Redlicious Campaign
Photobucket
Contact Me

Me, mine & My Family
Inside My world

blognya kakak iparnya Yaya


Inspirations


Hi there :)
Name :
Web URL :
Message :
Previously
Aksara mengeja maaf
Mengais kenangan
Antara aku, indent, Lebaran dan keluarga
Kalau emang harus mundur
Jangan ngalah sebelum berjuang
DREAM BIG
Menembus "bulan sulit"
They're not my downlines, but..
Finding your own Nemo
Belahan jiwa
Archivess
August 2004
September 2004
October 2004
November 2004
December 2004
January 2005
February 2005
March 2005
April 2005
May 2005
June 2005
July 2005
August 2005
September 2005
October 2005
November 2005
December 2005
January 2006
February 2006
March 2006
April 2006
May 2006
June 2006
July 2006
August 2006
September 2006
October 2006
November 2006
December 2006
January 2007
February 2007
March 2007
April 2007
May 2007
June 2007
July 2007
August 2007
September 2007
October 2007
November 2007
December 2007
January 2008
February 2008
March 2008
April 2008
May 2008
July 2008
August 2008
September 2008
October 2008
November 2008
January 2009
February 2009
March 2009
May 2009
June 2009
July 2009
September 2009
October 2009
Awards
Menang lagi

juarafavorit

BF Girl

Happy B'day Indonesia

Aktivis Kopdar Blogfam '05

Fun Stuff
thank you :)
The Writers
Friends' Banners
Dhira dan Lia




Ebook Gratis
ebook-bisnisonline
Communities
banner150x26orange





banner angingmammiri
Siap bergabung?
click me
Thanks to
Free Blogger Templates

BLOGGER

 
Thursday, January 26, 2006
Untuk Januari yang masih setia
Desember membawa pergi
jalinan rasa
di kalbu

Begitu saja
...

Tanpa titik..tanpa koma

Sesaat Januari hadir
membawa
seberkas harap

Masih
tak berujung

Apakah harus berakhir?

Seorang Januari
masih ada

Kembali
dengan rindu

pada puisi
tentang introvert

Seorang Januari
masih ada

Kembali
pada janji

untuk tidak pernah berhenti


Biar bisu mengunci hati

Ia sudah tersingkap
lama

Hanya masih bertahan
untuk tidak merasakan lagi

Tetap

Hati masih mengikat janji

untuk mencoba
mencinta

reflected by Nahria Medina Marzuki
1:03:00 PM
|
Saturday, January 21, 2006
Dia..untuk kadoku?
0818479xxx: kamu mau kado apa?

kutatap layar telpon genggamku lama. Ingin kujawab singkat: aku ingin kamu.

Tapi..rasanya aku belum siap memintanya. Bukan karena aku belum mengenalnya.

Aku mengenalnya. Dia di balik kameranya, yang kulihat adalah kesan misteriusnya.

Aku mengenalnya. Dia yang selalu membuatku tersenyum. Lewat pembicaraan dengannya, lewat pesan-pesan singkatnya.

Aku mengenalnya. Dia yang membuatku nyaman.

Tapi..dia yang akan menyelesaikan kalimatku?
hmmm..belum sekarang mungkin.

Reply: aku tidak perlu kado. Cukup kamu datang besok yaa..

send to 0818479xxx



reflected by Nahria Medina Marzuki
5:56:00 PM
|
Friday, January 20, 2006
Percakapan di antara rasa
Naira: kangen

Araya: sama bintang lagi?

Naira: Iyah

Araya: katanya mau cari bintang lain?

Naira: aku udah coba cari bintang lain.

Araya: lalu? katanya waktu itu udah ada?

Naira: ternyata aku belum bisa melupakan bintang yang dulu, biarpun aku dan dia jaraknya jauh sekali.

Araya: katakan saja isi hatimu sama bintang.

Naira: kalau semudah itu, sudah dari dulu kukatakan.

Araya: jangan dipersulit, katakan saja. Jujurlah sekali-kali dengan hatimu sendiri.

Naira: kadang jujur sama orang lain lebih mudah ya, daripada sama hati sendiri.

