clear

OK

tit..tit..tit...

message delivered.

Nina menghapus delivery status SMSnya. Resah mulai menyerang Nina, gak tahan akhirnya...

"Halo, Dil, udah tidur belom?"

"Belom Na, kenapa say?"

"Gue barusan sms Tio, nyesel nich gue,abis sms gue garing gitu." Nina baring di tempat tidurnya sambil megang gagang telpon di tangan kirinya.

"Lho, kok garing sich say? emangnya loe sms apa ke Tio?"

"Gue cuman nanya dia lagi ngapain. Garing kan?"

"Dia gak ada pulsa kali Na. Sabar donk ah neng."

Kring....kringgg...kriiiinggg..

"eh bentar Dil, hape gue bunyi."

Nina ngambil hapenya di deket komputer. Mukanya langsung berubah...

"Dil, Tio NELPON! udah dulu yaa."

"Oke deh say, cieee, ntar ceritain yaa."

"Iya iya.."

Gak sabar Nina nutup telponnya, dan langsung neken tombol receive di hapennya.


BERSAMBUNG

reflected by Nahria Medina Marzuki
9:38:00 PM
|
One Feeling
Whenever I see you
so much pain inside me

Like wound
cut deeply through my heart

This one feeling
I can't release

This one feeling
I can't no longer have

Feeling I have
about you

I can no longer disguise
this feeling

How can I
let go my heart
as I'm so
don't want to lose you


I just want
to release my feeling

reflected by Nahria Medina Marzuki
7:49:00 PM
|
Friday, March 18, 2005
AKU BUKAN AKU
Lelah....!!

aku sangat lelah

Lelah
menangis

Lelah
menjelaskan

Lelah
memaafkan

Semuanya semu


saat tangisan
harus dihentikan
atas nama ketegaran

saat pengertian
harus diberikan
dengan alasan tidak ada yang sempurna di dunia ini

Saat memaafkan
harus diucapkan
hanya demi titel manusia yang lapang dada

Aku sangat lelah..
menjadi
aku yang bukan aku

reflected by Nahria Medina Marzuki
9:37:00 PM
|
BUKAN SATU MAAF
Satu maaf
tak cukup dariku

Maaf
aku marah

Maaf
aku kecewa

Maaf
aku tak percaya lagi padamu

Maaf
aku tak bisa seperti yang dulu lagi

Maaf
aku belum bisa berbicara denganmu lagi
karena
hatiku belum berdamai dengan pikiranku

Maaf
aku tak bisa lagi menatapmu


Ya...
satu maaf tak cukup dariku

Maaf
hatiku terlalu terluka
karenamu

reflected by Nahria Medina Marzuki
9:24:00 PM
|
Wednesday, March 16, 2005
"Maafkan aku,Ca".

Ica cuman bisa menatap nanar wajah sahabatnya, Anti sambil berkata,
"Maaf, An? apa yang perlu dimaafkan? semua sudah sudah terjadi, dan
eloe gak salah."

"Tapi Ca....gue..."

"Sudahlah An...yakin dech, loe gak perlu minta maaf sama gue, dan gak
akan ada yang berubah. You're still my best friend,my sister,gue tetap
sayang sama loe."

"Gue juga sayang sama eloe,Ca." Anti memeluk Ica erat.
===================================================
"An...seharusnya gue yang minta maaf sama loe,gue yang egois,gue yang menimbulkan pertengkaran kita.Gue yang gak mau dengerin penjelasan loe" Ica membatin penuh sesal di makam Anti, sahabatnya.

Di kamarnya, Ica membuka jurnalnya berdua Anti. Di halaman pertama
tertulis :
Apapun yang terjadi,kita tetap sahabat. BUKAN,kita udah kakak adek karena kita udah menyatukan darah kita.Apapun kata orang,kita tetap harus saling percaya.
(Ica & Anti).

Ica membaca lembar-lembar berikutnya. Jurnal ini saksi bisu persahabatan Ica dengan Anti.Banyak tulisan mereka berdua,curhatan,puisi-puisi,lirik lagu yang mereka banget,juga foto-foto. Sampai pada halaman terakhir,tiba-tiba...pluk....ada selembar surat jatuh dari halaman terakhir.
"surat apa nich?" Ica mikir sambil memungut surat itu.

