Wednesday, November 30, 2005

Manusia juga di sini

"Ya, gajinya berapa bulan ini?

Kusebutkan sejumlah angka.

"Sama nih sama aku. Dikit ya."

"Iya dikit." Atas nama solidaritas aku iyakan saja keluhan temanku.

"Kamu sih enak, gaji dikitpun gak masalah. Masih ada orangtua ini," cetus temanku lagi.

Susah payah kutahan mulut ini untuk meneriakkan, "APA? Jadi kamu pikir aku tinggal ongkang-ongkang kaki saja di rumah, hanya karena aku masih ada orangtua yang sehat walafiat???"

Sebaliknya, kusunggingkan senyuman di bibir dan berkata, "Ah, jangan begitu. Aku sama saja kok."

Ya Allah Yang Maha Mengetahui, kenapa masih saja ada orang yang berpikiran semudah itu. Melihat semuanya dari kulitnya saja.

Memang, setiap hari Alhamdulillah aku masih menemui kedua orangtuaku di rumah.
Memang, aku masih sering minta uang sama mereka.
Memang, aku satu-satunya anak papa dan mama yang masih belum menikah dan tinggal seatap dengan mereka.

Apa itu berarti gajiku tidak berarti?

Aku selalu berusaha menghargai setiap sen uang yang aku dapat dari hasil mengajar ataupun menterjemahkan.

Tidak perlu aku omongkan kan sama temanku?

Ya Allah, sabarkan hati ini untuk tidak perlu meneriakkan fakta-fakta itu di depan temanku.

Ya Allah, berikan aku kemampuan untuk tetap tersenyum menghadapi kalimat yang sama setiap bulannya.
Masa' aku harus menyanyikan lagu Seurius yang, "Yayaaaa juga manusiaaaaa......"

Kei..Aquariusku

"Akui, Kei."

"Tidak perlu!" angkuh, Kei berpaling membelakangiku.

Kei selalu begitu. Tak pernah mau mengakui. Sama dengan aku. Kita tidak pernah akan mengakui.

"Kalau begitu, biar aku duluan. Aku sayang kamu."

Sontak, Kei menghadapku. "Apa?"

"Dengar Kei! Aku..sayang..kamu." Kueja tiga kata itu perlahan.

"Kenapa? Bukankah kita hanya dua orang manusia yang kebetulan saling bertemu?"

Kei benar. Sekala pasir terbenam air laut di pantai sore itu, kita hanya kebetulan berpapasan. Kebetulan jugalah, kalau Kei seorang Aquarius yang ada dalam mimpi-mimpiku.

"Kau akan meninggalkanku..sama dengan yang lain." Begitu marahnya Kei.

Kei memang sebuah misteri. Sebuah introvert terbesarku.

"Aku bukan masa lalumu, Kei. Kenapa kau begitu takut dengan cintaku?" suaraku bersaing dengan deru angin yang mulai bertiup kencang malam ini di Pantai Nongsa.

"Aku bukan Aquariusmu!"

Apakah benar akulah Aquariusnya? gejolak, hati Kei.

"Terserah Kei, terserah." Lelah, aku melangkah meninggalkan pantai. Cukup sudah, aku mencoba yakinkan dia.

"Rumi..tunggu," tangan Kei menggapai tanganku.

Sekala matahari tenggelam sore ini

aku menemukan
Aquariusku


Batam, 30 November 2005

Monday, November 28, 2005

Din

Din.
kamu lihat tidak mendung sore tadi? Hawa kota Jakarta mendadak dingin dan berkabut. Tak terasa, aku menangis. Begitu saja. Tanpa aku dapat menahannya. Mungkin karena kutahu, hari inipun kamu tidak akan ada.

Aku tidak tahu, apakah ketidakadanya kamu membuatku tenang. Karena kamu sumber kekacauan di hatiku. Kupikir, saat kau pergi..semuanya akan kembali normal.

Din,
setiap sore melangkahkan kakiku di ruang itu, tak akan sama lagi. Aku merasa, hampa.
Iya, kamu selalu menjengahkan aku dengan tatapanmu. Iya, kamu selalu tahu apa yang ada di pikiranku. Dan kita selalu memiliki pemikiran yang sama.