Araya: Itulah manusia.

Naira: Bukan, itulah aku.

Araya: Ya sudah, lupakan bintang.

Naira: kamu tahu tidak? Kamu itu adalah orang yang kesekian kalinya yang ngasih nasihat sama ke aku.

Araya: jadi?

Naira: jawabku masih sama: bukannya aku tidak mau, tapi..

Araya: tapi apa? jangan-jangan kamu hanya memberi alasan untuk mengijinkan hatimu supaya tidak pernah lupa sama bintang.

Naira: gimana aku bisa melupakannya?

Araya: pertanyaan itu hanya kamu yang bisa jawab.

reflected by Nahria Medina Marzuki
8:49:00 AM
|
Wednesday, January 18, 2006
Beku..diam
Serpihan kenangan yang telah berserak di setiap sudut hatiku, mulai mengumpul kembali. Jiwaku kembali mengumpulkan sejumput keberanian untuk menghadapi kenyataan, yang kini entah berasa apa. Hati mulai berani untuk mengenang kembali, juga menghilangkan semua "andai.."

Terkadang, hatiku begitu beku tak dapat merasakan apa-apa. Tak apa, kan? Tak ingin kupaksakan hati untuk merasa lagi

Biar beku
Biar diam

Biarkan hati merasakan apa yang diinginkannya.

Terkadang, kuinginkan pekat malam terus menyelubungi. Tapi, tidak dapat begitu kan? Hidup tidak seperti itu.

Pagi dan malam datang dengan membawa alasan untukku tetap hidup. Udara, sebuah berkah dari Ilahi, harus kusyukuri dan kuhirup.

Biarpun kadang udara begitu sesak kuhirup

Biarpun kadang aku tak dapat bernafas udaraku sendiri

Biarpun kadang aku lupa bagaimana tak bernafas udaramu

Sepertinya serpihan-serpihan itu tak membiarkanku membersihan diriku dari mereka Sepertinya udaramu masih bercampur dengan udaraku.

Aku benci

beku..
diam..

Tapi ini pilihanku sekarang. Tak peduli apa penilaian orang terhadapku. Kini pilihanku untuk tidak membiarkan orang lain menilaiku, termasuk kamu. Kini pilhanku untuk tidak ataupun sama denganmu.

Pilihanku, bukan kamu, bukan dia, bukan siapapun..

Biarkanku

beku..diam..

reflected by Nahria Medina Marzuki
2:07:00 PM
|
Thursday, January 12, 2006
Sekelumit cerita
Wajah mungil itu sedang pulas terlelap, tak menyadari ada sepasang mata yang memandangnya dari luar jendela ruang bayi. Rina, seorang wanita dua puluh lima tahun sedang memandang bayinya dengan diliputi oleh perasaan lara yang amat sangat. Perasaanya berperang di dalam hatinya. Ia tahu, ia harus memilih cepat atau lambat.

Rina harus memilih antara suaminya atau bayinya.

******************************
"Apa yang harus kita lakukan To?" Rina menangis dalam pelukan Tito, suaminya.

"Maafkan aku sayang. Maafkan aku."

Pagi itu Rina dan Tito dihadapkan pada selembar kertas. Bukan kertas biasa, kertas yang dapat mengubah seluruh hidup mereka kelak.

*****************************
"Kamu boleh kembali dengan suamimu Rina."

"Benar ma?" Rina seolah tak percaya, hati mamanya yang dulu sekeras batu kini mencair. Mamanya yang dulunya selalu menganggap Tito tidak lebih dari sekedar hambatan dalam hidup Rina. Mama yang tadinya tidak menerima Tito hanya karena Tito tidak sedarah dengan Keluarga Besar Andi Mattalitti??

Pikiran alam bawah sadar Rina terpotong oleh perkataan mama, "Dengan satu syarat."

"Syarat? Maksud mama?"

"Setelah bayimu lahir, serahkan dia untuk diadopsi."

Ucapan mama seperti petir di siang hari bagi Rina.