Icaku sayang...maafin gue.Selama ini ada 1 rahasia yang gak pernah gue ceritain ke eloe.Maafin gue ya Ca,padahal kita kan udah janji gak ada rahasia antara kita.Loe inget gak seminggu yang lalu gue gak dateng pas acara lamaran loe,sedangkan gue udah janji sama loe. Gue tau loe marah banget, di acara yang penting banget gue gak bisa dateng ngeliat sahabat sendiri bahagia.
Hari itu gue ke dokter Ca,ngambil hasil lab gue.Ironis ya Ca, di saat yang sama kebahagian dan kesedihan muncul. Hidup gue gak lama lagi.Kanker otak,Ca.Stadium akhir. Lucu ya Ca,dulu kita sempet gak percaya waktu nonton film yang tokohnya menderita kanker.Kita mikir,masa' di jaman modern sekarang ini gak bisa disembuhin kankernya.
Maafin gue kalo gue gak bisa nepati janji kita untuk meninggal sama-sama. Icaku sayang,janji ya loe harus tetap hidup.Please inget gue di hari loe mengucap ijab kabul loe sama Doni,tolong ya Ca ceritain sama anak-anak loe nanti kalo tante Anti sayang banget sama mereka seperti eloe (yang gue percaya)bakal sayang sekali sama anak-anak loe.Ica yang tegar,Ica yang jutek,Ica yang lucu,gue sayang banget sama eloe.
(Anti)


Jam menunjukkan pukul 01.00 pagi sewaktu Ica selesai membaca surat Anti. Kamarnya Ica sunyi,hanya terdengar tangis Ica yang memecah kesunyian pagi.

reflected by Nahria Medina Marzuki
7:29:00 PM
|
The Day
The day I met you
felt so blessed

The day I liked you
felt so happy

The day I fell in love with you
felt the world is smiling

The days you were in my world
felt my life is complete

The day for us to end us
felt so crushed

The day you walked down the aisle
I feel free

reflected by Nahria Medina Marzuki
12:11:00 PM
|
Tuesday, March 15, 2005
Sahabat
"Kamu sahabatku..", kalimat Deni tadi masih terngiang di kepala Sinta, bahkan sampe hari ini (5 bulan setelah kejadian itu).


5 bulan yang lalu depan ruang kantor:
"eloe udah baca puisi gue?", aku akhirnya berani nanya juga ke Deni. Setelah dipaksa sama Winda, sahabatku.
1 menit, 2 menit, 5 menit...hening. "Gue udah baca, tapi gue gak ngerti maksudnya apa sih, Sin?" Deni menatapku dengan tatapan bingung.
"lho, itu balasan surat eloe Den." Hatiku berkata (dengan kata laen, please say you care for me too).
"Desperate", aku akhirnya ngomong, "Loe sahabat gue, Den".
Deni: "I know, you're my best friend too".
==================================
"LOE BEGO DECH, SIN!!" Winda marah besar, setelah aku kasih tau peristiwa kemarin. "kenapa sich, loe gak ngasih tau aja sama Deni kalo loe tuh sayang sama dia lebih dari sahabat?"
"Percuma Win..gue harus ngarep apa kalo dia tau? ngarep dia bakal mutusin Tia, tunangannya? Gak mungkin banget! Mereka tuh udah mau nikah 5 bulan lagi. Gue hanya dianggap sebagai penghalang, dunia pasti akan nganggap gue tuh merusak hubungan mereka..!!" aku setengah menangis setengah berteriak.
"Sin, gue cuma gak mau loe menyesal. Loe harus jujur sama perasaan loe." Winda memeluk aku, yang sekarang udah mulai menangis.


SEKARANG

Mungkin memang kita hanya sahabat. Aku membatin sambil melipat surat Deni.

reflected by Nahria Medina Marzuki
9:10:00 AM
|
Pikiranku
Kehadiran kamu
menggetarkan hatiku

Sorot mata kamu
membuatku
tak mampu menatapmu

Tolong
baca pikiranku
yang sedang berteriak


Aku suka kamu..!!

reflected by Nahria Medina Marzuki
8:34:00 AM
|
Monday, March 14, 2005
Satu tanya
Perintahkan
jiwa tuk melupakan

Walau terlalu banyak kenangan
menebar
seluruh penjuru jiwa ini

Tutupi pintu hati
tuk meredam
gaung tentangmu

Biar hati
telah banyak berbicara
tentangmu

Dahagakan rasa ini

Biar setetes rindu
merembes membasahi rasa

Jadi

telahkah
selesai tentangmu

Telahkah
rela diriku

Satu tanya
bergejolak
dan tak akan
pernah pergi

reflected by Nahria Medina Marzuki
10:23:00 AM
|
Sunday, March 13, 2005
My best friend...walked down the aisle yesterday
Love in your eyes
when you look at him
the man
you will spend the rest of your life with