Kamu yang di mata semua orang bukan orang yang baik. Tapi tidak aku. Aku lebih mengenal kamu. Aku tidak akan bisa melupakan kamu.

Din,
aneh sekali hari ini. Aku kangen sama kamu.

Chantique

Chantique, mengapa diam saja?

Sssshh...

Pelankan suaramu
Perlahankan langkahmu
Tahan emosimu

di sini

Ada yang lagi berbisik, bercengkrama asyik
dengan suara hati

Aku..

Tuesday, November 22, 2005

Biru

Untukmu, aku tidak perlu mengungkapkan karenaku. Kita memang telah berjarak dalam ruang dan waktu. Kubahkan tak dapat mengingat kapan terakhir kita bertemu. Yang kuingat malah saat kau tiba untukku.

Untukmu, langit tak berujung. Sama seperti di satu fajar, ketika aku akhirnya membasuh luka yang ditinggalkanmu. Begitu saja, tak mengenal lagi kata sakit yang telah terlalu lama dibiarkan.

Untukmu, sebait puisimu masih ada. Di dalam sini. Di satu sudut hatiku.

Untukmu, aku sempat menunda seluruh hidupku. Tidak sekalipun aku mengharap sebaliknya. Hidupku hanya perlu arah yang berbeda, menujumu.

Untukmu, kulupakan. Aku berjalan terus dan terus. Menganggap rasaku bukan yang kamu rasakan.

Untukmu, aku berkilah mengusir raguku sendiri. Saat kau inginkan sendiri. Tak perlu ada aku. Kutahu, sudah tak ada lagi yang perlu dipertahankan.

Untukmu, tidak perlu biru.

Monday, November 21, 2005

Cerpen: Selubung hati

"Via belum mau pulang ya Nang?" Sayup-sayup kudengar suara mama di ruang tamu. Ah, mama pasti lagi menelpon mas Danang, kakakku, entah untuk kesekian kalinya di minggu ini.

"Ya sudah, tidak papa." Suara mama mengakhiri pembicaraan telponnya dengan Mas Danang.
Kali ini terdengar isak mama. Kalau sudah begini, seperti yang sudah-sudah....

"Ma, sabar ya ma," aku masuk ke ruang tamu dan mengusap pundak mamaku.

"Eh San..kamu sudah pulang? kaget, mama buru-buru menyeka airmatanya.

"Iya ma, hari ini muridnya libur. Kak Via..belum bisa pulang ya ma?" aku bertanya, hati-hati.

Mama diam.

Tapi, akupun udah tahu jawabnya.

****************************************

Aku Santi, dan Via itu kakakku. Udah 3 tahun kak Via gak pulang ke rumah. Mas Danang, abangkulah yang jadi harapan aku dan mama untuk membawa kak Via kumpul lagi sama kita.


3 tahun yang lalu, di Jakarta

"PUAS PAK, PUASSS??? REZA MENINGGAL! Kecelakaan!! Itu kan yang papa mau??? Pagi itu kak Via histeris di depan papa, sambil mengacung-acungkan foto Mas Reza.

Mas Reza itu tunangannya kak Via. Seminggu yang lalu Mas Reza meninggal, kecelakaan di jalan tol, tepat semalam sebelum hari pernikahannya sama kak Via. Kak Via syok, menyalahkan papa atas meninggalnya mas Reza. Papa emang gak pernah setuju kak Via sama mas Reza. Alasan klise: beda status.

Hari itu juga kak Via keluar dari rumah, tinggal sama keluarganya mas Reza di Surabaya. Gak mau ketemu sama mama, apalagi papa. Cuman sama aku dan Mas Danang, kak Via mau ketemu.

**********************************************
Aku menyusul mas Danang ke Surabaya, membantu mencairkan hati kak Via.

"Kak, kakak sayang sama Santi kan?"

"Kakak sayang sekali sama kamu dan Danang. Kalian itu adek-adekku."

