| |
|
Sunday, December 25, 2005 |
|
To my every source of my every feelings in 2005
|
To my every source of my every feelings in 2005 I say thank you..
Thank you for making my 2005 more colorful
Thank you for all my laughters, my cryings, my happiness
Thank you for all the unforgetable moments
Thank you for all the sharings we used to have
Thank you for here..in my life
As 2006 reaching, maybe you won't be here anymore still..thank you
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:40:00 AM
|
|
|
|
|
|
Saturday, December 24, 2005 |
|
Satu kasih buat mama
|
Dear mama.. aku yang tampak masih gadis kecilmu dulu, selalu merupakan sumber kekhawatiranmu terbesar. Pemikiranku yang tak selalu sejalan denganmu, kerap membuatmu menangis. Tindakanku yang mungkin di hatimu salah, membuat kita kerap bersikeras pada mau kita masing-masing. Mama sayang.. semburat sinar mentari telah nampak di timur. Seperti pagi-pagi sebelumnya selama 26 tahun, setiap pagi tak lupa kubisikkan syukur engkau masih hadir di hidupku Juga di hari ini.. saat Allah masih menerbitkan surya di ufuk timur, dan mataku masih melihatmu hadir dalam hidupku..semua kalimatku tak dapat menggambarkan rasa syukurku. Dear mama.. selamat ulang tahun yaa ma. Semoga Allah SWT tetap memberikan kita semua umur panjang untuk selalu berada di jalan-Nya. Mama sayang.. jangan suka marah ya ma, Yaya kan udah besar dan tahu apa yang terbaik untuk aku.  Yaya |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
12:15:00 AM
|
|
|
|
|
|
Saturday, December 17, 2005 |
|
Selamat, kamu berhasil membunuh orang tersebut.
|
Kalau ingin membunuh orang yang tidak kamu sukai, tidak perlu pakai pisau yang tajam, keris atau bahkan senjata api. Cukup hadiahkan orang itu dengan kata-kata yang tajam dan menyakitkan. Selamat, kamu berhasil membunuh orang tersebut.
Beberapa hari belakangan ini, aku begitu merasakan kebenaran kalimat di atas. Tadinya, aku berusaha menghiraukan omongan-omongan orang yang kukira hanya ingin menjatuhkan mentalku saja. Yaah hitung-hitung ujian mental, pikirku. Kemudian kujuga berusaha untuk menanggapinya dengan kepala dingin. Kan, kata orang bijak..air susu jangan dibalas dengan air tuba. Tidak usahlah kita ikut-ikutan menebar emosi kita di atas emosi orang lain. Teriakan jangan dibalas dengan teriakan pula. Gak tau ya, mungkin aku menganut paham "biarlah orang berkata tidak benar tentang aku, toh InsyaAllah keluargaku dan orang-orang terdekatku lebih tahu tentang aku yang sebenarnya.." Walaupun paham itu terkadang membawaku ke dilema, harus menghadapi segalan omongan yang tidak benar itu..atau membiarkan waktu yang menjawab mana yang benar dan mana yang salah? Ada perkataan seorang ibu yang menyejukkanku. Ibu itu berkata, "ini Indonesia nak, jadi apa salahnya kita bicara pake kepala dengan membaca, memahami dan berpikir sekaligus pake hati. Biar tak saling menyakiti apalagi pake tuduh-tuduhan personal yg nyelekit."
Alhamdulillaah aku tetap berkepala dingin sampai detik ini. Tetap tersenyum dan..air tuba yang kuterima, tetap berusaha kubalas dengan air susu.
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
7:29:00 PM
|
|
|
|
|
|
Tuesday, December 13, 2005 |
|
Mulai hari ini, kita jalan sendiri-sendiri
|
Mulai hari ini, kita jalan sendiri-sendiri. Hidupmu dan aku biar pisah sampai di sini.
Maaf, waktu untuk mencintaimu telah usai. Aku telah berusaha menempati satu ruang di hatimu. Dan kali ini aku setuju denganmu. Kau..memang tak pantas untukku.
Kau berubah. Bukan, mungkin aku yang berubah. Waktu telah merubah aku, seperti yang kau bilang..semuanya tak sama lagi.
Maaf, aku menghabiskan waktumu, waktuku dan waktu kita..menganggap apa yang ada itu berharga. Menghabiskan waktu kita menyamakan kita kembali. Nyatanya, semuanya hanyalah bungkusan kepura-puraan.
Aku sudah lelah. Bukan, bukan aku menyerah dengan cinta aku. Kuhanya memberi jalan untuk sebuah kepastian..terutama untukku.
Sekarang waktuku..meyakini diriku..tak ada yang salah di aku. Aku dulu hanya terlalu buta untuk melihat kenyataan ini.
Bila kau bertemuku lagi, lepaskan kepura-puraanmu. Aku benci.
Mulai hari ini, kita jalan sendiri-sendiri..
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
6:34:00 PM
|
|
|
|
|
|
Sunday, December 11, 2005 |
|
Beli "nyaman" satu
|
"Berapa harga sebuah kenyamanan?"
Saya pernah nonton sebuah film, dan di situ ada satu scene yang menggambarkan seorang laki-laki dan seorang wanita duduk di sebuah taman. Wanita itu berkata, "this is comfortable (ini nyaman)."
Di tengah hiruk-pikuknya dunia sekarang ini, apalagi ditambah dengan tombol fast yang sepertinya selalu ada di diri kita masing-masing, selalu membuat kita in a rush..apakah kita masih bisa nyaman?
