|
| |
|
Thursday, January 26, 2006 |
|
Untuk Januari yang masih setia
|
Desember membawa pergi jalinan rasa di kalbu
Begitu saja ...
Tanpa titik..tanpa koma
Sesaat Januari hadir membawa seberkas harap
Masih tak berujung
Apakah harus berakhir?
Seorang Januari masih ada
Kembali dengan rindu
pada puisi tentang introvert
Seorang Januari masih ada
Kembali pada janji
untuk tidak pernah berhenti
Biar bisu mengunci hati
Ia sudah tersingkap lama
Hanya masih bertahan untuk tidak merasakan lagi
Tetap
Hati masih mengikat janji
untuk mencoba mencinta |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
1:03:00 PM
|
|
|
|
|
|
Saturday, January 21, 2006 |
|
Dia..untuk kadoku?
|
0818479xxx: kamu mau kado apa?
kutatap layar telpon genggamku lama. Ingin kujawab singkat: aku ingin kamu.
Tapi..rasanya aku belum siap memintanya. Bukan karena aku belum mengenalnya.
Aku mengenalnya. Dia di balik kameranya, yang kulihat adalah kesan misteriusnya.
Aku mengenalnya. Dia yang selalu membuatku tersenyum. Lewat pembicaraan dengannya, lewat pesan-pesan singkatnya.
Aku mengenalnya. Dia yang membuatku nyaman.
Tapi..dia yang akan menyelesaikan kalimatku? hmmm..belum sekarang mungkin.
Reply: aku tidak perlu kado. Cukup kamu datang besok yaa..
send to 0818479xxx
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
5:56:00 PM
|
|
|
|
|
|
Friday, January 20, 2006 |
|
Percakapan di antara rasa
|
Naira: kangen
Araya: sama bintang lagi?
Naira: Iyah
Araya: katanya mau cari bintang lain?
Naira: aku udah coba cari bintang lain.
Araya: lalu? katanya waktu itu udah ada?
Naira: ternyata aku belum bisa melupakan bintang yang dulu, biarpun aku dan dia jaraknya jauh sekali.
Araya: katakan saja isi hatimu sama bintang.
Naira: kalau semudah itu, sudah dari dulu kukatakan.
Araya: jangan dipersulit, katakan saja. Jujurlah sekali-kali dengan hatimu sendiri.
Naira: kadang jujur sama orang lain lebih mudah ya, daripada sama hati sendiri.
Araya: Itulah manusia.
Naira: Bukan, itulah aku.
Araya: Ya sudah, lupakan bintang.
Naira: kamu tahu tidak? Kamu itu adalah orang yang kesekian kalinya yang ngasih nasihat sama ke aku.
Araya: jadi?
Naira: jawabku masih sama: bukannya aku tidak mau, tapi..
Araya: tapi apa? jangan-jangan kamu hanya memberi alasan untuk mengijinkan hatimu supaya tidak pernah lupa sama bintang.
Naira: gimana aku bisa melupakannya?
Araya: pertanyaan itu hanya kamu yang bisa jawab. |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
8:49:00 AM
|
|
|
|
|
|
Wednesday, January 18, 2006 |
|
Beku..diam
|
Serpihan kenangan yang telah berserak di setiap sudut hatiku, mulai mengumpul kembali. Jiwaku kembali mengumpulkan sejumput keberanian untuk menghadapi kenyataan, yang kini entah berasa apa. Hati mulai berani untuk mengenang kembali, juga menghilangkan semua "andai.."
Terkadang, hatiku begitu beku tak dapat merasakan apa-apa. Tak apa, kan? Tak ingin kupaksakan hati untuk merasa lagi
Biar beku Biar diam
Biarkan hati merasakan apa yang diinginkannya.
Terkadang, kuinginkan pekat malam terus menyelubungi. Tapi, tidak dapat begitu kan? Hidup tidak seperti itu.
Pagi dan malam datang dengan membawa alasan untukku tetap hidup. Udara, sebuah berkah dari Ilahi, harus kusyukuri dan kuhirup.
Biarpun kadang udara begitu sesak kuhirup
Biarpun kadang aku tak dapat bernafas udaraku sendiri
Biarpun kadang aku lupa bagaimana tak bernafas udaramu
Sepertinya serpihan-serpihan itu tak membiarkanku membersihan diriku dari mereka Sepertinya udaramu masih bercampur dengan udaraku.
Aku benci
beku.. diam..
Tapi ini pilihanku sekarang. Tak peduli apa penilaian orang terhadapku. Kini pilihanku untuk tidak membiarkan orang lain menilaiku, termasuk kamu. Kini pilhanku untuk tidak ataupun sama denganmu.
Pilihanku, bukan kamu, bukan dia, bukan siapapun..