"MAMA GILA! Aku mengandung anakku selama 9 bulan untuk diserahkan ke orang lain??? TIDAK AKAN MA!! AKU TIDAK AKAN MENYERAHKAN ANAKKU!!!"

"Rina!!! Mau kamu kasih makan apa anakmu??? Kuliahmupun belum selesai, begitu juga Tito. Dia lebih baik dirawat oleh orang lain." Mama begitu tegas, tak bergeming melihat Rina putri semata wayangnya histeris.

**************************************
Hari ini, 25 Agustus 1998 seorang bayi perempuan lahir di RS Bunda. Kinipun Rina harus mengambil keputusan terberat dalam hidupnya.

"Kita tidak akan bisa melihat anak kita lagi To. Selamanya.." isak Rina.

"Sayang, kuasa Tuhan kita tidak akan pernah tahu. Anak kita berhak untuk dapat kehidupan yang layak."

*******************************************
"Saya Cyntia Manungkalit, Kuasa Hukum dari Ibu dan Bapak Renaldi."

Hari ini seorang pengacara datang mengantarkan selembar surat adopsi untuk Rina dan Tito tandatangan.

Setelah semua urusan legal selesai..

"Saya ingin menitipkan surat ini untuk Ibu dan Bapak Renaldi," ucap Rina kepada Pengacara itu.

"Ibu jangan kuatir, anak ibu dan bapak berada di asuhan orang baik-baik." Pengacara itu tersenyum, berusaha membesarkan hati Rina.

"Maafkan mama dan papa sayang. Maafkan kami." Buliran air mata mengalir saat Rina dan Tito mencium putri mereka untuk terakhir kalinya.

*********************************************
Yth. Ibu dan Bapak Renaldi..

Kami serahkan putri kami untuk bapak dan ibu rawat. Kami percayakan bapak dan ibu untuk membesarkan putri kami untuk menjadi putri yang salehah dan berbakti pada orang tuanya.

Kami juga berjanji untuk tidak akan pernah menuntut balik putri kami.

Hanya satu yang kami minta, bila ibu dan bapak mengijinkan bila putri kami beranjak dewasa..tolong kasih lihat foto kami.


Rina dan Tito

reflected by Nahria Medina Marzuki
9:53:00 PM
|
Tuesday, January 10, 2006
Selamat jalan temanku
Tidak usah kuingat kapan kita berpisah, tapi aku akan selalu ingat kenapa kita dapat bertemu awalnya.

Berawal dari sebuah email (kalau tidak salah) 3 tahun lalu. Kau ungkapkan kesedihanmu berpisah dengan sahabat dekatmu. Berawal dengan telepon dariku. Lucu, dulu kau mengira aku seorang lelaki yang mencoba mendekatimu. Berawal dari sebuah obrolan yang beranjak menjadi obrolan yang akrab.

Aku ingat, kau yang menghiburku saat kuadukan tentang keresahanku mengenai abang. Kau yang memberiku semangat untuk jangan patah semangat sama abang. Kau yang selalu menemaniku di ujung tali telepon di seberang sana, walaupun malam semakin larut dan kita kehabisan bahan obrolan.

Aku ingat, kau dengan kecintaanmu dengan grup band Naif. Kau dengan segala kecuekanmu, tetapi kau begitu baik dan tulus.

Aku tidak ingin mengingat kapan kita berpisah. Walaupun di Zuhur ini, kita harus berpisah.

Allah SWT telah begitu merindukanmu, dan memanggilmu kembali ke sisi-Nya.

Selamat jalan, Andia. Thank you for keep me going at that time.

reflected by Nahria Medina Marzuki
6:09:00 PM
|
Monday, January 09, 2006
Hidup tegar berduamu
"Kamu tahu, aku sangat mencintaimu..juga sangat membencimu."

Akhirnya kutemukan kalimat yang pantas, menggambarkan isi hatiku padanya. Malam itu langit cerah tak berawan sedikitpun. Tapi ungkapan hatiku sendiri mengusungku kepada kenyataan yang kuutarakan dengan keras. Udara membawa dingin menyergap relung-relung jiwaku.