"Kalo gitu, mbo' pulang kak." Kali ini mas Danang, yang dari tadi diam, ikut angkat bicara.

Aku mencoba bertanya, "kakak masih benci sama papa?"

"Aku ndak benci sama papa. Aku hanya muak melihat keangkuhan papa."

"Papa dulu khilaf kak, papa ngaku salah." Kak, mas

Reza udah tenang di alam sana. Please let him go," Mas Danang memegang tangan kak Via.

"Maaf San, Nang..kakak belum bisa ikut kalian pulang."

*************************************************
Akhirnya aku dan mas Danang kembali ke Jakarta, tanpa kak Via. Ternyata hati kak Via lebih hancur daripada hati mama dan papa. Dan..baik aku maupun mas Danang gagal menyatukan hatinya kak Via.





Aku..Kemarin

Kemarin pagi, semuanya berjalan normal seperti biasanya (hampir).

"Apa ketakutan terbesarmu?"
Dulu aku tidak tahu jawabannya, sampai..

saat mendengar papaku mendapat kecelakaan seluruh tubuhnya tersengat tawon.

Pernah dengar ungkapan “The world freezes around you?”
Aku kemarin..

Melihat papaku terbaring dengan badan penuh dengan bekas gigitan tawon.
Mencoba untuk tidak nangis di depan papa.
Mencoba bilang ke mama supaya jangan nangis.
Mencoba untuk bilang ke diriku sendiri, Allah pasti nolong kita.

Kejadian kemarin adalah musibah dari Allah. Bisa terjadi sama siapa saja, mungkin kemarin itu giliran papa.
Aku yakin, semuanya ada hikmahnya. Mungkin papaku disuruh istirahat dulu sama Allah.

Ya Allah, berikanlah agar kita sekeluarga dapat sabar dan tawakal menjalani ujian dari-Mu. Amin...

Saturday, November 19, 2005

Jawab hati

Teriakku, "MAUMU APA?!"

Mauku

Kau akui

selalu kau nikmati insomniamu
sampai pagi menjemput

sehingga
malam terhabiskan
oleh semua alfabet
yang terhentak
di komputermu
hasil
dari kefrustasianmu sendiri

Mauku

kau sudahi
cara hidupmu
yang mengacu untuk dia, dia dan dia

Mauku

kau sadar
betapa berharganya dirimu
bukan cukup
tapi SANGAT


Mauku

kau periksa
isi hatimu sendiri

Masih ada tersisakah
tempat

untuk sebuah kejujuran
bagi dirimu sendiri


(tertegun, mendengar jawaban hatiku sendiri)

"Enggak pake lama."

"Iiiih, koq lama sich?" saya menggerutu menunggu koneksi internet yang tidak kunjung tersambung.

Hal yang sama tidak hanya terjadi sekali atau dua kali saja terhadap koneksi internet saya ini. Intinya..sudah biasa!

Seraya menunggu sambungan internet, saya mencoba mengerjakan hal lain (tetap di komputer). Seperti, mengatur folder-folder biar lebih rapih, mengerjakan pekerjaan terjemahan yang belum selesai, atau bahkan mencoba mengganti tampilan screensaver komputer saya.

Sejauh ini, itulah pilihan cara saya untuk mengalihkan pikiran dari "menunggu koneksi internet." Daripada marah-marah kan?

Ngomong-ngomong menunggu, ternyata ada lho "proses menunggu yang lain" yang lebih lama lagi. Contohnya...
menunggu "jodoh kita masing-masing."

Tunggu...tunggu...
ini bukan berarti saya tidak sabar lho, menunggu yang satu itu. Saya percaya kok, urusan yang satu itu udah ada yang ngatur

Tapi..ada juga orang yang males menunggu, dan akhirnya berakhir dengan seseorang (siapapun dia) yang bukan pilihannya dia. Kasian ya kalo udah begitu?

Kalau saya sih..memilih menunggu dan berusaha tentunya. Sambil menunggu, kan bisa melakukan hal lainnya di hidup saya. Lho, emangnya saya yang nulis ini masih berstatus sendiri? Eh, bukannya iklan lho *senyum Mode Menyala.