Apakah orang yang bekerja, misalnya, pergi ke kantor dengan baju yang rapih kadang mahal, pulang kantor bisa hang out sama teman kerjanya, ditambah dengan gajinya jutaan rupiah..mereka nyaman?
Saya tidak tahu pasti tentang hal itu. Bagi saya, perasaan nyaman itu mahal harganya. Saya mengidentifikasikan nyaman dengan kemampuan saya sendiri untuk menjadi diri sendiri.
Jadi ingat, beberapa bulan lalu saya berkumpul dengan teman-teman baru saya yang yaaah boleh dibilang tidak pernah ketemu sebelumnya. Saya merasa (jujur) kurang nyaman, entahlah..apa karena saya lagi terkena "sindrom pertemuan pertama dengan orang baru" atau karena saya harus memegang 2 peranan. Peranan sebagai saya seutuhnya dan peranan sebagai saya yang harus tampil sempurna di depan teman-teman baru itu?
Nyaman = perasaan aman?
Perasaan itulah yang saya rasakan sekarang ini, di kamar saya sendiri, memakai daster (iya, saya selalu dasteran kalau di rumah). Ngomong-ngomong soal daster, daster mama saya selalu yang paling nyaman dipakai.
Coba deh, kapan terakhir kali kamu merasa nyaman? |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
7:01:00 PM
|
|
|
|
|
|
Friday, December 09, 2005 |
|
Manusia tak terjangkau
|
Telah lama ia menghilang. Ya, saat tetesan tintaku telah mengering untuk menceritakannya lagi. Dulu mungkin itu yang terbaik kulakukan.
Melupakannya. Melupakan Manusia tak terjangkauku.
Apa yang bisa kuceritakan tentangnya?
Dia menyadarkanku untuk melihat langit. Mataku dulu hanya melihat langit..ya sekedar langit biru.
Kini kulihat langit dengan hati.
Semburat merah darah pernah bercipratan, menyilaukan mataku. Kemudian aku begitu terpukaunya dengan oranye yang begitu indah. Membuatku tersenyum, menyaksikan langit yang sedang bersolek.
Dulu langit..hanya langit bagiku. Kini, kuanggap di langit dia ada.. Dia masih ada
Di dalam hatiku, tak pernah pergi
Dia hanyalah manusia tak terjangkauku.. |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
7:23:00 AM
|
|
|
|
|
|
Tuesday, December 06, 2005 |
|
Rumah..di mana hatiku berada
|
Buat aku pribadi, rumah adalah tempat di mana aku bisa selalu pulang apapun yang terjadi, kapanpun aku mau dan darimanapun aku pergi. Rumah juga adalah tempat di mana seorang Yaya bisa tetap menjadi seorang Yaya, tanpa perlu mengenal kata sungkan.
Rumah aku di Jalan Cilosari I/ 29. Rumah aku di mana ada mama, papa, Kak Daeng, Mas Imran, Kak Nadia, Mas Saiful, Mbak Nanis, Mas Ferri, Hayyu, I'i, Walid, Isya dan Ayya. Rumahku di manapun keluargaku ada.
Dulu..itu satu-satunya rumah yang aku tahu.
Setahun yang lalu, tepat pada 24 September 2004 aku mengenal rumah keduaku.
Berawal dari sebuah kecintaan pada dunia tulis-menulis yang kutuangkan di sebuah rumah mayaku sendiri. Setelah sekian lama menuliskan apa yang hendak kukatakan, akupun memberanikan diri mengunjungi rumah maya orang lain. Dari satu orang, dua orang, sampai akhirnya saking banyaknya aku bertandang ke rumah maya orang lain..aku jadi lupa sendiri siapa ya sebenarnya akhirnya yang memperkenalkan rumah keduaku?
Tapi itu tidak penting. Karena begitu aku memperkenalkan diriku kepada keluarga keduaku, langsung aku merasakan kehangatan yang bukan sekedar basa-basi.
Kehangatan?
waah, agak terlalu berlebihan rasanya ya menyebutkan satu kata itu. Hmmm, menurutku sich enggak sama sekali.
Karena...
di sini, aku paling suka duduk-duduk di serambi.
Layaknya rumah sendiri, aku biasa duduk-duduk melepaskan lelah di situ, sembari mengenal anggota keluarga lain. Dari serambi inilah aku mendapatkan banyak sekali saudara baru, yang kupanggil dengan sebutan mas, abang, mbak, sister ataupun sayang. Aku juga sering jalan/ ngumpul bareng mereka. Tidak biasanya, tapi aku paling suka dengan bengkel yang di rumah ini, karena di sini banyak sekali saudaraku yang mau mengajarkan aku bagaimana cara mempercantik rumah mayaku. Makanya, rumahku terlihat cantik kaan sekarang? Hmmm, kalau bercerita tentang rumah kesayanganku ini sehari saja tidakkan cukup, apalagi hanya dengan beberapa paragraf saja. Sengaja kubuat tulisan sederhana ini khusus untuk rumah keduaku..keluarga keduaku... Yang beralamat di Blogfam. Kebetulan hari ini keluargaku berulangtahun yang kedua. Jadi, main-main ya ke rumahku. Nanti kukenalkan sama keluargaku..
Sebelum kuakhiri tulisan ini dengan titik..sebuah puisi untuk keluargaku.
Sebelum kutiupkan kedua lilin di atas kue tart ini
Ingin kuucapkan
semoga keluargaku berbahagia
semoga keluargaku akan tetap saling sayang
Blogfamku...keluargaku sayang aku sayang kalian
Terimakasih telah menjadi bagian dari diriku
 |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
12:05:00 AM
|
|
|
|
|
|
|