Mungkin inilah jawaban dari Sang Pemilik Segala Cinta, untuk membawaku jauh dari perasaanku kepadanya. Ya, aku masih di sini. Biarpun kini rasa cinta dan benci sedang saling bertabrakan di diriku. Aku harus mengikis kebencianku, sisakan doa saja untuknya. Ya, doa. Untuk seseorang yang membuatku dapat merasakan cinta dan benci sekaligus.


0817124xxx: besok datang ya ke rumahku, ada halal-bihalal :)

message send to 0818479xxx


"Tidak perlu hidup tegar sendirian, kalau kita bisa hidup bersama berdua."

reflected by Nahria Medina Marzuki
8:37:00 AM
|
Friday, January 06, 2006
What is love, anyway?
Love is
accepting someone for what and who he is

Love is
being able to forgive someone for what he has done to you

Love is
never questioning

Love is
being able to smile, though knowing something bad about someone you love

Love is
keep praying for someone you love, even he has gone

Love is
being grateful because he is still alive and happy, although not with you

Love is
never stop believing in him


reflected by Nahria Medina Marzuki
8:57:00 PM
|
Thursday, January 05, 2006
Sebelum malam undur diri
Aku tidak menyesal semuanya berakhir. Juga tidak pada saat dulu, di mana semuanya berawal.

Aku tidak akan meyia-nyiakan sisa hidupku untuk bertanya. Semuanyapun sudah jelas, bukan? Sesi tanya-jawab telah berakhir.

Jangan pernah kamu bilang "aku tidak mencoba.."

Aku tidak ingin lagi ditemani bintang, yang katanya selalu hadir untukku. Bintang yang di setiap malam selalu berkelip untukku. Bintang yang setia untukku..dst..dst..dst.

Semuanya hanyalah kamuflase sebuah kemunafikan! Dan aku tidak butuh kemunafikan.

Bahkan aku sendiri, seseorang yang menumpahruahkan perasaanku dengan memaksakan semua jariku untuk tidak pernah berhenti berhentak. Aku..

Aku selalu bersembunyi di balik alasan yang menyenangkan hatiku sendiri. Kubuang jauh semua yang sebaliknya.

Aku tidak takut..

Tidak takut?

dengar..dengaaar..!!

Hati kecilku sedang terbahak-bahak mendengarnya! Bahkan untuk menyuarakan isi hatiku sendiripun, segala dalih dan segala bentuk ungkapan masih kupakai.

Sebelum ini, akukan menyeka air mataku. Dan akukan berkata pada diriku sendiri, "gadis bodoh..jangan menangis. Ayo tegar. Dia tidak akan datang lagi. Hadapi itu."

Malam ini, hatiku terkunci rapat untuk mengatakan hal yang sama. Hanya hatiku yang kembali berbisik, "hadapi itu."

Juga airmataku tak kuasa kumenahannya.

Tuhan..kuatkan hatiku, tolong.

reflected by Nahria Medina Marzuki
12:32:00 AM
|
Sunday, January 01, 2006
Ujung waktu
Di ujung waktu ini
tak ada lagi yang dapat kuucapkan

atau berharap tak kuucapkan
bahkan kembali ke dulu.

Yang telah lewat..ya lewat

Di ujung waktu ini

aku berdiri
tidak di tepian

walau
kalbuku begitu terusik
oleh banyaknya yang kurasakan
walau
Semua rasaku tumpang tindih, saling menimpa.

Di ujung waktu ini
begitu sulit melepaskan eratan genggaman tanganku

Bukan untuk melepaskan..tapi

MELUPAKAN

Satu kata yang kuhindari. Rasanya lebih sakit untuk melupakan, berpura-pura semuanya tak pernah terjadi. Berpura-pura tak ada apapun.

Kembali ke titik nol

Dan setelah Tuhan mempertemukan aku dengannya untuk terakhir kalinya. Sepertinya Sang Khalik memberiku kesempatan terakhir untuk mengucap bukan selamat tinggal, tapi..sampai nanti.

Nanti..entah kapan

Sekarang saatku

Memulai yang baru



reflected by Nahria Medina Marzuki
12:05:00 AM
|