Coba, berani enggak berdoa sama Tuhan minta jodoh, tapi doanya diakhiri dengan kata-kata: "tapi, enggak pake lama ya Tuhan."

Thursday, November 17, 2005

Aku..selalu di sini

"Pergilah," tercekat...akhirnya perkataan itu keluar juga dari mulutku.

"Kamu..gak apa-apa?"

Aku menatapnya, seseorang yang selama bertahun-tahun kupanggil dengan sebutan abang.

"Pergilah bang..kalau memang ini yang terbaik."

"Aku ingin kamu bahagia," perkataan abang menyimpan nada ragu.

Aku akan bahagia," janjiku.

"Seandainya aku bisa..." tak dapat meneruskan perkataannya sendiri, ia memelukku lama.

Abang..kenapa harus memelukku untuk melepaskannya lagi? aku membatin.

Abang benar-benar pergi hari itu. Kalau saja hari itu aku memiliki sedikit saja keberanian, untuk menahannya. Tapi hati kecilku tahu, aku tidak mungkin melakukannya. Tidak adil untuk aku..ataupun abang.


Hari ini aku membuka sebuah album foto yang telah lama terabaikan. Di halaman depan tertempel foto kita berdua. Di bawahnya tertulis "saat indah kita."

Saat itu, hanya ada abang dan aku. Saat itu, dunia serasa merestui kita berdua. Saat itu, waktu serasa membeku bagi kita berdua. Saat itu, serasa sudah lama sekali.

Aku berbisik pelan, "pergilah bang..aku selalu di sini untukmu."

Mencintai atau Dicintai?

Aku sadar..pertanyaan itu seperti dua ujung tombak yang sama. Membuat diri siapapun terdiam, berpikir lama.

Pertanyaan serupa pernah ditanyakan di siaran penyiar radio terkenal beberapa tahun silam. Dan..bahkan seorang penyiar radio yang paling romantispun akhirnya mengakhiri siarannya dengan masih menyisakan tanda tanya besar tentang hal ini.

Aku ingin dicintai oleh orang yang aku cinta.

Mungkin...gak ada yang bilang gak mungkin. Tetapi jargon "Mencintai atau Dicintai?" lebih memiliki kekuatan yang besar sebelum akhirnya kedua hal itu bersatu.

Katanya..
mencintai seseorang itu sakit banget.

Bukannya, mau so' berpikir positif, tapi menurut aku bila kita tulus mencintai..cinta tidak akan sakit.

Ternyata..
dicintai oleh seseorangpun jauh lebih sakit. Apalagi bila "tidak balik cinta.."

Teringat akan perkataan seorang teman baik, "mungkin kita mendapat pilihan 'mencintai' dulu..karena Tuhan mau kita belajar ikhlas. Sehingga bila tiba saatnya kita dicintai oleh 'orang yang tepat.." semuanya akan terasa lebih indah."


Lihat..

tulisan akupun tidak menjawab pertanyaanku sendiri.

Jadi...
mencintai atau dicintai?

Wednesday, November 16, 2005

Salah?

Saat orang bilang aku tak layak bersama mereka..aku memilih diam.

Saat orang mencaci penampilan diriku yang berbeda..aku masih diam.

Saat orang membicarakan tentangku di belakangku..aku tetap diam.

Saat orang tak ingin bertemu dan berbicara denganku..aku bertahan dengan diamku.

Aku dengan kediamanku.

Mungkin aku lemah, tidak ingin merubah pandangan orang tentang aku.

Mungkin aku dinilai seorang yang kalah, sebelum maju membela apa yang menurutku benar.

Mungkin aku dianggap takut, menghadapi berbagai macam ketidakbenaran.

Tahu?

Aku tidak peduli tentang itu semua.

Salah?

Kalau diam adalah pilihanku.

Salah?

Bila memilih diam zona nyamanku.

Salah?

Ketika aku sudah tiba di titik kelelahanku..memperbaiki penilaian salah tentang aku.

Ini aku
..dengan diamku

Salah?