Biarkanku
beku..diam.. |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
2:07:00 PM
|
|
|
|
|
|
Thursday, January 12, 2006 |
|
Sekelumit cerita
|
Wajah mungil itu sedang pulas terlelap, tak menyadari ada sepasang mata yang memandangnya dari luar jendela ruang bayi. Rina, seorang wanita dua puluh lima tahun sedang memandang bayinya dengan diliputi oleh perasaan lara yang amat sangat. Perasaanya berperang di dalam hatinya. Ia tahu, ia harus memilih cepat atau lambat.
Rina harus memilih antara suaminya atau bayinya.
****************************** "Apa yang harus kita lakukan To?" Rina menangis dalam pelukan Tito, suaminya.
"Maafkan aku sayang. Maafkan aku."
Pagi itu Rina dan Tito dihadapkan pada selembar kertas. Bukan kertas biasa, kertas yang dapat mengubah seluruh hidup mereka kelak.
***************************** "Kamu boleh kembali dengan suamimu Rina."
"Benar ma?" Rina seolah tak percaya, hati mamanya yang dulu sekeras batu kini mencair. Mamanya yang dulunya selalu menganggap Tito tidak lebih dari sekedar hambatan dalam hidup Rina. Mama yang tadinya tidak menerima Tito hanya karena Tito tidak sedarah dengan Keluarga Besar Andi Mattalitti??
Pikiran alam bawah sadar Rina terpotong oleh perkataan mama, "Dengan satu syarat."
"Syarat? Maksud mama?"
"Setelah bayimu lahir, serahkan dia untuk diadopsi."
Ucapan mama seperti petir di siang hari bagi Rina.
"MAMA GILA! Aku mengandung anakku selama 9 bulan untuk diserahkan ke orang lain??? TIDAK AKAN MA!! AKU TIDAK AKAN MENYERAHKAN ANAKKU!!!"
"Rina!!! Mau kamu kasih makan apa anakmu??? Kuliahmupun belum selesai, begitu juga Tito. Dia lebih baik dirawat oleh orang lain." Mama begitu tegas, tak bergeming melihat Rina putri semata wayangnya histeris.
************************************** Hari ini, 25 Agustus 1998 seorang bayi perempuan lahir di RS Bunda. Kinipun Rina harus mengambil keputusan terberat dalam hidupnya.
"Kita tidak akan bisa melihat anak kita lagi To. Selamanya.." isak Rina.
"Sayang, kuasa Tuhan kita tidak akan pernah tahu. Anak kita berhak untuk dapat kehidupan yang layak."
******************************************* "Saya Cyntia Manungkalit, Kuasa Hukum dari Ibu dan Bapak Renaldi."
Hari ini seorang pengacara datang mengantarkan selembar surat adopsi untuk Rina dan Tito tandatangan.
Setelah semua urusan legal selesai..
"Saya ingin menitipkan surat ini untuk Ibu dan Bapak Renaldi," ucap Rina kepada Pengacara itu.
"Ibu jangan kuatir, anak ibu dan bapak berada di asuhan orang baik-baik." Pengacara itu tersenyum, berusaha membesarkan hati Rina.
"Maafkan mama dan papa sayang. Maafkan kami." Buliran air mata mengalir saat Rina dan Tito mencium putri mereka untuk terakhir kalinya.
********************************************* Yth. Ibu dan Bapak Renaldi..
Kami serahkan putri kami untuk bapak dan ibu rawat. Kami percayakan bapak dan ibu untuk membesarkan putri kami untuk menjadi putri yang salehah dan berbakti pada orang tuanya.
Kami juga berjanji untuk tidak akan pernah menuntut balik putri kami.
Hanya satu yang kami minta, bila ibu dan bapak mengijinkan bila putri kami beranjak dewasa..tolong kasih lihat foto kami.
Rina dan Tito
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
9:53:00 PM
|
|
|
|
|
|
Tuesday, January 10, 2006 |
|
Selamat jalan temanku
|
Tidak usah kuingat kapan kita berpisah, tapi aku akan selalu ingat kenapa kita dapat bertemu awalnya.
Berawal dari sebuah email (kalau tidak salah) 3 tahun lalu. Kau ungkapkan kesedihanmu berpisah dengan sahabat dekatmu. Berawal dengan telepon dariku. Lucu, dulu kau mengira aku seorang lelaki yang mencoba mendekatimu. Berawal dari sebuah obrolan yang beranjak menjadi obrolan yang akrab.
Aku ingat, kau yang menghiburku saat kuadukan tentang keresahanku mengenai abang. Kau yang memberiku semangat untuk jangan patah semangat sama abang. Kau yang selalu menemaniku di ujung tali telepon di seberang sana, walaupun malam semakin larut dan kita kehabisan bahan obrolan.
Aku ingat, kau dengan kecintaanmu dengan grup band Naif. Kau dengan segala kecuekanmu, tetapi kau begitu baik dan tulus.
Aku tidak ingin mengingat kapan kita berpisah. Walaupun di Zuhur ini, kita harus berpisah.