Smile in your lips
when you speak with him
the man
you choose
for better or worse

Peace in your heart
when you rest your heart
to find the last place
the man
you say I do to

You find the courage
to trust, honour and cherish
your life
with someone else

My best friend
walked down the aisle yesterday



To Dino, congratulation...

reflected by Nahria Medina Marzuki
6:12:00 PM
|
Saturday, March 12, 2005
Mimpi
Telah bangun aku

dari
mimpi yang indah
dan...melelahkan

Mimpi
yang mengisi
hampir seluruh lelapku

Nyata telah tiba
menyakitkan..kadang

Aku memilih nyata..tetap

reflected by Nahria Medina Marzuki
9:49:00 AM
|
Friday, March 11, 2005
Hating myself
Hating myself
for not being with you

Hating myself
for can't forget you

Hating myself
for being so fragile

Hating myself
for letting you be in my heart

Hating myself
for not hating you
though
you said goodbye

without goodbye

reflected by Nahria Medina Marzuki
10:29:00 PM
|
Setengah hatiku
Cinta masuk
ke hatiku

Saat cinta keluar
...membawa
setengah hatiku

reflected by Nahria Medina Marzuki
9:39:00 PM
|
Rasa...tinggalkan aku !
Rasa yang tinggal
menusuk
di lubuk hati

Percikan sedih
ditinggalkan

Torehan duka
memenuhi suka

Kata terkunci
rapat
tak dapat keluar

Rasa...
tinggalkan aku!

reflected by Nahria Medina Marzuki
9:15:00 PM
|
Thursday, March 10, 2005
Aku pasti kembali
Aku pasti kembali
untuk meraih cintamu

bukan sekarang tapi

Aku hanya ingin
menyakinkan diriku
dahulu

Kalau kau
cintaku yang hilang dulu

Aku pasti kembali
dan merekatkan lagi
hatiku yang patah

reflected by Nahria Medina Marzuki
8:33:00 AM
|
Wednesday, March 09, 2005
Hari ini
Hari ini

aku telah
mematahkan hatiku sendiri

reflected by Nahria Medina Marzuki
7:40:00 AM
|
Aku harus pergi
Akan terasa menyakitkan sekali
aku tahu
melihatmu pergi

Karena itu
aku yang harus dahulu pergi
meninggalkan
perasaanku ke kamu

Terima kasih
kamu telah mengembalikan
rasaku yang sempat hilang

Terima kasih
kamu telah menggariskan
senyum kembali
di bibirku

Terima kasih
kamu telah membuatku percaya lagi

Aku tahu
aku tidak akan tahu
apa yang harus kulakukan
bila kau tak ada

Jadi
aku harus pergi dahulu

meninggalkan kamu
dan semua
yang membuatku
jatuh cinta padamu

reflected by Nahria Medina Marzuki
7:13:00 AM
|
Tuesday, March 08, 2005
Haruskah
Haruskah
kuakui rasa ini

Rasa yang mengikatku
erat

Rasa yang menggelombangkan
hatiku

Rasa yang menumbangkan
semua egoku

Rasa yang yang tak pernah
mau pergi
walau kuperintahkan hati
untuk melawannya

Haruskah...

reflected by Nahria Medina Marzuki
9:18:00 PM
|
Rasa yang baru
Logika dan hatiku
mulai bersiap
untuk bersaing

memperebutkan
satu rasa yang baru

Logikaku mulai berbicara
menyaingi suara hati

Hatipun tak mau ketinggalan

Suaranya semakin kencang
bergemuruh di semua
urat-urat jantung

Di penghujung akhir
logika mundur
perlahan tapi pasti

membiarkan
hati merasakan
satu rasa yang baru

reflected by Nahria Medina Marzuki
9:58:00 AM
|
Satu hari di bulan Maret
Satu hari di bulan Maret
setahun yang lalu

Aku...masih seorang aku

memegang sesuatu
yang tak nyata

masih mengawali
hari-hari dengan hampa

Pagi tak ada bedanya
dengan siang

Sorepun sama saja
dengan malam

Stagnan...
aku mengalami stagnansi
di hidupku sendiri

Satu hari di bulan Maret
setahun yang lalu

Allah memerintahkan waktu
mempertemukanku dengan duniaku
sekarang

Satu hari di bulan Maret


setahun kemudian...
sekarang

Aku...masih aku

Merangkul erat
hidupku yang nyata

Menyapa pagi
membelai siang
menyambut sore dan malam
dengan pasti

Hidupku tak lagi
berhenti

Allah membentangkan jalan
lebar untukku
melangkah

reflected by Nahria Medina Marzuki
9:21:00 AM
|
Monday, March 07, 2005
Aku belajar...melepaskan
Aku belajar
memiliki rasa
yang dapat memutar-balikkan
duniaku