Monday, November 14, 2005

Malam ini...buat bintang

Bintang sayang

Kau tahu
aku sempat marah
sama kamu

Tidak mau
melihatmu lagi

Berhenti
menunggumu

Menganggap
kau
tidak pernah ada

Maaf..bintang

Aku terlalu egois

Ingin memilikimu
seutuhnya

Padahal
kau bukan milikku

Maaf..bintang

sebenarnya
kau ada

Dalam hatiku
masih

Selalu

Karena aku

sayang
sama bintang

Friday, November 11, 2005

Sesal

Kamu pernah bertemu dengan seseorang yang saat dia tidak ada lagi..kamu baru menyadari kalau kamu sayang banget sama orang itu?

Ya..kamu benar. Klise! Tapi keklisean inilah yang aku rasakan sekarang. Mirisnya, di saat dia dengan kehadirannya hampir setiap hari dalam hariku..tak menyadarkan aku dengan perasaanku sendiri. Setiap percakapan dengannya lewat begitu saja, tanpa ada harganya di depanku.

Sudah terlambat untuk aku. Dan untuk pertama kalinya penyesalan mau tak mau harus aku rasakan, untuk setiap hal dan perkataan yang belum aku lakukan dan katakan untuknya. Walaupun ingin meraih kembali saat itu.

Takkan ada lagi.

Hari itu
Jam itu
Menit itu
Detik itu

Saat itu...

Thursday, November 10, 2005

Selamat tinggal

6480 jam 388800 menit
berlalu

Menunggunya

Kini..

Kulepaskan
sebilas rindu ini

Kutinggalkan
sisa harap
yang ada

Kuusap
sakit
yang terasa

Kusisihkan
pandanganku darinya

Tanpa kata

..selamat tinggal

Wednesday, November 02, 2005

"Mungkin aku bukan komunitas kamu..."

Kira-kira seminggu yang lalu ada sebuah pesan masuk di handphone saya. Pesannya bernada akrab. Tapi saya jadi bingung karena nomer tersebut tidak terdapat di memory handphone saya (sehubungan dengan keterbatasan memory Hape), maka saya membalas dan dengan sopan bertanya identitas pengirim pesan tadi.

Tahunya, pesan tadi berasal dari seorang teman (yang memang baru pertama kali bertemu). Sebenarnya tidak masalah siapa pengirim pesan itu, tapi jawaban teman saya itu membuat saya sedikit tercenung.

"Mungkin aku bukan komunitas kamu..."

Dari kecil sampai sekarang, saya dibesarkan di keluarga yang mengajarkan untuk tidak memilih-milih dari luarnya saja dalam berteman. Dan dengan berjalannya waktu, sayapun menjadi lebih dewasa...saya berusaha untuk berteman baik dengan siapa saja.

Jujur, saya merasa divonis memilih-milih teman. Yaah, mungkin saja ini hanya masalah kesenjangan komunikasi saja. Saya termasuk orang yang lebih gampang mengingat seseorang bila telah bertemu muka langsung, daripada mengingat namanya.

Di malam takbir bergema di mana-manpun, saya mendapat beberapa pesan yang tidak terdaftar di handphone. Tak ada jalan lain, kecuali saya menelpon nomer itu kembali. Dan ternyata...teman saya yang sudah 2 tahun tidak berhubungan lagi.

Alhamdulillaah...tali silaturahmi terjalin kembali.

Tetapi malam ini saya merasa bersalah sekali, karena saya kembali melontarkan kalimat serupa untuk teman saya. Hanya karena saya dihinggapi perasaan kesal karena teman saya itu tidak pernah mau diajak bertemu dengan teman-teman yang lain. Maaf, saya tidak berhak untuk menilai kamu.

"Mungkin aku bukan komunitas kamu..."

tapi...

Seiring dengan Idul Fitri 1 Syawal 1426 H, saya mengucapkam Mohon Maaf Setulus Hati saya, mohon dibukakan ruang maaf yang selebar-lebarnya..



Iya..."Mungkin aku bukan komunitas kamu..."

tapi...

aku tidak pernah menganggap kamu bukan komunitas aku.