Allah SWT telah begitu merindukanmu, dan memanggilmu kembali ke sisi-Nya.
Selamat jalan, Andia. Thank you for keep me going at that time. |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
6:09:00 PM
|
|
|
|
|
|
Monday, January 09, 2006 |
|
Hidup tegar berduamu
|
"Kamu tahu, aku sangat mencintaimu..juga sangat membencimu."
Akhirnya kutemukan kalimat yang pantas, menggambarkan isi hatiku padanya. Malam itu langit cerah tak berawan sedikitpun. Tapi ungkapan hatiku sendiri mengusungku kepada kenyataan yang kuutarakan dengan keras. Udara membawa dingin menyergap relung-relung jiwaku.
Mungkin inilah jawaban dari Sang Pemilik Segala Cinta, untuk membawaku jauh dari perasaanku kepadanya. Ya, aku masih di sini. Biarpun kini rasa cinta dan benci sedang saling bertabrakan di diriku. Aku harus mengikis kebencianku, sisakan doa saja untuknya. Ya, doa. Untuk seseorang yang membuatku dapat merasakan cinta dan benci sekaligus.
0817124xxx: besok datang ya ke rumahku, ada halal-bihalal :)
message send to 0818479xxx
"Tidak perlu hidup tegar sendirian, kalau kita bisa hidup bersama berdua." |
reflected by
Nahria Medina Marzuki
8:37:00 AM
|
|
|
|
|
|
Friday, January 06, 2006 |
|
What is love, anyway?
|
Love is accepting someone for what and who he is
Love is being able to forgive someone for what he has done to you
Love is never questioning
Love is being able to smile, though knowing something bad about someone you love
Love is keep praying for someone you love, even he has gone
Love is being grateful because he is still alive and happy, although not with you
Love is never stop believing in him
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
8:57:00 PM
|
|
|
|
|
|
Thursday, January 05, 2006 |
|
Sebelum malam undur diri
|
Aku tidak menyesal semuanya berakhir. Juga tidak pada saat dulu, di mana semuanya berawal.
Aku tidak akan meyia-nyiakan sisa hidupku untuk bertanya. Semuanyapun sudah jelas, bukan? Sesi tanya-jawab telah berakhir.
Jangan pernah kamu bilang "aku tidak mencoba.."
Aku tidak ingin lagi ditemani bintang, yang katanya selalu hadir untukku. Bintang yang di setiap malam selalu berkelip untukku. Bintang yang setia untukku..dst..dst..dst.
Semuanya hanyalah kamuflase sebuah kemunafikan! Dan aku tidak butuh kemunafikan.
Bahkan aku sendiri, seseorang yang menumpahruahkan perasaanku dengan memaksakan semua jariku untuk tidak pernah berhenti berhentak. Aku..
Aku selalu bersembunyi di balik alasan yang menyenangkan hatiku sendiri. Kubuang jauh semua yang sebaliknya.
Aku tidak takut..
Tidak takut?
dengar..dengaaar..!!
Hati kecilku sedang terbahak-bahak mendengarnya! Bahkan untuk menyuarakan isi hatiku sendiripun, segala dalih dan segala bentuk ungkapan masih kupakai.
Sebelum ini, akukan menyeka air mataku. Dan akukan berkata pada diriku sendiri, "gadis bodoh..jangan menangis. Ayo tegar. Dia tidak akan datang lagi. Hadapi itu."
Malam ini, hatiku terkunci rapat untuk mengatakan hal yang sama. Hanya hatiku yang kembali berbisik, "hadapi itu."
Juga airmataku tak kuasa kumenahannya.
Tuhan..kuatkan hatiku, tolong.
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
12:32:00 AM
|
|
|
|
|
|
Sunday, January 01, 2006 |
|
Ujung waktu
|
Di ujung waktu ini tak ada lagi yang dapat kuucapkan
atau berharap tak kuucapkan bahkan kembali ke dulu.
Yang telah lewat..ya lewat
Di ujung waktu ini
aku berdiri tidak di tepian
walau kalbuku begitu terusik oleh banyaknya yang kurasakan walau Semua rasaku tumpang tindih, saling menimpa.
Di ujung waktu ini begitu sulit melepaskan eratan genggaman tanganku
Bukan untuk melepaskan..tapi
MELUPAKAN
Satu kata yang kuhindari. Rasanya lebih sakit untuk melupakan, berpura-pura semuanya tak pernah terjadi. Berpura-pura tak ada apapun.
Kembali ke titik nol
Dan setelah Tuhan mempertemukan aku dengannya untuk terakhir kalinya. Sepertinya Sang Khalik memberiku kesempatan terakhir untuk mengucap bukan selamat tinggal, tapi..sampai nanti.
Nanti..entah kapan
Sekarang saatku
Memulai yang baru
|
reflected by
Nahria Medina Marzuki
12:05:00 AM
|
|
|
|
|
|
|
|