Aku belajar
merasakan sayang
yang dapat menyakitkan
hatiku sendiri

Aku belajar
menyatakan cinta
yang kumiliki untuk selamanya

Tapi hari ini
aku belajar

melepaskan rasaku
untuk meluruskan duniaku

melepaskan sayangku
untuk menyembuhkan hatiku

menyimpan cintaku
untuk memilikinya lebih lama lagi

reflected by Nahria Medina Marzuki
7:13:00 PM
|
Sunday, March 06, 2005
Masa Laluku
Kamu

pertemuan itu

puisimu

Masa lalu
selalu ingin
bersua denganku

Lupakan
tinggalkan aku
berjalanlah dengan waktu

Tidak ingin
ingat kamu
pertemuan itu
puisimu

reflected by Nahria Medina Marzuki
10:58:00 PM
|
Waktu untuk mencinta
Bertanya jiwa
bisakah hati membebaskan
rasa yang lama
telah ada

Saat hati telah mencintai
dapatkah
menemukan jalan
untuk melupakan cintanya

Jika waktu telah habis
untuk mencinta

reflected by Nahria Medina Marzuki
10:43:00 PM
|
Saturday, March 05, 2005
Kamu di Aku
Jiwamu menghempas jiwaku

Nafasmu menghirup nafasku

Hatimu mengisi hatiku

Kamu masuk
dalam
setiap sudut
hidupku

reflected by Nahria Medina Marzuki
2:23:00 PM
|
Friday, March 04, 2005
Maybe
Maybe you're not
my missing rib

Still...
you fill the hole
in my heart

Maybe you're not
the reason I live

Still
you're the reason
my opening eyes
every mornings

Maybe you're not
my why

Still
you're my answer

reflected by Nahria Medina Marzuki
7:35:00 PM
|
Menu of your life
Have a bowl of love
every day
to save your soul

Have a plate of compassion
every hour
to understand each other more

Have a glass of appreciation
every minute
to honour whatever you do

Have a cup of faith
to not stop in believing


Your life menu
enjoy yourself

reflected by Nahria Medina Marzuki
8:57:00 AM
|
Bila cinta datang
Masihkah perlu
tanda tanya

Bila tak pernah
ada jawab yang pasti
kenapa ada
cinta yang pergi

Bila cinta datang
adakah kata nanti saja

Bila tak pernah
ada waktu yang tepat
untuk menyambutnya

Bila cinta datang
butuhkah tanda pengenal
untuk siapa cinta diberi
dan dari siapa cinta diterima

Bila cinta tak pernah
mengenal nama

Bila cinta datang
masih perlukah
itu semua

Cinta...ya..cinta...

reflected by Nahria Medina Marzuki
6:45:00 AM
|
Thursday, March 03, 2005
Hanya kepada Ilahi
Pasrahkan hati
kepada Ilahi

Ketika hati
kembali terpaut

Serahkan jiwa
untuk Sang Khalik

Saat jiwa
dijemput jiwa lain

Sandarkan batin
di Sang Kuasa

Ketika batin
menginginkan dia


reflected by Nahria Medina Marzuki
10:10:00 PM
|
Sama saja
Pagi menghadirkan surya
malam ditemani bulan

Sama saja

Tanyamu
tak pernah sampai

Tanganmu
tak pernah meraihku

Cumbumu
tak pernah kurasakan

Waktu tetap berganti

Kamu tetap kamu
yang tak pernah
untukku

reflected by Nahria Medina Marzuki
9:08:00 PM
|
SUNYI DAN WAKTU
Sunyi menjebakku
kuterkurung dalam waktu
tak bergerak diam

Teriakan tertekam oleh diam

Masihkan perlu
ditemani

Setelah cinta datang
untuk meninggalkan

Adakah rasa
yang tersisa

Setelah sakit
datang perih

Setelah kecewa
menggantikan marah

Setelah rindu
menutupi logika

Masihkah perlu
pengganti

Ketika penggantimu
termangu dalam bisu

Tinggal aku
masih dalam sunyi
yang dimakan waktu

reflected by Nahria Medina Marzuki
9:00:00 PM
|